Kemarin siang, di dalam sebuah metromini yang sedang berhenti mencari penumpang, di depan persipanag lebak bulus. Tiga bocah kecil berkejaran mendekati metromini yang saya tumpangi. Lalu dua diantaranya melompat ke dalam metromini, sembari tetap bersendagurau dengan satu temannya yang duduk di tepi trotoar.
Salah satu diantara mereka, seorang bocah laki-laki yang kutaksir berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun, memberikan salamnya kepada penumpang metromini. Kemudian bocah lainnya, yang nampaknya berusia lebih muda mulai menyanyikan sebuah lagu milik sebuah grup band baru yang sedang naik daun. Suara mereka bersahut-sahutan, kadang menyanyi bersama, sesekali masih tertawa-tawa dengan teman mereka yang menunggu di luar bis.
Metromini belum juga beranjak meskipun 15 menit sudah berdiam di tempat ini. Mungkin karena penumpang belum penuh. Kupandangi salah seorang dari bocah itu. Kecil, kurus, tak beralas kaki. Padahal wajahnya cukup tampan menurutku.
Bocah kecil itu memandangku. Semakin mengingatkanku pada si kecil, adik lelakiku yang kini berusia 9 tahun. Mungkin mereka sebaya, tingginya juga hampir sama, sama-sama berbadan kurus.
Akhirnya metromini beranjak juga, dan bocah-bocah itu masih disitu. Sebuah lagu religi dari Ungu keluar dari bibir-bibir kecil mereka.
“Segala yang ada dalam hidupku Kusadari semua milik Mu
Ku hanya hambaMu yang berlumur dosa
Tunjukkan aku jalan lurusMu
Untuk menggapai SurgaMu
Terangiku dalam setiap langkah hidupku
Karena kutahu hanya Engkau Tuhanku…
Allahu Akbar
Allah Maha Besar
Ku memujaMu di setiap waktu…”
Ah, pikiranku langsung terbang ke suatu rumah sederhana di kota kretek, dimana tinggal sebuah keluarga bersahaja, dengan segala liku hidupnya. Adik-adikku, sedang apakah kalian? Mungkin saat ini kalian sedang menekuni buku-buku pelajaran dibawah pengawasan Bunda dan Bapak tercinta. Bunda kita yang keras dalam mendidik kita, cara yang dulu seringkali kubenci, namun kini sangat kurindukan.
Entah mengapa lagu yang dilantunkan mereka sangat mengena dalam hatiku. Betapa seharusnya ku selalu bersyukur atas semua anugerah yang diberikan Allah kepadaku. Aku memiliki sebuah keluarga yang bahagia, meskipun kami bukan termasuk keluarga berada. Aku memiliki keluarga yang begitu menyayangiku, meskipun seringkali terjadi konflik antara kami. Aku memiliki orangtua yang begitu sabar membimbingku hingga aku dewasa, meskipun aku seringkali mengecewakan mereka. Aku memiliki adik-adik yang begitu membanggakanku, meskipun aku seringkali memarahi mereka.
Ku kembali memandang bocah itu, pandangan mata kami beradu. Tatapan mata itu penuh dengan sorot kebahagiaan, keceriaan. Seperti tak ada kelelahan yang ia rasakan, padahal seharian ia harus berjuang untuk bertahan dari kejamnya ibukota. Apakah ia memiliki keluarga yang lengkap sepertiku? Apakah ia tak pernah lelah menjalani harinya? Ia begitu kecil, usianya masih terlampau muda, tapi betapa berat hari yang harus dilaluinya. Namun nampaknya ia begitu bahagia, keikhlasan terpancar dari matanya.
Mengapa seringkali aku lupa untuk selalu bersyukur? Mengapa aku teramat sering mengeluh dengan semua keadaanku, hanya karena aku sedang lelah, penat dengan rutinitas yang kujalani, ataupun saat saldo di rekening sudah menipis. Astaghfirullahaladziim. Aku telah kufur atas semua nikmat Mu. Ampuni aku Ya Allah. “Ku hanya hambaMu yang berlumur dosa” .
“lebak bulus... lebak bulus...,” teriakan kernet metromini membuyarkan lamunanku. Aku harus segera turun. Kuserahkan beberapa lembar ribuan sebagai ongkos metromini, dan kumasukkan sejumlah uang ke bungkus permen yang dipegang si kecil itu. Dalam hati kuucap terimakasih karena telah menemani perjalanan singkatku kali ini, dan yang paling utama, terimakasih telah memberikan renungan yang sangat berharga bagiku. Bahwa aku harus selalu mensyukuri karunia Nya, dan tak lekas mengeluh atas semua yang terjadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar