Suatu saat nanti pasti semua orang tertawa
lebar, ketika semua yang mereka ‘anggap’ hebat itu ternyata tidak beda dengan
pelawak-pelawak seperti di TV. Mainan hingga bohong besar, ya munafik. Meilirik
potret kecil tiap ujian blok modul perkuliyahan.
Dalam hal ini kehupan berkampus dipilih
menjadi substitusi di atas skenario kehidupan. Sudah menjadi rahasia umum,
berkampus merupakan kata indah namun penuh dengan ancaman, baik ancaman
kesenangan maupun ancaman penderitaan hingga frustasi. Huh, sakit sekali
rasanya. Berkampus, demi pencapaian pengetahuan, di dalamnya berisi belajar dan
pencarian pengalaman. Sayang, dalam prosesnya belum bisa mengukur segalanya.
Bukti nyata bisa dirasakan oleh perasaan nan suci.
Masalah yang menjadi ancaman besar yaitu
mengacu pada penilaian secara subjektif untuk pencapaian nilai akademik. Dosen
juga manusia, sehingga mutlak keliru dan salah pasti menyertainya. Di dalam
skenario kehidupan, baik itu profesi, pencapaian pengetahuan, kepemimpinan dan
organisasi, kompetisi, dan lain- lain. Terdapat dua mekanisme, alami dan
buatan. Tentu keduanya sudah bisa didefinisaikan lewat prase per prase.
Singkatnya secara Automatic dan Manual, bisa
juga kongnital (bawaan) dan dapatan. Memang hebat pada dasarnya atau
hebat-hebatan saja. Evaluasi diatas tertuang dalam kesenangan sesaat dan
selamanya.
Maksud di atas disimpulkan menjadi:
·
Mereka yang secara
bangga mengatakan yang terhebat karena usahanya sendiri dan lahir batin dalam
belajar
·
Mereka bangga karena
memiliki keberuntungan di atas meja ujian tersedia lembar jawaban teman tanpa
mau tahu resiko dan dampaknya.
·
Mereka bangga berapa pun
atau bagaimana pun hasilnya, yang terpenting ialah kerjanya sendiri
·
Mereka bersedih dan
kecewa karena nasibnya belum beruntuing
·
Mereka bersedih karena
atas nama penyesalan.
Rasanya kasihan ketika menyaksikan
perasaan bangga mereka atas keberuntungan dan kelicikan kemudia mereka
apresiasi kelicikan yang amat besar itu. Akan tetapi suatu saat nanti mereka
akan tertawa besar atas kebusukan dan munafiknya.
Dibalik bangga atas kesenangan sesaat,
ternyata ada kehebatan luar biasa yaitu perasaan bangga atas jerih payah dan
kerja keras sendiri. Ketika muncul kegalaun diri yang bersumber dari hati
nurani maupun hati tak nurani. Hal ini akan menimbulkan dampak yang tidak sedap
ketika terbau oleh penghidu jiwa. Hakikatnya, jiwa suci manusia yang sebenarnya
adalah jiwa (nafsu) Muthmainnah.
Seperti tertuang dalam sajian syair
abadi, “wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang
meridhai”.
Tetapi ada jiwa-jiwa yang lain yang
ditimbulkan bukan karena kesucian, melainakn bersumber dari kekotorannya
sendiri. Tidak sedikit jiwa kotor itu muncul akibat ulah dosen yang berotoriter
atas kebijakan-kebijakan.
*bangga usah sendiri, dan diridhai Ilahi.
Selamat berkampus!!!!!!!!!!!!