Bismillah,
tampaknya tangan ini hendak menulis kembali setelah sekian bulan di tahun 2012
ini hanya posting 1 tulisan. Tidak lain pemicunya ialah kegalauan dan rasa
kemalasan yang sudah berani membangkang.
Yah,
ingat peristiwa 3 tahun lalu ketika saya masih akrab seakrab-akrabnya dengan
yang namanya ‘Kitab Kuning’, beberapa bentuk ‘ubudiyah hampir terlaksana sesuai
tuntutan. Seperti layaknya tumbuhan yang terus tinggi oleh sinar mentari
sebagai energi. Dahulu juga seperti ini, ‘ubudiyah yang hampir terlalaikan,
ketika ingat didepan ada gambaran dasar, terus yakin terealisasikan.
Hari-hari
seperti itu lah yang kini terindukan. Jiwa ini kemarau, jiwa ini krisis akan
maqolah-maqolah yang rutin di kumandangkan oleh Abah. Keyakinan dan lingkungan
menjadi faktor eksternal dai krisis itu. Tuhan kembalikan kejayaan jiwa seperti
masa itu.....
Ragu
atau cobaan ?
Problem
keraguan akan suatu perkara dan cobaan dari Allah amat berbeda definisnya. Namun
keduanya sering ditemui dalam keseharian. Ketika suatu niat di i’tiqadkan dalam
lubuk jiwa, otomatis setting awal sempurna tanpa keragu-raguan. Apakah di waktu
selanjutnya akan muncul rasa ragu atas perkara yang ada? May be yes, may be no.
Selanjutnya ada apa dengan cobaan?, acap kali cobaan untuk melakukan ibadah
atau berbuat baik sering di barengi dengan sikap kerauan. Alasan untuk tidak
melanjutkan ibadah atau perbuataan baik itu, jiwa ini selalu berfikir ragu-ragu
atau cobaan?. Sehingga timbul kesimpulan dari semuanya, yaitu karena iman dan
keyakinan kita sudah mulai mengikis oleh faktor internal dan eksternal. Apa itu?
Continou we find in our life.
‘Keminter’
Keminter,
ya, kata itu yang sangat dibenci. Keminter identik dengan sok tau dan sok
mengerti. Jika ditinjau dari definisi yang berhubungan dengan peribadatan, hal
ioni seperti terkan dung dalam wasiat Imam Ghozali: “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan
tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”.
Rahasia tamu dan menghormati ahlinya ilmu (gus)
Sering ditemui seorang mahasiswa didatangi tamu
jauh, dan beralasan tidak bisa menemui dengan alasan sibuk. Sudah tidak masuk
akal. Namun sebaliknya saya tidak pernah menyibukkan diri oleh abaikan tamu. Karena
Nabi pernah menyabdakan haditsnya, intinya memulyakan tamu itu termasuk
perbuatan baik, diantara beriman kepada Alah dan hari akhir. Dan dijanjikan
akan menghilangkan keburukan-keburukan ahli tamu. Hal ini bisa dirasakan ada
sebuah kenyamanan walaupun sesibuk apapun ketika kita memulyakan tamu. Dan yang
terakhir adalah menghormati sekaligus memulykan ahli ilmu, dalam hal ini adalah
putra kiayi yang sering disebit ‘Agus’. Acapa kali menjadi hobi tersendiri,
yaitu timbul rasa senang dan happy walaupun tidak punya uang ketika datang gus
dari jauh dan menymbangi kita dengan berbagi hikmah dan keilmuan sosial.
Ngopi sambil ngudut.