Seorang anakdilahirkan dalam keadaaan tidak mengetahui apapun. Tidak berapa
lama kemudian, indra si anak mulai berfundsi. Si anak mulai terpengeraruh oleh
stimulus-stimulus dari luar yang tterjadi pada dirinya. Kejadian-kejadian itu
akan menimbulkan beragam perasaan. Itulah yang kemudian menjadi dasar
terbentuknya persepsi dan pengetahuan anak terhadap dunia luar. Al-Qur’an telah
mengisyaratkan kenyataan tersebut pada banyak ayat. Di antaranya
: 1). “Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kalian
pendengaran, pengelihatan dan hati supaya kalian bersyukur” QS. An-Nahl
[16]:78, 2). “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kalian pendengaran,
pengelihatan dan hati. Amat sedikitlah kalian bersyukur” QS. Al-Mu’minun
[23]: 78, 3). “Katakanlah, ‘Dia-lah yang telah menjadikan kalian serta
memberi kalian pendengaran, pengelihatan, dan hati. Amatlah sedikit kalian
bersyukur” QS. Al-Mulk [67]: 23, 4). “Kemudian Dia menyempurnakan serta
meniupkan ke dalamnya ruh- Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian
pendengaran, pengelihatan, dan hati. Sedikit sekali yang kalian syukuri”
QS. As- Sajdah [32]: 9.
Al-Qur’an
hanya menyebut pendengaran dan pengelihatan sebagai dua alat indra. Pertama,
karena pentingnya pendengaran dan pengelihatan dalam proses persepsi. Kedua,
penyebutan pendengaran dan pengelihatan cukup untuk menunjukkan urgensi semua
alat indra dalam proses persepsi. Inilah di antara karakteristik gaya bahasa
Al-Qur’an yang ringkas dan mendalam, yaitu cukup dengan kiasan dan isyarat
untuk menunjukkan hakikat-hakikat mendasar yang bersifat umum, serta
mengabaikan pemerian.
Dalam
banyak ayat Al-Qur’an, pendengaran disebutkan lebih dulu daripada pengelihatan
karena beberapa alas an berikut.
Pertama, pendengaran lebih
penting daripada pengelihatan dalam proses persepsi, belajar , dan perolehan
ilmu. Manusia masih mungkin untuk belajar bahasa dan memperoleh pengetahuan
nila kehilangan pengelihatannya. Di antara yang menunjukkan pentingnya
pendengaran dalam persepsi dan belajar bahasa-(bahasa termasuk instrument
paling penting dalam berfikir dan memperoleh pengetahuan)- adalah Al-Qur’an
hanya menyebut pendengaran beserta akal untuk menandakan kaitan erat antara
pendengaran dan akal. “Dan mereka berkata, ‘Kalaulah kami mendengar atau
memahami, tentu tidaklah kami termasuk para penghuni neraka yang menyala-nyala”.
QS. Al-Mulk [67]: 10.
Karena
kaitan erat antara pendengaran dan akal tersebut, dalam banyak ayat Al-Qur’an
disebutkan kata mendengar, tetapi dalam arti memahami, berfikir, dan
mempertimbangkan. “Rabbana, sesungguhnya kami mendengar seruan seseorang
yang menyeru kepada iman (yaitu): hendaknya kalian beriman kepada Rabb kalian,
maka kami pun beriman ….” QS. Ali-Imran [3]: 193, “Dan bahwasannya
kami, ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya ….” QS. Al-Jinn
[72] :13, “Dan Kami mmengunci mati kalbu mereka sehingga mereka tidak dapat
mendengar?” QS. Al-A’raf [7]: 100.
Kedua, indra
pendengar akan langsung bekerja seusai persalinan. Anak akan langsung dapat
mendengar suara-suara setelah persalinan. Adapun untuk dapat melihat sesuatu
dengan jelas, si anak membutuhkkan waktu beberapa saat*
Ketiga, indra
pendengar melaksanakan fungsinya secara terus menerus tanpa henti, sedangkan
indra pengelihatan adakalanya berhenti melaksanakan fungsinya ketika manusia
menutup kedua matanya atau ketika tidur. Suara nyaring juga
dapat membangunkan manusia dari tidurnya. Oleh sebab itu, dalam
kisah Ashhabul Kahfi Allah SWT menerangkan bahwa Dia menutup telinga mereka
hingga mereka terlelap tidur, dan suara pun tidak membuat mereka
terbangun. “Kemudian Kami, menutup telinga mereka di dalam gua itu
selama beberapa tahun”. QS. Al-Kahfi [18]: 11.
Keempat, indera pendengar dapat mendengar semua suara, baik
dalam gelap maupun terang, sedangkan indra pengelihatan hanya dapat melihat
dalam cahaya. Al-Qur’an juga menyebut “as-sam’u” (pendengaran) dalam bentuk
tunggal, sedangkan “al- abshar” (pengelihatan) disebutkan dalam bentuk jamak.
Hal ini termasuk bukti kemukjizatan gaya bahasa Al-Qur’an. Sebab
indra pendengar dapat menerima suara yang dating dari segala arah, sedangkan
mata hanya dapat melihat bila manusia mengarahkan pandangannya kea rah sesuatu
yang ingin dilihatnya. Jika terdengar suara dari suatu tempat yang dihuni
banyak orang, mereka semua akan mendengar suara yang sama. Namun jika mereka
melihat sesuatu yang sama dari sudut yang berbeda-beda, pengelihatan mereka kepada
sesuatu itu tidak akan sama persis. Demikian pula terkadang mereka melihat
sesuatu yang berbeda di waktu yang sama sesuai dengan arah yang mereka lihat.
Selain itu, jika kita mendenbgar suara yang berasal dari suatu tempat secara
langsung berada di hadapan kita, gelombang suara akan sampai ke dua telinga
dalam waktu yang bersamaan. Juga kuatnya pengaruh suara pada kedua gendang
telinga akan sama. Akan tetapi, jika kita melihat sesuatu yang terletak di
hadapan kita, bentuk yang tergambar pada retina mata kanan akan berbeda dengan
bentuk yang tergambar pada retina mata kiri. Sebab mata kanan melihat sesuatu
dari sisi kanan, sedangkan mata kiri melihat sesuatu dari sisi kiri.
*Beberapa
penelitian fisiologi moderen mengungkapkan bahwa anak yang baru lahir bias
merespons suara-suara yang nyaring. Tetapi belum biasa merespons
suara-suara yang sangat perlahan. Penelitian-penelitiaan tersebut juga
menjelaskan bahwa gambar-gambar belum terlihat jelas oleh kedua mata sianak
yang baru lahir itu hingga bulan keenam. Ini disebabkan perkembangan retina
barulah sempurna pada akhir enam bulan pertama pascakelahiran.