“Bagaimana
pun caranya anakku kudu sekolah,
biarlah orang tua nya bodoh ndak
sekolah, asalkan ankku sekolah”. Sepenggal kalimat ini yang sering terlontar di
mulut mamak bapak ku, begitu aku menyapanya. Persisnya ketika sowan ke ndalem Kyai saat aku nyobain
nyantri. Ya begitulah beliau, hanya tamat SD, namun aku bangga pada mereka.
Kebanggaanku tak tertandingi dengan mereka yang mempunyai orang tua sarjana
hingga profesor. Sejak kecil kami hidup sederhana dan pas-pasan. Namun beliau
mampu membuat senyum setiap waktu. Aku dididik dengan modal nekat, begitu
kasarnya.

Mamak mengajarkanku sebuah kesungguhan dan perjuangan untuk menggapai mimpi yang tinggi, beliau menjadi ‘Madrasatul Ula’ bagi kedua anaknya, aku dan adekku. Mamak mengajarkan ku tentang arti perjuangan yang sesungguhnya. Harus berusaha menjadi nomor satu tentu dalam kebaikan.
Bapak
juga demikan, belia mengajari kami apa arti ketulusan dan keikhlasan
sesungguhnya, beliau tidak menuntut macam-macam. Bagi selalu berpesan gapailah
perangai ikhlas, sabar lan nerimo.
Habib
Luthfi berkata, “walaupun seluruh gunung di Indonesia kau jadikan emas dan
intan permata untuk membalas jasa kedua orang tua mu, tidak ada apa-apanya.” Aku
hanya bisa doa tiap waktu memohonkan ampun dosa-dosanya, dan menganugerahkan
rahman dan rahim Nya kepada kedua Nya. Mak, pak, anakmu sekarang memulai
tahapan interaksi dengan masyarakat sesungguhnya, tanpa restu dan doa mu aku
tidak bisa apa-apa. Selanjutnya kami selelu berusaha membuat bahagia kalian
berdua, tebarkan senyum mu dan lebarkan senyum mu.
