Sabtu, 21 Januari 2017

Lebarkan Senyummu Mak, Pak !

“Bagaimana pun caranya anakku kudu sekolah, biarlah orang tua nya bodoh ndak sekolah, asalkan ankku sekolah”. Sepenggal kalimat ini yang sering terlontar di mulut mamak bapak ku, begitu aku menyapanya. Persisnya ketika sowan ke ndalem Kyai saat aku nyobain nyantri. Ya begitulah beliau, hanya tamat SD, namun aku bangga pada mereka. Kebanggaanku tak tertandingi dengan mereka yang mempunyai orang tua sarjana hingga profesor. Sejak kecil kami hidup sederhana dan pas-pasan. Namun beliau mampu membuat senyum setiap waktu. Aku dididik dengan modal nekat, begitu kasarnya.













Mamak mengajarkanku sebuah kesungguhan dan perjuangan untuk menggapai mimpi yang tinggi, beliau menjadi ‘Madrasatul Ula’ bagi kedua anaknya, aku dan adekku. Mamak mengajarkan ku tentang arti perjuangan yang sesungguhnya. Harus berusaha menjadi nomor satu tentu dalam kebaikan.

Bapak juga demikan, belia mengajari kami apa arti ketulusan dan keikhlasan sesungguhnya, beliau tidak menuntut macam-macam. Bagi selalu berpesan gapailah perangai ikhlas, sabar lan nerimo.

Habib Luthfi berkata, “walaupun seluruh gunung di Indonesia kau jadikan emas dan intan permata untuk membalas jasa kedua orang tua mu, tidak ada apa-apanya.” Aku hanya bisa doa tiap waktu memohonkan ampun dosa-dosanya, dan menganugerahkan rahman dan rahim Nya kepada kedua Nya. Mak, pak, anakmu sekarang memulai tahapan interaksi dengan masyarakat sesungguhnya, tanpa restu dan doa mu aku tidak bisa apa-apa. Selanjutnya kami selelu berusaha membuat bahagia kalian berdua, tebarkan senyum mu dan lebarkan senyum mu.