Terbesit bisikan ‘ibu ibu ibu...’ dalam jiwa ini, terbayang
ibu yang di seberang sana. Tak dirasa air mata ini menetes perlahan tanpa
tersadar. - Titip Kangan untuk Ibu -
Apapun yang ku lakukan, bahkan semua keinginan yang
ibu pinta dariku, dan aku berhasil memenuhinya, pasti itu semua sangat tidak
sebanding dengan apa yang telah kau beri. Sangat tidak bisa menandingi atas apa
yang telah engkau berikan padaku. Tak akan pernah bisa mengganti segala bentuk
perjuanganmu.
Saat masih didalam kandungan selama berbulan-bulan,
awal dan untuk pertama kalinya aku sudah mulai merepotkan Ibu. Kemanapun ibu
saat itu, aku membuat gerakmu terhambat. Aku membuatmu tak bernafsu untuk memakan
makan-makanan yang engkau sukai, itu karena diriku, ibu berusaha untuk berhenti
memakan apa yang menjadi kesukaanmu.
Saat benar-benar aku terlahir dengan tubuh yang masih
sangat mungil, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sepanjang hari dan
seringkali juga malam hari. Disaat Ibu sudah mulai bisa tertidur, akhirnya
usahamu untuk memejamkan mata, mendadak batal.
Suara tangisanku menjadi ulah semuanya dan memecah
kesunyian malam pada waktu itu. Aku hanya bisa menangis. Lagi-lagi, Ibu rela
menungguku sampai aku benar-benar nyaman dan diam tanpa bersuara lagi, pertanda
Ibu sudah menjawab segala pintaku dengan suara tangisan. Berkat komunikasi yang
Tuhan ajarkan padamu, engkau mengerti bahasa tangisanku. Engkau tahu semua
makna tangisanku.
Semakin hari, badanku mulai tumbuh besar. Aku bisa
merangkak, berjalan dan akhirnya aku bisa berlari-lari, bermain petak umpet.
Tidak jarang aku akhirnya main petak umpet denganmu.
Sampai usiaku kini sudah tidak anak-anak lagi. Baru
saja masuk dan menjadi pendatang baru di pintu dewasa. Aku besar dan bisa
melakukan ini-itu. Aku hidup jauh darimu. Timbullah rasa mengacuhkan dirimu.
Aku mulai tidak mendengarkan segala pintamu. Aku seringkali terlihat cuek,
tanpa mengindahkan apa yang kau inginkan dariku.
Tapi itu semua hanya perasaan yang tampak dari luar
saja. Sebenarnya aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Dalam waktu
dan jarak yang terpisah aku menangis dan sedih jika mengingat, lagi apa ibu
sekarang. Makan apa engkau sekarang? Sudah lama, aku tak pernah lagi satu rumah
dengan ibu. Hampir satu dekade lebih, aku hanya sesekali datang dan menginap
satu atap denganmu. Karena aku harus menemukan jalan kemandirianku agar tak
membebanimu terus-menerus, dan mampu melihat engkau tersenyum.
Segala bentuk mondar-mandirku selama ini, datang dan
pergi dari suatu tempat, menunggu dan menanti, melakukan sesuatu, hampir
semuanya caraku, mencari serta menemukan kepingan demi kepingan puzzle dimana
ujungnya akan aku persembahkan untukmu wahai Ibu.
Aku belum seperti kebanyakan orang, yang sudah
membelikan apapun yang ibu inginkan. Aku juga belum bisa mengiyakan semua
perintah yang terlontar dari mulut ibu. Aku ingin melihat ibu selalu tersenyum
melihat anak yang sudah dibesarkan ini bisa berhasil. Bisa melakukan apa yang
sesuai dengan cita-citaku
Kehidupan memang menyibukkan. Kadang aku tak pernah
punya waktu untuk memperhatikan dirimu. Hanya untuk sekedar menanyakan kabarmu,
seringkali aku lupa.
Pagi, siang, sore, dan malam hampir semuanya urusan
pribadi. Urusan apapun, sehingga aku benar-benar melupakanmu. Padahal, ada
engkau orang yang paling aku cintai duduk sepi di kejauhan sana, selalu
mengingat diriku. Aku jauh berbeda denganmu. Saat aku belum bisa apa-apa dulu,
engkau selalu ada buatku.
Aku tak ingin menjadi anak seperti dalam satu kisah.
Dimana saat itu, seorang anak dan ibunya, sedang duduk di sebuah bangku yang
ada di sebuah taman, lalu sang ibu bertanya pada anaknya, tentang apa yang
dilihatnya di atas danau tersebut. Lalu sang anak menjawabnya dengan jawaban
yang benar. Kemudian,sang ibu kembali bertanya pada anaknya tentang hal yang
sama.
Anaknya pun kembali menjawab dengan hal yang sama. Tak
puas, ibunya kembali bertanya dengan hal yang sama, itu apa? Lalu dengan nada
tinggi sang anak menjawabnya. Dan kembali sang ibu menjawab, tidakkah engkau
ingat, dulu waktu engkau masih belum bisa apa-apa, engkau banyak bertanya dan
aku menjawab semuanya, tanpa ada rasa kesal dalam diriku, ujar sang ibu.
Aku tak ingin seperti itu memperlakukan dirimu. Sesibuk
apapun diriku, aku bertekad tak ingin membuat hatimu terluka. Aku tak ingin
melupakan dirimu, apalagi karena urusan pekerjaanku, atau apapun itu. Seperti
kebanyakan anak yang merasa dirinya tak punya waktu untu merawat ibunya. Ada
yang sampai tega mengantarkan ibunya ke panti jompo. Aku tak ingin seperti itu.
Seandainya aku jadi orang dikemudian hari, aku bertekad tidak melupakannmu.
Sehebat apapun diriku kelak, aku tetap bukanlah siapa-siapa di hadapanmu. Aku
tetaplah anak yang cengeng.
Ibu. Aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu. Aku selalu
terbayang, waktu terus berjalan dan berputar mengejar matahari terbenam dan
akan berhenti pada masa tugasnya habis. Begitupun dengan kondisimu, wahai ibu.
Siang malam dengan parasmu cantikmu berubah. Semakin
hari semakin menampakan garis-garismembelah permukaan wajahmu. Rambutmu yang
sudah tidak satu warna lagi. Warna kebanyakan orang Indonesia. Tidak lagi
semuanya hitam. Namun sedikit-sedikit berganti menjadi putih. Suaramu yang
sedikit kehilangan volumenya, dan matamu yang semakin lama,semakin sayu.
Aku masih ingat saat aku masih kecil, banyak hal yang
membuat ibu harus mengeluarkan air mata atas kenakalanku sebagaimana anak-anak
superaktif lainnya. Suaramu yang memanggil saat aku sedang asyik bermain dengan
teman-temanku. Seringkali tak ku sadari bahwa aku harus kembali pulang. Aku
mengacuhkanmu. Sampai-sampai kesabaranmu tak tertahankan, engkau datang
ditempatku bermain, lalu memegang tanganku untuk pulang ke rumah, hanya untuk
sekedar aku makan siang dulu.Atau saat engkau membangunkan diriku yang terlelap
pulas di waktu pagi, aku seringkali menggerutu.
Itu dulu. Sekarang aku sudah jarang satu atap lagi
denganmu. Aku rindu. Aku kangen masa-masa itu. Aku ingin masa-masa itu
berulang. Mengisi hari-harinya dengan penuh kepatuhan dan berbuat apa yang ibu
inginkan dariku. Mendengarkan dan melakukannya dengan penuh semangat
sebagaimana aku bersemangat dalam bermain bersama teman-temanku.
Berbuat banyak dan yang dapat menyenangkan hati ibu.
Aku ingin buat engkau bangga melahirkanku dari rahimmu.
Andai suatu saat nanti aku memang ditakdirkan menjadi
orang yang berhasil, atau belum berhasil sepenuhnya, aku akan membalas semuanya
dengan apa yang aku bisa. Aku tak ingin ibu merasa kesepian karena berjauhan
dengan anak-anaknya. Aku ingin menemani masa-masa senjamu.
Meskipun selama ini, sepengetahuanku, ibu tak pernah
meminta apapun dari diriku. Jarang sekali melihat engkau mengeluh ini-itu.
Hampir dipastikan ibu selalu berhasil memendam sendiri segala kepiluanmu.
Sampai-sampai aku tak pernah melihatmu bersedih. Kalaupun engkau sedang ada
masalah, jalan satu-satunya hanya diam, dan duduk lama di atas sejadah.
Melakukan apa yang bisa dilakukan. Membaca dan bermunajat pada Tuhan.
Ibu, tanpa aku meminta doa darimu, pasti engkau sudah
lama, diam-diam mendoakan diriku agar selalu mendapatkan semua apa yang aku
inginkan. Tanpa aku ingatkan setiap harinya, engkau sudah mendoakanku. Tapi
ibu, sebagai anak yang tahu diri, aku harus meminta doa darimu, agar jalan yang
aku tempuh dapat berhasil.
Bagiku, ibu adalah seorang wanita yang sangat luar
biasa. Sepertinya ibu tak berharap apapun dariku tentang materi. Hanya satu
yang engkau harapkan. Setiap kali aku pergi melanglangbuana kemanapun diriku
berada, hanya satu pinta spesifik dari mulutmu, yaitu Jangan melupakan Tuhan.
Ya, hanya itu ucapan yang selalu diucapkannya berulang-ulang. Hampir tak pernah
bosan ia mengingatkanku.
Semoga ibuku selalu sehat di seberang sana. Tetap
semangat menjalani hari-hari. Dan yang terpenting mendapatkan lindungan dari
yang maha kuasa. Amin
Ciputat, 16 November 2013
Salam Rindu dari Sulungmu,