Jumat, 30 November 2012

Catatan Akhir November


Bismillah, tampaknya tangan ini hendak menulis kembali setelah sekian bulan di tahun 2012 ini hanya posting 1 tulisan. Tidak lain pemicunya ialah kegalauan dan rasa kemalasan yang sudah berani membangkang.

Yah, ingat peristiwa 3 tahun lalu ketika saya masih akrab seakrab-akrabnya dengan yang namanya ‘Kitab Kuning’, beberapa bentuk ‘ubudiyah hampir terlaksana sesuai tuntutan. Seperti layaknya tumbuhan yang terus tinggi oleh sinar mentari sebagai energi. Dahulu juga seperti ini, ‘ubudiyah yang hampir terlalaikan, ketika ingat didepan ada gambaran dasar, terus yakin terealisasikan.
Hari-hari seperti itu lah yang kini terindukan. Jiwa ini kemarau, jiwa ini krisis akan maqolah-maqolah yang rutin di kumandangkan oleh Abah. Keyakinan dan lingkungan menjadi faktor eksternal dai krisis itu. Tuhan kembalikan kejayaan jiwa seperti masa itu.....

Ragu atau cobaan ?
Problem keraguan akan suatu perkara dan cobaan dari Allah amat berbeda definisnya. Namun keduanya sering ditemui dalam keseharian. Ketika suatu niat di i’tiqadkan dalam lubuk jiwa, otomatis setting awal sempurna tanpa keragu-raguan. Apakah di waktu selanjutnya akan muncul rasa ragu atas perkara yang ada? May be yes, may be no. Selanjutnya ada apa dengan cobaan?, acap kali cobaan untuk melakukan ibadah atau berbuat baik sering di barengi dengan sikap kerauan. Alasan untuk tidak melanjutkan ibadah atau perbuataan baik itu, jiwa ini selalu berfikir ragu-ragu atau cobaan?. Sehingga timbul kesimpulan dari semuanya, yaitu karena iman dan keyakinan kita sudah mulai mengikis oleh faktor internal dan eksternal. Apa itu? Continou we find in our life.

‘Keminter’
Keminter, ya, kata itu yang sangat dibenci. Keminter identik dengan sok tau dan sok mengerti. Jika ditinjau dari definisi yang berhubungan dengan peribadatan, hal ioni seperti terkan dung dalam wasiat Imam Ghozali: “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”.

Rahasia tamu dan menghormati ahlinya ilmu (gus)
Sering ditemui seorang mahasiswa didatangi tamu jauh, dan beralasan tidak bisa menemui dengan alasan sibuk. Sudah tidak masuk akal. Namun sebaliknya saya tidak pernah menyibukkan diri oleh abaikan tamu. Karena Nabi pernah menyabdakan haditsnya, intinya memulyakan tamu itu termasuk perbuatan baik, diantara beriman kepada Alah dan hari akhir. Dan dijanjikan akan menghilangkan keburukan-keburukan ahli tamu. Hal ini bisa dirasakan ada sebuah kenyamanan walaupun sesibuk apapun ketika kita memulyakan tamu. Dan yang terakhir adalah menghormati sekaligus memulykan ahli ilmu, dalam hal ini adalah putra kiayi yang sering disebit ‘Agus’. Acapa kali menjadi hobi tersendiri, yaitu timbul rasa senang dan happy walaupun tidak punya uang ketika datang gus dari jauh dan menymbangi kita dengan berbagi hikmah dan keilmuan sosial.
Ngopi sambil ngudut.