Minggu, 30 Desember 2012

PULPEN YANG MULAI TUMPUL, TAK SETAJAM DULU


Tertuanglah puisi atau lagu,
Guratan-guratan masa lalu.
Setiap singkup kerucut hatiku,
Membawa kembali kenangan-kenangan itu.

Semua kini berbeda,
Waktu habis tak terduga.
Banyak rencana berjajar tertata,
Waktu jua yang mengujinya.

Bait-bait berlagu memanjakan hidup,
Meski semakin jelas tetap tak berujung kuncup.
Jelas hidupku, tak tertata seperti dulu

Demikian prolog yang tertuang dalam sayup-sayupnya suara dalam jiwa. Tak bisa menafikan segala bentuk penganiayaan dalam fikiran, pemaksaan dalam hati, dan perkosaan dalam akal. Semua itu tersadar setiap saat, setiap langkah gemetar tubuh ini. semua hanya sekedar impian, ambisi, dan nafsu belaka. Bagaiaman Tuhan? Tapi keyakinan tetap penuh pada Mu, yang menciptakan hidup, juga kematian. Sabda Rasulnya tentang kebijakan berhidup dan berilmu amatlah jelas dan terverifikasi. Allah dan utusaNya selalu ada untuk hambanya, dan terus berusaha, husnudzhdzhon (positif thinking). Kesimpulannya adalah kalou Tuhan menyiapkan sesuatu, pasti Tuhan pula menyiapkan sebabnya. Keep thank God. (Ciputat, 31desember2012)


Minggu, 23 Desember 2012

Selamat Natal Menurut Al-Qur'an

    Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam
    bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau
    mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.
    Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: "Ada anak
    sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma
    ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu.
    Kalau ada yang datang katakan: 'Aku bernazar tidak
    bicara.'"
    
    "Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk.
    Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,"
    demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
    gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya
    menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang
    bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah
    yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta
    mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa:
    "Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
    pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
    ketika aku dibangkitkan hidup kembali."
          
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34.
Dengan  demikian,  Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan
selamat Natal pertama dari dan untuk  Nabi  mulia  itu,  Isa
a.s.
 
Terlarangkah   mengucapkan   salam   semacam  itu?  Bukankah
Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah  ada  juga  salam
yang  tertuju  kepada  Nuh,  Ibrahim,  Musa, Harun, keluarga
Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus  percaya
kepada  Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus
percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya  adalah  hamba
dan  utusan  Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh
nabi  dan  rasul.  Tidak  bolehkah kita merayakan hari lahir
(natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi  saw.  juga  merayakan  hari
keselamatan  Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa
'Asyura, seraya bersabda,  "Kita  lebih  wajar  merayakannya
daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s."
 
Bukankah,  "Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?"
seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
bersaudara?  Apa  salahnya  kita  bergembira  dan  menyambut
kegembiraan saudara kita dalam batas  kemampuan  kita,  atau
batas  yang  digariskan  oleh  anutan  kita?  Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat.
 
Banyak persoalan yang berkaitan  dengan  kehidupan  Al-Masih
yang   dijelaskan   oleh   sejarah   atau  agama  dan  telah
disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada  juga  yang
tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti
untuk merujuk kepercayaan kita.
 
Isa a.s. datang mermbawa  kasih,  "Kasihilah  seterumu  dan
doakan  yang  menganiayamu."  Muhammad  saw. datang membawa
rahmat, "Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang  di  langit
merahmatimu."  Manusia  adalah fokus ajaran keduanya; karena
itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.
 
Isa menunjuk  dirinya  sebagai  "anak  manusia,"  sedangkan
Muhammad  saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: "Aku
manusia seperti kamu." Keduanya datang  membebaskan  manusia
dari  kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan.
Ketika orang-orang mengira bahwa  anak  Jailrus  yang  sakit
telah   mati,   Al-Masih   yang  menyembuhkannya  meluruskan
kekeliruan mereka dengan berkata, "Dia  tidak  mati,  tetapi
tidur."  Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra
Muhammad, orang berkata: "Matahari mengalami gerhana karena
kematiannya." Muhammad saw. lalu menegur, "Matahari tidak
mengalami gerhana karena kematian atau  kehahiran  seorang."
Keduanya  datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah
dan tertindas -dhu'afa' dan al-mustadh'affin  dalam  istilah
Al-Quran.
 
Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan
Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa'
(Kata  Sepakat)  yang  ditawarkan  Al-Quran  kepada penganut
Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa  salahnya
mengucapkan   selamat   natal,  selama  akidah  masih  dapat
dipelihara dan selama ucapan itu  sejalan  dengan  apa  yang
dimaksud  oleh  Al-Quran  sendiri  yang  telah  mengabadikan
selamat natal itu?
 
Itulah antara lain alasan yang  membenarkan  seorang  Muslim
mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan
ritual . Di sisi lain,  marilah  kita  menggunakan  kacamata
yang melarangnya.
 
Agama,   sebelum   negara,   menuntut  agar  kerukunan  umat
dipelihara. Karenanya salah,  bahkan  dosa,  bila  kerukunan
dikorbankan  atas  nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa
pula, bila kesucian akidah  ternodai  oleh  atau  atas  nama
kerukunan.
 
Teks  keagamaan  yang  berkaitan dengan akidah sangat jelas,
dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan
dan  kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu
kata yang mungkin dapat menimbulkan  kesalahpahaman,  sampai
dapat   terjamin   bahwa   kata   atau  kalimat  itu,  tidak
disalahpahami. Kata "Allah," misalnya, tidak digunakan  oleh
Al-Quran,   ketika   pengertian  semantiknya  yang  dipahami
masyarakat jahiliah belum  sesuai  dengan  yang  dikehendaki
Islam.  Kata  yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah
Rabbuka  (Tuhanmu,  hai  Muhammad)  Demikian  terlihat  pada
wahlyu  pertama  hingga  surah  Al-Ikhlas.  Nabi saw. sering
menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, "Dimana Tuhan?" Tertolak riwayat sang menggunakan
redaksi itu karena ia  menimbulkan  kesan  keberadaan  Tuhan
pada  satu  tempat,  hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil
pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa,  para  ulama
bangsa  kita  enggan  menggunakan  kata  "ada"  bagi Tuhan,
tetapi "wujud Tuhan."
 
Natalan, walaupun berkaitan  dengan  Isa  Al-Masih,  manusia
agung  lagi  suci  itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam.  Nah,  mengucapkan  "Selamat Natal" atau menghadiri
perayaannya  dapat  menimbulkan  kesalahpahaman  dan   dapat
mengantar  kepada  pengaburan  akidah.  Ini  dapat  dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan  Al-Masih,  satu  keyakinan
yang  secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata  itu,  lahir  larangan   dan   fatwa   haram   itu,
sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat,
aktivitas  apa  pun  yang  berkaitan  dengan   Natal   tidak
dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal.
 
Adakah kacamata lain? Mungkin!
 
Seperti  terlihat,  larangan  ini  muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya   lebih   banyak   ditujukan   kepada   mereka  yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang  yang  ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau  mengucapkannya  sesuai  dengan   kandungan   "Selamat
Natal"   Qurani,   kemudian  mempertimbangkan  kondisi  dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan  adanya  larangan  itu.  Adakah
yang  berwewenang  melarang seorang membaca atau mengucapkan
dan menghayati satu ayat Al-Quran?
 
Dalam rangka interaksi  sosial  dan  keharmonisan  hubungan,
Al-Quran  memperkenalkan  satu  bentuk redaksi, dimana lawan
bicara   memahaminya   sesuai    dengan    pandangan    atau
keyakinannya,   tetapi  bukan  seperti  yang  dimaksud  oleh
pengucapnya. Karena, si  pengucap  sendiri  mengucapkan  dan
memahami   redaksi   itu   sesuai   dengan   pandangan   dan
keyakinannya. Salah  satu  contoh  yang  dikemukakan  adalah
ayat-ayat   yang   tercantum  dalam  QS  34:24-25.  Kalaupun
non-Muslim memahami ucapan "Selamat  Natal"  sesuai  dengan
keyakinannya,  maka  biarlah  demikian,  karena  Muslim yang
memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai  dengan  garis
keyakinannya.   Memang,  kearifan  dibutuhkan  dalam  rangka
interaksi sosial.
 
Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila  ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya.   Tetapi,   tidak   juga   salah   mereka    yang
membolehkannya,  selama  pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan  tetap  terpelihara  akidahnya,  lebih-lebih  jika   hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.
 
Dostojeivsky  (1821-1881),  pengarang Rusia kenamaan, pernah
berimajinasi tentang kedatangan kembali  Al-Masih.  Sebagian
umat  Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas
dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu,  kita
dapat  memastikan  bahwa  jika  benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada  saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga  sikap  dan
ucapan  umat  Muhammad  saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada  hari  Natalnya,  hari  wafat  dan  hari
kebangkitannya nanti.

MEMBUMIKAN AL-QURAN Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat Dr. M. Quraish Shihab Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996 Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038 mailto:mizan@ibm.net

Minggu, 02 Desember 2012

sumselku


Puji Allah Tuhan semesta alam, sholawat tercurahakan kepada Nabi Muhmmad wahai pembwa salam. Bebrapa jam yang lalu, saya menemukan ucapan Bapak Gubernur Alex Noedin, dan memberikan harapan dan dukungan kepada para mahasiswa kemitraan Santri Jadi Dokter Sumsel. Semoga temuan ini menjadi motivasi besar untuk bertanggung jawab dan mempertangung jawabkan amanah yang telah diberikan kepada kami. Dan kirim hadiyah Fatikhah buat Bapak Gubernur dan seluruh masyarakat Sumsel semoga baik-baik saja. Al-Fatikhah.........

dr. Rico
"Jangan kecewakan kami, jadi dokter itu berat, butuh perjuangan, terus bulatkan tekad dan semangat", ujar Gubernur Alex Noerdin



Janga Bersedih, Berserah Diri


Setengah bulan yang lalu genap usiaku menjadi 21. Entah sudah bisa apakan diriku?. Setidaknya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Sempat terfikir di benak ini, ucapan do’a dan permohonan suci agar ‘dikembalikan’ citra yang sempat pudar.

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, begitu kata orang. Mempunyai simbol-simbol kemulyaan dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Ya, manusia memiliki rasa dan dan pengertian. Oleh karena itu manusia bisa membuat robot, bisa menangis, bahkan bisa mencintai.

Menengok ke belakang beberapa tahun terakhir, nampaknya diri ini memiliki suatu garis jalan layaknya asap kabutnya pesawat-pesawat megah di atas sana.  Jika kita amati, asap putih itu tak akan terlihat ketika pesawat mulai mengibaskan sayapnya. Namun dapat terlihat jelas, jika ia mulai melewati jalur-jalur dan lintasan yang nakal. Begitu pun diri ini, tak akan terlihat dan terasakan jika hidup itu tanpa ujian, dan itu adalah hal yang mustahil. Memang benar dikatakan banyak orang, bahwa kehidupan itu merupakan story berupa kenikmatan, uci coba, godaan, dan job (kholifah). Dengan mengecualikan manusia sebagai hamba Tuhan.

Hidup itu mempunyai kunci berkah didalamnya. Yaitu, usaha (ikhtiar), do’a, dan tawakkal. Jika ketiganya sudah mampu dioptimalkan Insya Allah kesuksesan lagi keberkahan ada pada diri kita. Seseorang berusaha keras terus menerus tanpa adanya do’a dan permohonan kepada Allah, ia adalah orang yang sombong. Lalu, orang yang terus-terusan bermunajat dan berdo’a kepada Tuhan tanpa adanya usaha yang optimal, ia adalah orang yang malas. Bagaimana dengan tawakkal?. Tawakal berupa penyerahan diri dan pasarah diri kepada Allah dengan diiringi mendukung suatu usaha yang positif, bukan berdiam menunggu kepastian Allah. Itulah sebuah kehidupan . . .

Mungkin saya pernah merasakan ladzatnya suatu kenikamatan juga pahitnya suatu cobaan dan hukuman yang diberikan Tuhan. Apapun itu tugas hamba hanya bersyukur dan berbaik sangka bukan protes ataupun mencela. Dalam kehidupan sehari-hari sering cobaan datang layaknya meriam yang datang tiba-tiba dan amat tidak enak sekali. Juga tidk jarang suatu kenikmatan datang tanpa ada yang menduga. Jelas sekali keduanya tidak serta merta difahami dengan sekilas, tetapi butuh sifat manusia berupa pengertian. Tuhan memberikan cobaan dengan tujuan supaya sadar dan mampu mengoreksi intropeksi diri dengan sesama. Nah, kenikmatan ini jika ditinjau dari pengertiannya, kenikmatan itu juga bisa dikatakan sebagai cobaan. Karena ketika seseorang terlena oleh kenikmatan, bisa menimbulkan suatu kedzholiman oleh nikmat itu sendiri.

Banyak respon seseorang jika menemui jalan berupa ‘anggapan’ sebuah hukuman ataupun ketidakenakakan, sehingga menimbulkan frustasi dan kegalauan kronik yang sangat sulit hilangnya. Lantas, nagaimana seherusnya menyikapai ini? Tentu kita serahkan dan mengambil refrensi dari Allah. Allah pernah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 216 : 


Jumat, 30 November 2012

Catatan Akhir November


Bismillah, tampaknya tangan ini hendak menulis kembali setelah sekian bulan di tahun 2012 ini hanya posting 1 tulisan. Tidak lain pemicunya ialah kegalauan dan rasa kemalasan yang sudah berani membangkang.

Yah, ingat peristiwa 3 tahun lalu ketika saya masih akrab seakrab-akrabnya dengan yang namanya ‘Kitab Kuning’, beberapa bentuk ‘ubudiyah hampir terlaksana sesuai tuntutan. Seperti layaknya tumbuhan yang terus tinggi oleh sinar mentari sebagai energi. Dahulu juga seperti ini, ‘ubudiyah yang hampir terlalaikan, ketika ingat didepan ada gambaran dasar, terus yakin terealisasikan.
Hari-hari seperti itu lah yang kini terindukan. Jiwa ini kemarau, jiwa ini krisis akan maqolah-maqolah yang rutin di kumandangkan oleh Abah. Keyakinan dan lingkungan menjadi faktor eksternal dai krisis itu. Tuhan kembalikan kejayaan jiwa seperti masa itu.....

Ragu atau cobaan ?
Problem keraguan akan suatu perkara dan cobaan dari Allah amat berbeda definisnya. Namun keduanya sering ditemui dalam keseharian. Ketika suatu niat di i’tiqadkan dalam lubuk jiwa, otomatis setting awal sempurna tanpa keragu-raguan. Apakah di waktu selanjutnya akan muncul rasa ragu atas perkara yang ada? May be yes, may be no. Selanjutnya ada apa dengan cobaan?, acap kali cobaan untuk melakukan ibadah atau berbuat baik sering di barengi dengan sikap kerauan. Alasan untuk tidak melanjutkan ibadah atau perbuataan baik itu, jiwa ini selalu berfikir ragu-ragu atau cobaan?. Sehingga timbul kesimpulan dari semuanya, yaitu karena iman dan keyakinan kita sudah mulai mengikis oleh faktor internal dan eksternal. Apa itu? Continou we find in our life.

‘Keminter’
Keminter, ya, kata itu yang sangat dibenci. Keminter identik dengan sok tau dan sok mengerti. Jika ditinjau dari definisi yang berhubungan dengan peribadatan, hal ioni seperti terkan dung dalam wasiat Imam Ghozali: “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”.

Rahasia tamu dan menghormati ahlinya ilmu (gus)
Sering ditemui seorang mahasiswa didatangi tamu jauh, dan beralasan tidak bisa menemui dengan alasan sibuk. Sudah tidak masuk akal. Namun sebaliknya saya tidak pernah menyibukkan diri oleh abaikan tamu. Karena Nabi pernah menyabdakan haditsnya, intinya memulyakan tamu itu termasuk perbuatan baik, diantara beriman kepada Alah dan hari akhir. Dan dijanjikan akan menghilangkan keburukan-keburukan ahli tamu. Hal ini bisa dirasakan ada sebuah kenyamanan walaupun sesibuk apapun ketika kita memulyakan tamu. Dan yang terakhir adalah menghormati sekaligus memulykan ahli ilmu, dalam hal ini adalah putra kiayi yang sering disebit ‘Agus’. Acapa kali menjadi hobi tersendiri, yaitu timbul rasa senang dan happy walaupun tidak punya uang ketika datang gus dari jauh dan menymbangi kita dengan berbagi hikmah dan keilmuan sosial.
Ngopi sambil ngudut.  

Selasa, 24 Januari 2012

Rembulan Merindu

Di sana...
Kodok-kodok mengumandangkan suara-suara khas saat turun hujan
Bak komat-komat di mushola seberang
Rintihan seonggok pohon jambu pun terdengar sayup-sayup
Apa maunya.....
Apa pintanya....
Oh itulah desa
Hijau-hijau layak tentara
Ramah akan basa basinya
Oh disana.
Berbeda di sini
Kabut hitam menyolot masuk di sela-sela wajah tak bersalah
Onggokan pinta di jumpai di pinggir jalan
Wah kaget hati ini
Mikrolet-mikrolet menjajakan diri tuk di masuki
Suara gemuruh nan angkuh
bergemuruh denga klakson-klakson rusak
Di sana di sana, di sini di sini
Oh akumerindu
Teringat merumput untuk kambing tercinta
Teringat memancing di kolam liar
Teringat ku bermain layang-layang di padang ilalang
Teringa ku bermain bola di sawah orang
Oh aku merindu
Bagimana kau sekarang?
Apa masih seperti  5 tahun lalu
Dengan sepeda kau rela ku jajhi
Oh aku merindu.