Minggu, 13 Januari 2013

REFLEKSI DIRI Kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Modul Saraf Jiwa 2012



Tepatnya hari jum’at, 11 Januari 2013, pada minggu akhir pelaksanaan Modul Saraf dan Jiwa semester V PSPD FKIK UIN jakarta. Jadwalnya adalah kunjungan ke Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Setelah beberapa minggu berkutat dengan buku dan teori-teori mengani masalah saraf dan kejiwaan berdasarkan DK (diskusi kelompok), ujian, hingga temu pakar, kita hanya bisa mengandai-andai dan membayangkan ‘orang gila’ di jalan. Tentu menjadi kesempatan dan anugerah tersendiri bisa mengamati langsung ke TKP, bahkan mampu untuk menganalisis sejauh mana wawancara hingga diagnosa penyakit jiwa. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman,  pengertia, dan praktik langsung kepada pasien dengan gangguan jiwa, sebagai salah satu modal dan cikal bakal menjadi dokter.
Perasaan was-was dan khawatir tentu ada ketika terbayang di benak, mau kunjungan ke rumah sakit jiwa, tempat orang-orang gila di rehabilitasi.  Namun hal ini menjadi sesuatu yang biasa dan keharusan untuk memahami, menelaah serta mendiagnosa serta tatalaksana untuk kelainan jiwa. Perjalanan dari Ciputat (kampus UIN) ke Bogor (RSMM), memakan waktu kurang lebih 2 jam karena cuaca yang tidak bersahabat dilengkapi dengan kondisi kota yang macet. Terbilang terlambat 1 jam, akan tetapi tidak menurunkan semangat kita untuk bertemu ‘orang gila’ demi seuntai ilmu kedokteran. Setibanya di RSMM Bogor disambut antusias oleh Pegawai Rumah sakit. Tanpa jeda acara langsung di mulai hingga sambutan dan penerimaan dari Dirut RSMM, bidang Sumber Daya Manusia dan Pendidikan Pelatihan, drg. Rahmad Syahmansyur, M.Kes. Dilanjutkan dari Penangung jawab PSPD FKIK UIN Jakarta, dr. Flori R. Sari, Ph.D.
Sebelum Hospital touch (interksi langsung) yang merupakan acara inti, di dahului dengan penyampaian materi berupa profil RSMM, yang sudah berusia 1 abad lebih 30 tahun, didirikan oleh Hindia Belanda (1882), merupakan Rumah sakit jiwa tertua di Indonesia, bahkan ada yang menyebutkan Rumah Sakit Jiwa pertama di dunia. Sedikit ingin tahu ada apa dengan nama Marzoeki Mahdi?, ternyata nama itu diangkat dari nama Dirut pertama RSMM, dan pada tahun 2002 di resmikanlah nama menjadi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Begitulah singkatanya. Kemudian dilanjutkan materi tentang Empati disertai Role Play, adegan acting oleh dr. Siti Halimah, Sp.KJ. Materi yang sering disampaikan di kuliyah.  Namun saya tidak sepenuhnya mengikuti karena harus Shalat Jum’at.
Sampai di acara inti, yakni Hospital Touch, interaksi dan mengamati pasien di bangsal. Kita dibagi menjadi 4 kelompok, tidak tahu persis satu per satu kelompoknya, dan saya berada di kelompok 3, mendapat bagian kunjungan ke bangsal Gatot Kaca. Bangsal ini di tempati oleh paisen Intermediet dan terbanyak pasien dengan diagnosis Skizofrenia Paranoid, biasanya dalam orang awam disebut dengan orang gila, sedeng, sableng, dan sebaginya.  
Di bangsal kami dibimbing oleh seorang dokter yang menjaga bangsal tersebut.  Kami diberi kesempatan mendapatkan 1 pasien untuk 4 mahasiswa, alahamdulillah diberikan pasien yang sudah tenang, sehingga tidak khawatir unutk berbuat macam-macam. Pasien kami bernama Tn.AS. 35 tahun, alamatnya Suka Bumi Jabar. Pasien ini sudah 2 minggu berada di RS. Menurut keterangannya, di sempat di bawa pulang keluarganya karena dalam kondisi yang normal, namun kembali lagi karena mengalami kekambuhan. Satu per satu pertanyaan kami lontarkan kepada pasien, dan dengan enjoy disertai senda gurau kepada pasien. Ringkasnya, dia mempunyai gangguan pikir dan waham . Seperti yang kami tanyakan mengenai waktu dan tempat, dia menjawab kacau dan semau sendiri. Dan meiliki waham kebesaran, dengan mengatakn bahwa ia sudah naik haji 95 kali haji menggunkan bus, dan bisa membuat kitab, dan alat-alat canggih modern. Penggalian yang amat sulit, karena seidkit berbicara dan hanya menggunakan kalimat tertutup. Bertemu dengan orang dengan gejala psikotik memberi sedikit hiburan bagi kepenatan kami, walaupun yang pasti kami tetap berempati terhadap apa yang mereka rasakan. Menangani pasien dengan gangguan jiwa bukan hanya tugas dokter. Orang terdekat biasanya orang yang akan tahu lebih dulu jika ada sesuatu yang ganjil. Pasien dengan gangguan jiwa biasanya akan menceritakan keluhan yang ia alami. Dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, semoga bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa. Mereka adalah orang yang sakit dan memerlukan bantuan, bukan untuk dicemooh dan dihindari.
Tidak banyak yang kami dapatkan, mungkin faktor pengalaman yang mini dan waktu yang terbatas, namun hal ini merupakan pengalaman yang amat berharga dan lebih dari cukup untuk ukuran kita. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bekal ke depan. Waktu menujukkan pukul 15.30, pertanda kegiatan suadah selesai. Dan dilakukan penutupan dan pengembalian mahasiswa sebanyak 94 untuk kembali ke UIN Jakarta. Dari kunjungan ini tentu mendapat kesempatan yang luar biasa bisa berinteraksi langsung kepada pasien dengan gangguan psikotik untuk modal menjadi dokter dalam ko-as nanti. Pelajaran yang bisa kami ambil ialah bisa menempatkan diri sebagai seorang dokter untuk mengatasi penyakit kejiwaan, kemudian sebagia insan ciptaan Tuhan patut bersyukur atas nikmat yang diberikan hingga saat ini masih dalam kondisi yang stabil dan dalam lindunganNya, hal ini menambah semangat untuk senantiasa menjaga nikmat Allah ini dan terus menggunakan dengan sebaik-baiknya sesuai hak nya masing-masing.

Ciputat, Monday, Januari, 14th 2013 at 00:41 am.
Rico Irawan