Sebuah kenyataan dalam hidup. Suatu waktu saat perjalananku menuju pendidikan dokter tepatnya akhir semester dua, terdapat sebuah modul pungkasan yaitu pengenalan praktik klinik atau disebut clinical reasoning. Tugas magang selama satu hari di sebuah panti sosial yang bertujuan mengenal sekaligus mengaplikasikan praktik empati seorang dokter. Disini kita melakukan kegiatan yaitu mengikuti kegiatan untuk mengenal, membantu merawat dan menghibur para penghuni panti. Tepatnya Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 4 Margaguna, di Jln. Margaguna No. 1 Radio Dalam, Kelurahan Gandaria Selatan, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.
Tresna Werdha Budi Mulia 4 Margaguna merupakan unit pelaksana teknis bidang kesejahteraan sosial lanjut usia. Terdaftar dalam Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta. Panti ini memberi pelayanan kepada masyarakat. Khususnya para lanjut usia yang tidak mampu. Tresna Werdha diresmikan oleh Menteri Sosial, Nani Soedarsono SH pada 20 Februari 1988 silam. Semua mahasiswa dibagi tiap kelompok, dan memasuki masing-masing ruangan baik ai ruangan laki-laki dan perempuan. Saya bertugas tepatnya di ruangan perempuan (nenek), yaitu di ruang mawar di mana terdapat 20 lansia perempuan yang saya menilai nya mereka tampak mandiri dengan aktifitas di panti.
Rabu 3 ramadhan aku menyambangi mereka di sana. Rasanaaya tetesan air mata ini jatuh namun tertahan kan oleh lincahnya dan lucunya para kakeh dan nenek tak ubahnya anak-anak kecil. Betapa cerita mereka saat wawancara dan mengobrol sangatlah ternyuh, mengingatkan nenekku yang begitu menyayangiku. Memang saat yang tepat yaitu bulan ramadhan, waktunya berkasih kepada sesama apa lagi kaum lansia yang lemah.
Saya masuk ke ruangan dan berkenalan satu persatu dengan lansia, berbagai wajah yang aku temui di sana dari ruang ke ruangn lain. Ku tanggapi percakapan mereka satu persatu dengan seksama, layaknya nenkku sendiri. Mengerti akan keadaan mereka adalah hal yang sangat penting, sebagai ukuran pasien saat jadi dokter.
Saya membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. Beliau pun antusias semangat dan menjawab denga jelas , bahkan merasa kurang jika keberadaan kami hanya beberapa jam. Dengan bahasa yang lembut dan berusaha mengertikan bahasa ku ucapkan dengan mimik wajah dan verbal yang jelas. Selain itu saya juga memberikan perhatikan dengan duduk disamping dan membantu nenek membersihkan tempat nya. Saya juga sedikit memeberikan pengertian dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. Pendekatan ini cukup efektif terutama bagi klien yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan latar belakang agama yang baik. Klien dulunya tinggal bersama anak beserta menantunya. Klien dititipkan di panti werdha karena kesibukan anaknya agar klien lebih terurus dan banyak teman. Sejak saat klien masuk panti werdha, klien merasa terbuang dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial di panti tersebut. Seringkali klien menangis, diam tak berbicara walaupun diajak berkomunikasi. Meski terlihat apatis, klien tetap beribadah seperti biasanya.Berbicara hanya seperlunya, terlihat diam, acuh tak acuh, dan menangis saat diajak berbicara. Kontak mata kurang baik ketika diajak berbicara, dan banyak menunduk. Keadaan emosi terlihat murung dan sedih. Namun mereka mengaku lama-kelamaan terbiasa untuk senang dengan keadaan saat ini.
Dengan membuat suasana dan keadaan klien senang dan puas serta agar tidak emosi misalnya dengan mengiyakan, senyum, mengannguk kepala ketika klien mengungkapkan perasaannya sebagai sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Dengan demikian diharapkan klien termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Dan memberika semangat dan motivasi deng mengatakan “saya yakin ibu, lebih tenag disini dan lebih enak makan enak, teman enak , dsb,” ... sambil tertawa kecil, klien pun ikut tertawa.
Seperti diketahui sebelumnya bahwa klien lansia umumnya mengalami perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan. Perubahan ini harus disikapi dengan sabar dan ikhlas , misalnya memberikan suasana terbuka, akrab, santai, bertatakrama dengan posisi menghormat dan harus memahami keadaan lansia, menyediakan waktu ekstra bagi lansia untuk menjawab pertanyaan, mendengar aktif, menjaga kontak mata.
Dan akhirnya banyak yang aku dapat dari pelajaran itu. Bagaiman keadaan klien jika sebagai pasien saya kelak. Dan sekarang sedikit tergambar apa yang seharusnya aku lakukan ketika jadi dokter.