Dalam hidup memang diharuskan menentukan sebuah pilihan, tentunya
yang paling baik untuk diri kita diantara pilihan yang ada. Namun ada kalanya
segala sesuatu yang kita pilih belum tentu yang terbaik. Untuk itulah kita
saling berbagi dalam berbagai hal termasuk pengalaman hidup dengan tujuan
supaya bisa menentukan mana yang paling baik untuk diri sendiri, keluarga dan
juga sahabat.
Demikian juga ketika kita lebih memilih tidak mempunyai anak atau
mempunyai anak. Ketika memilih melahirkan dengan cara normal atau secara
operasi caesar. Ketika lebih memilih menyusui bayi atau memberikan susu formula
sejak dilahirkan. Kecuali kita dihadapkan pada suatu kenyataan dimana tidak
bisa memlilih dan harus dilakukan karena alasan kesehatan, keselamatan jiwa
atau medis.
Tulisan ini berdasar pengalaman keponakan saya yang lebih memilih
memberikan susu formula pada anaknya dan pengalaman saya yang kekeh untuk tetap
memberikan ASI ekslusif yaitu hanya memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa
tambahan makanan atau minuman yg lain. Lalu dilanjutkan dengan tetap menyusui
sampai si kakak dan si adik berumur 2 tahun bahkan lebih beberapa bulan karena
sulitnya proses menyapih.
Memang menyusui bukan hal yang mudah namun juga tak sulit ketika
kita punya kemauan dan tentunya dukungan lingkungan sekitar terutama suami dan
keluarga. Menyusui si kakak tentu berbeda dengan ketika menyusui si adik,
karena kakak yang notabene anak pertama dimana belum punya pengalaman dalam
mengurus bayi juga dalam hal menyusui. Butuh perjuangan yang ekstra untuk tetap
bisa memberikan ASI ekslusif bagi si kakak. Pengalaman pertama, posisi yang
tidak tepat ditambah puting yang lecet dan kadang luka, stres karena takut si
kakak masih lapar dll. Justru hal inilah yang membuat produksi ASI jadi
terhambat. Ini juga pernah saya alami. Namun saya tak pernah putus asa dan
tetap berjuang untuk bisa memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan. Dengan
tambahan obat perangsang yang berbahan dasar sari daun katuk juga dengan
mengkomsumsi berbagai sayuran segar yang dikenal sebagai perangsang untuk
memperlancar produksi ASI seperti daun katuk, pepaya muda, kedelai, kacang
hijau, daun pepaya dll. Alhamdulillah 6 bulan bisa memberikan ASI, malahan
diteruskan sampai 2 tahun.
Beberapa kali kadang ada saudara atau teman yang menyarankan untuk
menambahkan susu formula, dengan alasan supaya anak kelihatan montok. Memang si
kakak berat lahirnya hanya 2,7 kg jadi tampak mungil dibanding si adik yang
lahir dengan berat 3,4 kg. Dan tentu saja, anak dengan susu ASI tidak semontok
yang mengkonsumsi susu formula. Susah memang ketika dihadapkan pada mitos bahwa
anak yang gemuk dan montok adalah anak yang sehat. Padahal bukan seperti itu
kenyataannya. Beruntung saya tidak tergoda dengan anjuran tersebut juga iklan
produk susu formula yang banyak berseliweran di televisi. Berbekal dengan
beberapa pengetahuan tentang pentingnya ASI yang saya baca dari beberapa
tabloit atau majalah khusus ibu dan anak baik selama masa kehamilan atau
setelah melahirkan. Alhamdulillah anak anak walaupun tidak gemuk tapi
cukup kuat daya tahan tubuhnya. Terkadang ketika kami orang dewasa dirumah
terserang flu berat, mereka tetap sehat.
Dan, apa yang saya lakukan berbeda dengan apa yang keponakan saya
lakukan. Anak semata wayangnya yang bernama Aldo sudah diberikan susu formula
sejak dilahirkan. Bahkan sudah dipersiapkan sejak masih dalam kandungan, yang
katanya susu formula paling bagus dan impor karena harganya yang mahal.
Akhirnya Aldo lebih asyik minum dengan botol daripada menyusu pada ibunya.
Tentu, karena mengisap dari botol tidak memerlukan perjuangan seperti ketika
harus menyusu. Aldo menjadi malas menyusu, dan akhirnya si ibu kelimpungan sendiri
karena mengeluh sakit pada payudara yang bengkak. Sementara saking asyiknya,
kadang susu dalam botol besar habis dalam hitungan menit saja.
Berkali-kali saya anjurkan untuk tetap memberikan ASI dan dicoba
dengan sabar. Namun sayangnya si ibu sudah patah semangat dan lebih suka
memberikan susu formula dengan alasan tidak repot apabila harus ditinggal
kemana-mana dan lebih santai tentunya karena bisa dihandle oleh orang lain, dan
si ibu bisa istirahat. OK, kalau itu alasannya bagaimanapun itu sebuah pilihan.
Nah, minggu lalu Aldo yang genap berumur 2 tahun tepat di hari
lahir Indonesia itu harus dirawat di rumah sakit. Karena panas tinggi sampai
kaki seperti lumpuh dan pandangan kosong. Ini adalah puncak dari sakit yang
beberapa bulan terakhir ini karena badannya selalu panas turun tidak menentu.
Awalnya, dokter mengira terkena tipus namun hasil test darah negatif dan baik.
Lalu dilakukan test urine. Ternyata Aldo mengalami gangguan pada pencernaannya
akibat terlalu banyak mengkonsumsi susu formula secara berlebihan dan mungkin
percernaannya tidak kuat. Memang, keponakan saya bercerita kalau dalam
sebulan dikeluarkan 1-1.5 juta hanya untuk membeli susu formula. Apalagi Aldo
malas makan dan lebih senang menyusu. Pada umur lebih 6 bulanpun tetap mengkonsumsi
80% susu formula dibanding makanan tambahan. Badannya gemuk sekali, bisa
dibilang obesitas. Pada umur 1.5 tahun lebih belum juga bisa bicara lancar,
malas merangkat, duduk harus disangga apalagi belajar jalan. Sangat berbeda
dengan si kakak yang sudah berlari umur 11 bulan juga lancar bicara. Dan si
adik umur 13 bulan sudah bisa berjalan dan bicara sepatah kata (si adik lebih
lambat dari si kakak).
Gencarnya iklan dari produsen susu formula dengan iming-iming
penambahan asam lemak AA dan DHA, yang konon katanya menambah kecerdasan
menjadi sebuah dilema bagi orang tua. Padahal ASI mengandung zat yang paling
tepat untuk bayi, lebih aman dan mengandung antibodi juga mengandung asam
lemak dengan ukuran yang pas untuk meningkatkan kecerdasan anak. Apalagi ketika
beberapa hari setelah melahirkan adalah masa emas dimana masih mengandung
kolostrum yang kaya akan zat antibodi.
Beberapa rumah sakit khusus ibu dan anak sudah mencanangkan
program inisiasi dini menyusui. Saya juga sempat mengalami ketika melahirkan si
adik pada tahun 2007. Dimana begitu si adik lahir dengan keadaan badan belum
dimandikan, hanya sekedar dilap kering saja lalu diletakkan di dada. Dengan
perlakuan alami ini dengan harapan si adik akan mencari puting susu dan
mengisapnya. Dan menurut dokter, bayi yang usai dilahirkan bisa bertahan tidak
menyusu selama 10 jam jadi tidak usah terlalu risau ketika ASI belum keluar
sehabis melahirkan.
Masih segar dalam ingatan pada tahun 2006 heboh dengan berita
beberapa susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter Sakazakii yang
sangat berbahaya. Dapat mengakibatkan peradangan saluran pencernaan,
infeksi peredaraan darah dan infeksi pada lapisan urat syaraf tulang belakang
dan orak. Belum lagi dalam status facebook banyak teman yang mengeluh
harga susu formula yang melonjak naik akhir-akhir ini. Padahal sebenarnya kita
diberikan pilihan untuk bisa memberikan ASI yang gratis tanpa biaya apapun. So,
kembali kepada pilihan masing-masing atau memang susu formula sudah menjadi
gaya hidup?
Iya memang, terkadang banyak teman yang bercerita kalau anaknya
minum susu produk A , B atau C dengan harga yang cukup mahal, sekaleng kecil
400 gram saja sekitar 150rb. Namun apakah harga mahal sebuah jaminan? Atau
pemberian susu formula adalah sebuah gaya hidup modern dan menyusui adalah
sebuah hal yang kuno? Dengan menyusui kita akan merasa semakin sempurna
menjadi seorang ibu dengan ikatan psikologis yang lebih kuat ketimbang dengan
botol. Kecuali memang kita diharuskan memberikan itu karena sebuah keterpaksaan
dengan alasan medis misalnya untuk bayi prematur atau alasan lainnya.

