Tepatnya hari jum’at, 11 Januari
2013, pada minggu akhir pelaksanaan Modul Saraf dan Jiwa semester V PSPD FKIK UIN
jakarta. Jadwalnya adalah kunjungan ke Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Setelah beberapa minggu berkutat dengan buku dan teori-teori mengani masalah
saraf dan kejiwaan berdasarkan DK (diskusi kelompok), ujian, hingga temu pakar,
kita hanya bisa mengandai-andai dan membayangkan ‘orang gila’ di jalan. Tentu menjadi
kesempatan dan anugerah tersendiri bisa mengamati langsung ke TKP, bahkan mampu
untuk menganalisis sejauh mana wawancara hingga diagnosa penyakit jiwa. Kegiatan
ini bertujuan untuk memberikan pemahaman,
pengertia, dan praktik langsung kepada pasien dengan gangguan jiwa,
sebagai salah satu modal dan cikal bakal menjadi dokter.
Perasaan was-was dan khawatir tentu
ada ketika terbayang di benak, mau kunjungan ke rumah sakit jiwa, tempat orang-orang
gila di rehabilitasi. Namun hal ini
menjadi sesuatu yang biasa dan keharusan untuk memahami, menelaah serta
mendiagnosa serta tatalaksana untuk kelainan jiwa. Perjalanan dari Ciputat (kampus
UIN) ke Bogor (RSMM), memakan waktu kurang lebih 2 jam karena cuaca yang tidak
bersahabat dilengkapi dengan kondisi kota yang macet. Terbilang terlambat 1
jam, akan tetapi tidak menurunkan semangat kita untuk bertemu ‘orang gila’ demi
seuntai ilmu kedokteran. Setibanya di RSMM Bogor disambut antusias oleh Pegawai
Rumah sakit. Tanpa jeda acara langsung di mulai hingga sambutan dan penerimaan
dari Dirut RSMM, bidang Sumber Daya Manusia dan Pendidikan Pelatihan, drg. Rahmad Syahmansyur, M.Kes. Dilanjutkan
dari Penangung jawab PSPD FKIK UIN Jakarta, dr. Flori R. Sari, Ph.D.
Sebelum Hospital touch (interksi
langsung) yang merupakan acara inti, di dahului dengan penyampaian materi
berupa profil RSMM, yang sudah berusia 1 abad lebih 30 tahun, didirikan oleh
Hindia Belanda (1882), merupakan Rumah sakit jiwa tertua di Indonesia, bahkan
ada yang menyebutkan Rumah Sakit Jiwa pertama di dunia. Sedikit ingin tahu ada
apa dengan nama Marzoeki Mahdi?, ternyata nama itu diangkat dari nama Dirut
pertama RSMM, dan pada tahun 2002 di resmikanlah nama menjadi RS. dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor. Begitulah singkatanya. Kemudian dilanjutkan materi tentang Empati
disertai Role Play, adegan acting oleh dr. Siti Halimah, Sp.KJ. Materi yang
sering disampaikan di kuliyah. Namun
saya tidak sepenuhnya mengikuti karena harus Shalat Jum’at.
Sampai di acara inti, yakni Hospital
Touch, interaksi dan mengamati pasien di bangsal. Kita dibagi menjadi 4
kelompok, tidak tahu persis satu per satu kelompoknya, dan saya berada di
kelompok 3, mendapat bagian kunjungan ke bangsal Gatot Kaca. Bangsal ini di
tempati oleh paisen Intermediet dan terbanyak pasien dengan diagnosis Skizofrenia
Paranoid, biasanya dalam orang awam disebut dengan orang gila, sedeng,
sableng, dan sebaginya.
Di bangsal kami dibimbing oleh
seorang dokter yang menjaga bangsal tersebut. Kami diberi kesempatan mendapatkan 1
pasien untuk 4 mahasiswa, alahamdulillah diberikan pasien yang sudah tenang,
sehingga tidak khawatir unutk berbuat macam-macam. Pasien kami bernama Tn.AS.
35 tahun, alamatnya Suka Bumi Jabar. Pasien ini sudah 2 minggu berada di RS. Menurut
keterangannya, di sempat di bawa pulang keluarganya karena dalam kondisi yang
normal, namun kembali lagi karena mengalami kekambuhan. Satu per satu pertanyaan
kami lontarkan kepada pasien, dan dengan enjoy disertai senda gurau kepada
pasien. Ringkasnya, dia mempunyai gangguan pikir dan waham . Seperti yang kami
tanyakan mengenai waktu dan tempat, dia menjawab kacau dan semau sendiri. Dan meiliki
waham kebesaran, dengan mengatakn bahwa ia sudah naik haji 95 kali haji menggunkan
bus, dan bisa membuat kitab, dan alat-alat canggih modern. Penggalian yang amat
sulit, karena seidkit berbicara dan hanya menggunakan kalimat tertutup. Bertemu
dengan orang dengan gejala psikotik memberi sedikit hiburan bagi kepenatan
kami, walaupun yang pasti kami tetap berempati terhadap apa yang mereka
rasakan. Menangani pasien dengan gangguan jiwa bukan hanya tugas dokter. Orang
terdekat biasanya orang yang akan tahu lebih dulu jika ada sesuatu yang ganjil.
Pasien dengan gangguan jiwa biasanya akan menceritakan keluhan yang ia alami.
Dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, semoga bisa mengubah pandangan
masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa. Mereka adalah orang yang sakit
dan memerlukan bantuan, bukan untuk dicemooh dan dihindari.
Tidak banyak yang kami dapatkan, mungkin
faktor pengalaman yang mini dan waktu yang terbatas, namun hal ini merupakan
pengalaman yang amat berharga dan lebih dari cukup untuk ukuran kita. Semoga bermanfaat
dan bisa menjadi bekal ke depan. Waktu menujukkan pukul 15.30, pertanda
kegiatan suadah selesai. Dan dilakukan penutupan dan pengembalian mahasiswa sebanyak
94 untuk kembali ke UIN Jakarta. Dari kunjungan ini tentu mendapat kesempatan
yang luar biasa bisa berinteraksi langsung kepada pasien dengan gangguan
psikotik untuk modal menjadi dokter dalam ko-as nanti. Pelajaran yang bisa kami
ambil ialah bisa menempatkan diri sebagai seorang dokter untuk mengatasi
penyakit kejiwaan, kemudian sebagia insan ciptaan Tuhan patut bersyukur atas
nikmat yang diberikan hingga saat ini masih dalam kondisi yang stabil dan dalam
lindunganNya, hal ini menambah semangat untuk senantiasa menjaga nikmat Allah
ini dan terus menggunakan dengan sebaik-baiknya sesuai hak nya masing-masing.
Ciputat, Monday,
Januari, 14th 2013 at 00:41 am.
Rico
Irawan