“Ibarat menumpahkan satu ember air
dalam lantai licin, aduh!!! Aku terpeleset olehnya. Tadinya untuk membersihkan lantai sebab
kotoran-kotoran kecil yang nakal. Eh, malah menyakitkan”.
Demikian kira-kira suatu ungkapan
konkret dalam cerita-cerita jalan klasik, jalan menuju kebaikan, katanya!.
Beberapa tahun lalu bisa dibilang anugerah yang tiada tara, amanah yang luar
biasa, sekaligus cobaan yang sedang beroperasi, ‘curent trial’. Namun
apakah demikian, jika semua dijalankan dengan nada-nada rendah, dengan
biasa-biasa saja, bisa dibilang usahanya sedikit sekali. Sedangkan Panutan kita
pernah bilang, suatu ganjaran atau keberhasialn itu tergantung usaha, sama
dengan. Seperti petani menanam padi, jagung atau yang lainnya, jika ia ingin
panennya banyak dan melimpah tentu butuh bibit yang unggul dan banyak pula.
Lagi-lagi kualitas perjalanan kisah perlu dicerminkan;
- Bagaimana usaha dan jerih payah kita selama ini?
- Apakah tindakan kita sudah spenuhnya?
- Apakah hari ini lebih baik dari kemarin, rugi atau untung?
- Manfaat kah hasilnya?
- Intinya ialah Intripeksi diri, tidak banyak bicara, no coment.!!!
- Autocurhat terkadang menyesatkan. Curhat yang tepat ialah curhat pada Allah maha Kasih.
- Bagaimana usaha dan jerih payah kita selama ini?
- Apakah tindakan kita sudah spenuhnya?
- Apakah hari ini lebih baik dari kemarin, rugi atau untung?
- Manfaat kah hasilnya?
- Intinya ialah Intripeksi diri, tidak banyak bicara, no coment.!!!
- Autocurhat terkadang menyesatkan. Curhat yang tepat ialah curhat pada Allah maha Kasih.
Perjalanan ini terdapat adanya furu’ Tholabul
Ilmi, Long life Study, Tujuannya ialah kehidupan dan cita yang tinggi,
namun tetap rendah hati akias tawadhdhu. Tidak bisa menafikan dengan ungkapan “dzuu
Himmatin yublaa bi ‘aysyin Dhoiqin”, yang artinya seseorang yang mempunyai
cita-cita tinggi dicoba dengan kehidupan yang sempit.
Wallahu a’lam
Wallahu a’lam