Jumat, 18 Oktober 2013

Path--Fath ; Buka-bukaan

Pada beberapa waktu terakhir muncul medsos-medsos baru yang saya kiranya belum pantas untuk memilikinya, karena butuh aat elektronik anggih/touchscreen seperti aplikasi chat whats up, Line, serta khusus untuk kirim photo atau picture berupa Instagram  dan Path.
Yang unik, memaknai Path perlu diketahui berasal dari bahasa arab, yaitu al-Fath, artinya adalah buka atau buka-bukaan. Dan kali ini akan mencoba menshare poto di Fath (secara buka-bukaan).



ndak usah takabbur
Ied Qurban, 1434 H, Isriqlal Mosque.

Rico Irawan

Add caption

Toleran saja

Nah sedikit tadi sudah membuka, semoga dapat mengisi inovasi lagi. 











Jumat, 20 September 2013

perangai indah dari Abi ku



Salam!!!
Puji syukur atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, hingga kita dapat melangkak telapak demi telapak untuk arungi sebuah misi kehidupan. Kehidupan dalam sebuah planing jangka panjang, amat panjang. Semoga misi ini senantiasa diberikan rekomendasi dan ridho oleh Allah ‘Azza Wa Jalla.
Juga tanpa khilaf kupersembahkan sebuah pinta berupa rahmat ta’dzim untuk bagindaku yang agung diantara makhluk yang agung, Muhammad SAW, atas jerih payah mewujudkan suatu kesepakatan yang haq dan sebenar-benarnya hukum untuk menuju-Nya.
Sudah hampir 4 bulan, tak menyapa dan meneteskan pikir dalam blog ini, karena sebuah kesibukan yang perkosai jiwa. Dalam kesempatan ini kita akan sedikit berfikir tentang bentuk perangai yang indah; yaitu Sabar, Ikhlas, dan Syukur. Selain menjadi kunci seseorang untuk menjalani sebuah misi di atas, My Fath selalu pesan dengan tiga perangai itu. Sehingga aku belajar dari semua itu. Betapa sebuah misi kehidupan hakiki amat mudah di planing, namun usaha tidak hanya dengan lidah-lidah kotor, dan pita suara cempreng, namun butuh kesungguhan dan keyakinan berupa iman, islam, dan ihsan.
Aku belajar. Betapa hidup itu tidak selamanya berbuah manis dan indah, terkadang Ia memberikan peta jalan untuk sebuah najah, namun Dia mengizinkan aku memlalu sebuah ujian dan coba. Tapi aku tahu bahwa ia tidak akan pernah meninggalkanku. Dan kurasa patut untuk dinikmati, bersyukur adalah cara untuk menikmati anugerah yang amat indah.
Aku Belajar, Bahwa tidak semua yang aku harapakan akan menjadi kenyataan. Terkadang Ia membelokkan rencanaku, tetapi aku tahu, bahwa itu lebih baik dari apa yang aku rencanakan. Sebab itu aku berusaha belajar untuk menerima semua itu dengan subuah Keikhlasan.
Aku Belajar, Bahwa Cobaan itu pasti datang dalam hidupku. Aku tidak mungkin berkata,”tidak…Ya ALLAH..” Karena aku tahu bahwa semua itu tidak melampaui kekuatanku. Sebab itu aku berusaha belajar untuk mengahadapinya dengan kesabaran. Aku Belajar, bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, Karena semua rancanganNYA indah bagiku, Karena itu aku berusaha belajar, belajar dan belajar.

Jumat, 10 Mei 2013

‘Rupek’, zaman sekarang disebut galau


“Ibarat menumpahkan satu ember air dalam lantai licin, aduh!!! Aku terpeleset olehnya. Tadinya  untuk membersihkan lantai sebab kotoran-kotoran kecil yang nakal. Eh, malah menyakitkan”.

Demikian kira-kira suatu ungkapan konkret dalam cerita-cerita jalan klasik, jalan menuju kebaikan, katanya!. Beberapa tahun lalu bisa dibilang anugerah yang tiada tara, amanah yang luar biasa, sekaligus cobaan yang sedang beroperasi, ‘curent trial’. Namun apakah demikian, jika semua dijalankan dengan nada-nada rendah, dengan biasa-biasa saja, bisa dibilang usahanya sedikit sekali. Sedangkan Panutan kita pernah bilang, suatu ganjaran atau keberhasialn itu tergantung usaha, sama dengan. Seperti petani menanam padi, jagung atau yang lainnya, jika ia ingin panennya banyak dan melimpah tentu butuh bibit yang unggul dan banyak pula.

Lagi-lagi kualitas perjalanan kisah perlu dicerminkan;
- Bagaimana usaha dan jerih payah kita selama ini?
- Apakah tindakan kita sudah spenuhnya?
- Apakah hari ini lebih baik dari kemarin, rugi atau untung?
- Manfaat kah hasilnya?
- Intinya ialah Intripeksi diri, tidak banyak bicara, no coment.!!!
- Autocurhat terkadang menyesatkan. Curhat yang tepat ialah curhat pada Allah maha Kasih.

Perjalanan ini terdapat adanya furu’ Tholabul Ilmi, Long life Study, Tujuannya ialah kehidupan dan cita yang tinggi, namun tetap rendah hati akias tawadhdhu. Tidak bisa menafikan dengan ungkapan “dzuu Himmatin yublaa bi ‘aysyin Dhoiqin”, yang artinya seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi dicoba dengan kehidupan yang sempit.
Wallahu a’lam

Senin, 11 Maret 2013

Potret Kecil, Berkampus itu...?


Suatu saat nanti pasti semua orang tertawa lebar, ketika semua yang mereka ‘anggap’ hebat itu ternyata tidak beda dengan pelawak-pelawak seperti di TV. Mainan hingga bohong besar, ya munafik. Meilirik potret kecil tiap ujian blok modul perkuliyahan.
Dalam hal ini kehupan berkampus dipilih menjadi substitusi di atas skenario kehidupan. Sudah menjadi rahasia umum, berkampus merupakan kata indah namun penuh dengan ancaman, baik ancaman kesenangan maupun ancaman penderitaan hingga frustasi. Huh, sakit sekali rasanya. Berkampus, demi pencapaian pengetahuan, di dalamnya berisi belajar dan pencarian pengalaman. Sayang, dalam prosesnya belum bisa mengukur segalanya. Bukti nyata bisa dirasakan oleh perasaan nan suci.
Masalah yang menjadi ancaman besar yaitu mengacu pada penilaian secara subjektif untuk pencapaian nilai akademik. Dosen juga manusia, sehingga mutlak keliru dan salah pasti menyertainya. Di dalam skenario kehidupan, baik itu profesi, pencapaian pengetahuan, kepemimpinan dan organisasi, kompetisi, dan lain- lain.  Terdapat dua mekanisme, alami dan buatan. Tentu keduanya sudah bisa didefinisaikan lewat prase per prase. Singkatnya secara Automatic dan Manual, bisa juga kongnital (bawaan) dan dapatan. Memang hebat pada dasarnya atau hebat-hebatan saja. Evaluasi diatas tertuang dalam kesenangan sesaat dan selamanya.
Maksud di atas disimpulkan menjadi:
·        Mereka yang secara bangga mengatakan yang terhebat karena usahanya sendiri dan lahir batin dalam belajar
·        Mereka bangga karena memiliki keberuntungan di atas meja ujian tersedia lembar jawaban teman tanpa mau tahu resiko dan dampaknya.
·        Mereka bangga berapa pun atau bagaimana pun  hasilnya, yang terpenting ialah kerjanya sendiri
·        Mereka bersedih dan kecewa karena nasibnya belum beruntuing
·        Mereka bersedih karena atas nama penyesalan.
Rasanya kasihan ketika menyaksikan perasaan bangga mereka atas keberuntungan dan kelicikan kemudia mereka apresiasi kelicikan yang amat besar itu. Akan tetapi suatu saat nanti mereka akan tertawa besar atas kebusukan dan munafiknya.
Dibalik bangga atas kesenangan sesaat, ternyata ada kehebatan luar biasa yaitu perasaan bangga atas jerih payah dan kerja keras sendiri. Ketika muncul kegalaun diri yang bersumber dari hati nurani maupun hati tak nurani. Hal ini akan menimbulkan dampak yang tidak sedap ketika terbau oleh penghidu jiwa. Hakikatnya, jiwa suci manusia yang sebenarnya adalah jiwa (nafsu) Muthmainnah.
Seperti tertuang dalam sajian syair abadi, “wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu yang meridhai”.
Tetapi ada jiwa-jiwa yang lain yang ditimbulkan bukan karena kesucian, melainakn bersumber dari kekotorannya sendiri. Tidak sedikit jiwa kotor itu muncul akibat ulah dosen yang berotoriter atas kebijakan-kebijakan.
*bangga usah sendiri, dan diridhai Ilahi.
Selamat berkampus!!!!!!!!!!!!


Selasa, 05 Maret 2013

We Hear, We Look, We Talk, and We have Knowledge


Seorang anakdilahirkan dalam keadaaan tidak mengetahui apapun. Tidak berapa lama kemudian, indra si anak mulai berfundsi. Si anak mulai terpengeraruh oleh stimulus-stimulus dari luar yang tterjadi pada dirinya. Kejadian-kejadian itu akan menimbulkan beragam perasaan. Itulah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya persepsi dan pengetahuan anak terhadap dunia luar. Al-Qur’an telah mengisyaratkan kenyataan tersebut pada banyak ayat. Di antaranya :  1). “Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kalian pendengaran, pengelihatan dan hati supaya kalian bersyukur” QS. An-Nahl [16]:78, 2). “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kalian pendengaran, pengelihatan dan hati. Amat sedikitlah kalian bersyukur” QS. Al-Mu’minun [23]: 78, 3). “Katakanlah, ‘Dia-lah yang telah menjadikan kalian serta memberi kalian pendengaran, pengelihatan, dan hati. Amatlah sedikit kalian bersyukur” QS. Al-Mulk [67]: 23, 4). “Kemudian Dia menyempurnakan serta meniupkan  ke dalamnya ruh- Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, pengelihatan, dan hati. Sedikit sekali yang kalian syukuri” QS. As- Sajdah [32]: 9.
            Al-Qur’an hanya menyebut pendengaran dan pengelihatan sebagai dua alat indra. Pertama, karena pentingnya pendengaran dan pengelihatan dalam proses persepsi. Kedua, penyebutan pendengaran dan pengelihatan cukup untuk menunjukkan urgensi semua alat indra dalam proses persepsi. Inilah di antara karakteristik gaya bahasa Al-Qur’an yang ringkas dan mendalam, yaitu cukup dengan kiasan dan isyarat untuk menunjukkan hakikat-hakikat mendasar yang bersifat umum, serta mengabaikan pemerian.
            Dalam banyak ayat Al-Qur’an, pendengaran disebutkan lebih dulu daripada pengelihatan karena beberapa alas an berikut.
Pertama, pendengaran lebih penting daripada pengelihatan dalam proses persepsi, belajar , dan perolehan ilmu. Manusia masih mungkin untuk belajar bahasa dan memperoleh pengetahuan nila kehilangan pengelihatannya. Di antara yang menunjukkan pentingnya pendengaran dalam persepsi dan belajar bahasa-(bahasa termasuk instrument paling penting dalam berfikir dan memperoleh pengetahuan)- adalah Al-Qur’an hanya menyebut pendengaran beserta akal untuk menandakan kaitan erat antara pendengaran dan akal. “Dan mereka berkata, ‘Kalaulah kami mendengar atau memahami, tentu tidaklah kami termasuk para penghuni neraka yang menyala-nyala”. QS. Al-Mulk [67]: 10.
            Karena kaitan erat antara pendengaran dan akal tersebut, dalam banyak ayat Al-Qur’an disebutkan kata mendengar, tetapi dalam arti memahami, berfikir, dan mempertimbangkan. “Rabbana, sesungguhnya kami mendengar seruan seseorang yang menyeru kepada iman (yaitu): hendaknya kalian beriman kepada Rabb kalian, maka kami pun beriman ….” QS. Ali-Imran [3]: 193, “Dan bahwasannya kami, ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya ….” QS. Al-Jinn [72] :13, “Dan Kami mmengunci mati kalbu mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar?” QS. Al-A’raf [7]: 100.
            Kedua, indra pendengar akan langsung bekerja seusai persalinan. Anak akan langsung dapat mendengar suara-suara setelah persalinan. Adapun untuk dapat melihat sesuatu dengan jelas, si anak membutuhkkan waktu beberapa saat*
            Ketiga, indra pendengar melaksanakan fungsinya secara terus menerus tanpa henti, sedangkan indra pengelihatan adakalanya berhenti melaksanakan fungsinya ketika manusia menutup kedua matanya atau ketika tidur. Suara nyaring juga dapat  membangunkan manusia dari tidurnya. Oleh sebab itu, dalam kisah Ashhabul Kahfi Allah SWT menerangkan bahwa Dia menutup telinga mereka hingga mereka terlelap tidur, dan suara pun tidak membuat mereka terbangun. “Kemudian Kami, menutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun”. QS. Al-Kahfi [18]: 11.
          Keempat, indera pendengar dapat mendengar semua suara, baik dalam gelap maupun terang, sedangkan indra pengelihatan hanya dapat melihat dalam cahaya. Al-Qur’an juga menyebut “as-sam’u” (pendengaran) dalam bentuk tunggal, sedangkan “al- abshar” (pengelihatan) disebutkan dalam bentuk jamak. Hal ini  termasuk bukti kemukjizatan gaya bahasa Al-Qur’an. Sebab indra pendengar dapat menerima suara yang dating dari segala arah, sedangkan mata hanya dapat melihat bila manusia mengarahkan pandangannya kea rah sesuatu yang ingin dilihatnya. Jika terdengar suara dari suatu tempat yang dihuni banyak orang, mereka semua akan mendengar suara yang sama. Namun jika mereka melihat sesuatu yang sama dari sudut yang berbeda-beda, pengelihatan mereka kepada sesuatu itu tidak akan sama persis. Demikian pula terkadang mereka melihat sesuatu yang berbeda di waktu yang sama sesuai dengan arah yang mereka lihat. Selain itu, jika kita mendenbgar suara yang berasal dari suatu tempat secara langsung berada di hadapan kita, gelombang suara akan sampai ke dua telinga dalam waktu yang bersamaan. Juga kuatnya pengaruh suara pada kedua gendang telinga akan sama. Akan tetapi, jika kita melihat sesuatu yang terletak di hadapan kita, bentuk yang tergambar pada retina mata kanan akan berbeda dengan bentuk yang tergambar pada retina mata kiri. Sebab mata kanan melihat sesuatu dari sisi kanan, sedangkan mata kiri melihat sesuatu dari sisi kiri.

*Beberapa penelitian fisiologi moderen mengungkapkan bahwa anak yang baru lahir bias merespons suara-suara yang nyaring. Tetapi belum biasa  merespons suara-suara yang sangat perlahan. Penelitian-penelitiaan tersebut juga menjelaskan bahwa gambar-gambar belum terlihat jelas oleh kedua mata sianak yang baru lahir itu hingga bulan keenam. Ini disebabkan perkembangan retina barulah sempurna pada akhir enam bulan pertama pascakelahiran.

Minggu, 13 Januari 2013

REFLEKSI DIRI Kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Modul Saraf Jiwa 2012



Tepatnya hari jum’at, 11 Januari 2013, pada minggu akhir pelaksanaan Modul Saraf dan Jiwa semester V PSPD FKIK UIN jakarta. Jadwalnya adalah kunjungan ke Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Setelah beberapa minggu berkutat dengan buku dan teori-teori mengani masalah saraf dan kejiwaan berdasarkan DK (diskusi kelompok), ujian, hingga temu pakar, kita hanya bisa mengandai-andai dan membayangkan ‘orang gila’ di jalan. Tentu menjadi kesempatan dan anugerah tersendiri bisa mengamati langsung ke TKP, bahkan mampu untuk menganalisis sejauh mana wawancara hingga diagnosa penyakit jiwa. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman,  pengertia, dan praktik langsung kepada pasien dengan gangguan jiwa, sebagai salah satu modal dan cikal bakal menjadi dokter.
Perasaan was-was dan khawatir tentu ada ketika terbayang di benak, mau kunjungan ke rumah sakit jiwa, tempat orang-orang gila di rehabilitasi.  Namun hal ini menjadi sesuatu yang biasa dan keharusan untuk memahami, menelaah serta mendiagnosa serta tatalaksana untuk kelainan jiwa. Perjalanan dari Ciputat (kampus UIN) ke Bogor (RSMM), memakan waktu kurang lebih 2 jam karena cuaca yang tidak bersahabat dilengkapi dengan kondisi kota yang macet. Terbilang terlambat 1 jam, akan tetapi tidak menurunkan semangat kita untuk bertemu ‘orang gila’ demi seuntai ilmu kedokteran. Setibanya di RSMM Bogor disambut antusias oleh Pegawai Rumah sakit. Tanpa jeda acara langsung di mulai hingga sambutan dan penerimaan dari Dirut RSMM, bidang Sumber Daya Manusia dan Pendidikan Pelatihan, drg. Rahmad Syahmansyur, M.Kes. Dilanjutkan dari Penangung jawab PSPD FKIK UIN Jakarta, dr. Flori R. Sari, Ph.D.
Sebelum Hospital touch (interksi langsung) yang merupakan acara inti, di dahului dengan penyampaian materi berupa profil RSMM, yang sudah berusia 1 abad lebih 30 tahun, didirikan oleh Hindia Belanda (1882), merupakan Rumah sakit jiwa tertua di Indonesia, bahkan ada yang menyebutkan Rumah Sakit Jiwa pertama di dunia. Sedikit ingin tahu ada apa dengan nama Marzoeki Mahdi?, ternyata nama itu diangkat dari nama Dirut pertama RSMM, dan pada tahun 2002 di resmikanlah nama menjadi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Begitulah singkatanya. Kemudian dilanjutkan materi tentang Empati disertai Role Play, adegan acting oleh dr. Siti Halimah, Sp.KJ. Materi yang sering disampaikan di kuliyah.  Namun saya tidak sepenuhnya mengikuti karena harus Shalat Jum’at.
Sampai di acara inti, yakni Hospital Touch, interaksi dan mengamati pasien di bangsal. Kita dibagi menjadi 4 kelompok, tidak tahu persis satu per satu kelompoknya, dan saya berada di kelompok 3, mendapat bagian kunjungan ke bangsal Gatot Kaca. Bangsal ini di tempati oleh paisen Intermediet dan terbanyak pasien dengan diagnosis Skizofrenia Paranoid, biasanya dalam orang awam disebut dengan orang gila, sedeng, sableng, dan sebaginya.  
Di bangsal kami dibimbing oleh seorang dokter yang menjaga bangsal tersebut.  Kami diberi kesempatan mendapatkan 1 pasien untuk 4 mahasiswa, alahamdulillah diberikan pasien yang sudah tenang, sehingga tidak khawatir unutk berbuat macam-macam. Pasien kami bernama Tn.AS. 35 tahun, alamatnya Suka Bumi Jabar. Pasien ini sudah 2 minggu berada di RS. Menurut keterangannya, di sempat di bawa pulang keluarganya karena dalam kondisi yang normal, namun kembali lagi karena mengalami kekambuhan. Satu per satu pertanyaan kami lontarkan kepada pasien, dan dengan enjoy disertai senda gurau kepada pasien. Ringkasnya, dia mempunyai gangguan pikir dan waham . Seperti yang kami tanyakan mengenai waktu dan tempat, dia menjawab kacau dan semau sendiri. Dan meiliki waham kebesaran, dengan mengatakn bahwa ia sudah naik haji 95 kali haji menggunkan bus, dan bisa membuat kitab, dan alat-alat canggih modern. Penggalian yang amat sulit, karena seidkit berbicara dan hanya menggunakan kalimat tertutup. Bertemu dengan orang dengan gejala psikotik memberi sedikit hiburan bagi kepenatan kami, walaupun yang pasti kami tetap berempati terhadap apa yang mereka rasakan. Menangani pasien dengan gangguan jiwa bukan hanya tugas dokter. Orang terdekat biasanya orang yang akan tahu lebih dulu jika ada sesuatu yang ganjil. Pasien dengan gangguan jiwa biasanya akan menceritakan keluhan yang ia alami. Dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, semoga bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa. Mereka adalah orang yang sakit dan memerlukan bantuan, bukan untuk dicemooh dan dihindari.
Tidak banyak yang kami dapatkan, mungkin faktor pengalaman yang mini dan waktu yang terbatas, namun hal ini merupakan pengalaman yang amat berharga dan lebih dari cukup untuk ukuran kita. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bekal ke depan. Waktu menujukkan pukul 15.30, pertanda kegiatan suadah selesai. Dan dilakukan penutupan dan pengembalian mahasiswa sebanyak 94 untuk kembali ke UIN Jakarta. Dari kunjungan ini tentu mendapat kesempatan yang luar biasa bisa berinteraksi langsung kepada pasien dengan gangguan psikotik untuk modal menjadi dokter dalam ko-as nanti. Pelajaran yang bisa kami ambil ialah bisa menempatkan diri sebagai seorang dokter untuk mengatasi penyakit kejiwaan, kemudian sebagia insan ciptaan Tuhan patut bersyukur atas nikmat yang diberikan hingga saat ini masih dalam kondisi yang stabil dan dalam lindunganNya, hal ini menambah semangat untuk senantiasa menjaga nikmat Allah ini dan terus menggunakan dengan sebaik-baiknya sesuai hak nya masing-masing.

Ciputat, Monday, Januari, 14th 2013 at 00:41 am.
Rico Irawan