Senin, 11 Maret 2013

Potret Kecil, Berkampus itu...?


Suatu saat nanti pasti semua orang tertawa lebar, ketika semua yang mereka ‘anggap’ hebat itu ternyata tidak beda dengan pelawak-pelawak seperti di TV. Mainan hingga bohong besar, ya munafik. Meilirik potret kecil tiap ujian blok modul perkuliyahan.
Dalam hal ini kehupan berkampus dipilih menjadi substitusi di atas skenario kehidupan. Sudah menjadi rahasia umum, berkampus merupakan kata indah namun penuh dengan ancaman, baik ancaman kesenangan maupun ancaman penderitaan hingga frustasi. Huh, sakit sekali rasanya. Berkampus, demi pencapaian pengetahuan, di dalamnya berisi belajar dan pencarian pengalaman. Sayang, dalam prosesnya belum bisa mengukur segalanya. Bukti nyata bisa dirasakan oleh perasaan nan suci.
Masalah yang menjadi ancaman besar yaitu mengacu pada penilaian secara subjektif untuk pencapaian nilai akademik. Dosen juga manusia, sehingga mutlak keliru dan salah pasti menyertainya. Di dalam skenario kehidupan, baik itu profesi, pencapaian pengetahuan, kepemimpinan dan organisasi, kompetisi, dan lain- lain.  Terdapat dua mekanisme, alami dan buatan. Tentu keduanya sudah bisa didefinisaikan lewat prase per prase. Singkatnya secara Automatic dan Manual, bisa juga kongnital (bawaan) dan dapatan. Memang hebat pada dasarnya atau hebat-hebatan saja. Evaluasi diatas tertuang dalam kesenangan sesaat dan selamanya.
Maksud di atas disimpulkan menjadi:
·        Mereka yang secara bangga mengatakan yang terhebat karena usahanya sendiri dan lahir batin dalam belajar
·        Mereka bangga karena memiliki keberuntungan di atas meja ujian tersedia lembar jawaban teman tanpa mau tahu resiko dan dampaknya.
·        Mereka bangga berapa pun atau bagaimana pun  hasilnya, yang terpenting ialah kerjanya sendiri
·        Mereka bersedih dan kecewa karena nasibnya belum beruntuing
·        Mereka bersedih karena atas nama penyesalan.
Rasanya kasihan ketika menyaksikan perasaan bangga mereka atas keberuntungan dan kelicikan kemudia mereka apresiasi kelicikan yang amat besar itu. Akan tetapi suatu saat nanti mereka akan tertawa besar atas kebusukan dan munafiknya.
Dibalik bangga atas kesenangan sesaat, ternyata ada kehebatan luar biasa yaitu perasaan bangga atas jerih payah dan kerja keras sendiri. Ketika muncul kegalaun diri yang bersumber dari hati nurani maupun hati tak nurani. Hal ini akan menimbulkan dampak yang tidak sedap ketika terbau oleh penghidu jiwa. Hakikatnya, jiwa suci manusia yang sebenarnya adalah jiwa (nafsu) Muthmainnah.
Seperti tertuang dalam sajian syair abadi, “wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang meridhai”.
Tetapi ada jiwa-jiwa yang lain yang ditimbulkan bukan karena kesucian, melainakn bersumber dari kekotorannya sendiri. Tidak sedikit jiwa kotor itu muncul akibat ulah dosen yang berotoriter atas kebijakan-kebijakan.
*bangga usah sendiri, dan diridhai Ilahi.
Selamat berkampus!!!!!!!!!!!!


Selasa, 05 Maret 2013

We Hear, We Look, We Talk, and We have Knowledge


Seorang anakdilahirkan dalam keadaaan tidak mengetahui apapun. Tidak berapa lama kemudian, indra si anak mulai berfundsi. Si anak mulai terpengeraruh oleh stimulus-stimulus dari luar yang tterjadi pada dirinya. Kejadian-kejadian itu akan menimbulkan beragam perasaan. Itulah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya persepsi dan pengetahuan anak terhadap dunia luar. Al-Qur’an telah mengisyaratkan kenyataan tersebut pada banyak ayat. Di antaranya :  1). “Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kalian pendengaran, pengelihatan dan hati supaya kalian bersyukur” QS. An-Nahl [16]:78, 2). “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kalian pendengaran, pengelihatan dan hati. Amat sedikitlah kalian bersyukur” QS. Al-Mu’minun [23]: 78, 3). “Katakanlah, ‘Dia-lah yang telah menjadikan kalian serta memberi kalian pendengaran, pengelihatan, dan hati. Amatlah sedikit kalian bersyukur” QS. Al-Mulk [67]: 23, 4). “Kemudian Dia menyempurnakan serta meniupkan  ke dalamnya ruh- Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, pengelihatan, dan hati. Sedikit sekali yang kalian syukuri” QS. As- Sajdah [32]: 9.
            Al-Qur’an hanya menyebut pendengaran dan pengelihatan sebagai dua alat indra. Pertama, karena pentingnya pendengaran dan pengelihatan dalam proses persepsi. Kedua, penyebutan pendengaran dan pengelihatan cukup untuk menunjukkan urgensi semua alat indra dalam proses persepsi. Inilah di antara karakteristik gaya bahasa Al-Qur’an yang ringkas dan mendalam, yaitu cukup dengan kiasan dan isyarat untuk menunjukkan hakikat-hakikat mendasar yang bersifat umum, serta mengabaikan pemerian.
            Dalam banyak ayat Al-Qur’an, pendengaran disebutkan lebih dulu daripada pengelihatan karena beberapa alas an berikut.
Pertama, pendengaran lebih penting daripada pengelihatan dalam proses persepsi, belajar , dan perolehan ilmu. Manusia masih mungkin untuk belajar bahasa dan memperoleh pengetahuan nila kehilangan pengelihatannya. Di antara yang menunjukkan pentingnya pendengaran dalam persepsi dan belajar bahasa-(bahasa termasuk instrument paling penting dalam berfikir dan memperoleh pengetahuan)- adalah Al-Qur’an hanya menyebut pendengaran beserta akal untuk menandakan kaitan erat antara pendengaran dan akal. “Dan mereka berkata, ‘Kalaulah kami mendengar atau memahami, tentu tidaklah kami termasuk para penghuni neraka yang menyala-nyala”. QS. Al-Mulk [67]: 10.
            Karena kaitan erat antara pendengaran dan akal tersebut, dalam banyak ayat Al-Qur’an disebutkan kata mendengar, tetapi dalam arti memahami, berfikir, dan mempertimbangkan. “Rabbana, sesungguhnya kami mendengar seruan seseorang yang menyeru kepada iman (yaitu): hendaknya kalian beriman kepada Rabb kalian, maka kami pun beriman ….” QS. Ali-Imran [3]: 193, “Dan bahwasannya kami, ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya ….” QS. Al-Jinn [72] :13, “Dan Kami mmengunci mati kalbu mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar?” QS. Al-A’raf [7]: 100.
            Kedua, indra pendengar akan langsung bekerja seusai persalinan. Anak akan langsung dapat mendengar suara-suara setelah persalinan. Adapun untuk dapat melihat sesuatu dengan jelas, si anak membutuhkkan waktu beberapa saat*
            Ketiga, indra pendengar melaksanakan fungsinya secara terus menerus tanpa henti, sedangkan indra pengelihatan adakalanya berhenti melaksanakan fungsinya ketika manusia menutup kedua matanya atau ketika tidur. Suara nyaring juga dapat  membangunkan manusia dari tidurnya. Oleh sebab itu, dalam kisah Ashhabul Kahfi Allah SWT menerangkan bahwa Dia menutup telinga mereka hingga mereka terlelap tidur, dan suara pun tidak membuat mereka terbangun. “Kemudian Kami, menutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun”. QS. Al-Kahfi [18]: 11.
          Keempat, indera pendengar dapat mendengar semua suara, baik dalam gelap maupun terang, sedangkan indra pengelihatan hanya dapat melihat dalam cahaya. Al-Qur’an juga menyebut “as-sam’u” (pendengaran) dalam bentuk tunggal, sedangkan “al- abshar” (pengelihatan) disebutkan dalam bentuk jamak. Hal ini  termasuk bukti kemukjizatan gaya bahasa Al-Qur’an. Sebab indra pendengar dapat menerima suara yang dating dari segala arah, sedangkan mata hanya dapat melihat bila manusia mengarahkan pandangannya kea rah sesuatu yang ingin dilihatnya. Jika terdengar suara dari suatu tempat yang dihuni banyak orang, mereka semua akan mendengar suara yang sama. Namun jika mereka melihat sesuatu yang sama dari sudut yang berbeda-beda, pengelihatan mereka kepada sesuatu itu tidak akan sama persis. Demikian pula terkadang mereka melihat sesuatu yang berbeda di waktu yang sama sesuai dengan arah yang mereka lihat. Selain itu, jika kita mendenbgar suara yang berasal dari suatu tempat secara langsung berada di hadapan kita, gelombang suara akan sampai ke dua telinga dalam waktu yang bersamaan. Juga kuatnya pengaruh suara pada kedua gendang telinga akan sama. Akan tetapi, jika kita melihat sesuatu yang terletak di hadapan kita, bentuk yang tergambar pada retina mata kanan akan berbeda dengan bentuk yang tergambar pada retina mata kiri. Sebab mata kanan melihat sesuatu dari sisi kanan, sedangkan mata kiri melihat sesuatu dari sisi kiri.

*Beberapa penelitian fisiologi moderen mengungkapkan bahwa anak yang baru lahir bias merespons suara-suara yang nyaring. Tetapi belum biasa  merespons suara-suara yang sangat perlahan. Penelitian-penelitiaan tersebut juga menjelaskan bahwa gambar-gambar belum terlihat jelas oleh kedua mata sianak yang baru lahir itu hingga bulan keenam. Ini disebabkan perkembangan retina barulah sempurna pada akhir enam bulan pertama pascakelahiran.