Angin duduk begitu orang awam
menyebutnya, familiar di sekitar kita menjadi sebuah kepanikan tersendiri bagi
orang di sekitarnya apabila seseorang mengalkami gejala tersebut, sehingga
bukan pertolongan gawat darurat melainkan pasrah dg keadaan disebabkan ketidaktahuan.
Dalam istilah kedokteran angin duduk
disebut Angina Pectoris, gangguan gawat darutat jantung bagian dari Sindrom
koroner akut/ Pengakit Jantung Koroner. Namun
dalam praktiknya bukan hanya angian pectoris, tapi bisa STEMI atau NSTEMI. Penyakit
ini memang menjadi ancaman bagi setiap orang yang mengalaminya. Apabial
pertolongan tidak segera dilakukan, ketepatan diagnosis, hingga ketepatan
terapi menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingkat survival pasien, tanpa
melihat masalah faktor pencetus dll.
Berikut ulasan pengalaman mendapatkan
pasien seperti di atas;
Tn. X, 65 th laki laki, datang ke unit gawat darurat RS
diantar oleh keluarga pasien, merupakan rujukan dari Klinik setelah dirawat 1
hari dg diagnosis Sindrom Dispepsia. Pasien datang dg keluhan utama Nyeri dada
sepeti tertindih beban yang hilang timbul sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dada
disertai nyeri ulu hati, nyeri menjalar ke lengan kanan hingga ke punggung,
leher dan rahang, disertai keluar keringan dingin. Pasien memiliki riwayat hipertensi
dan Kolesterol.
Pada pemeriksaan fisik
didapatkan
-
Keadaan Umum: Sadar Penuh (Compos Mentis)
-
Tanda Vital
TD 150/100 mmHg, Nadi 70 kali/menit, Res 20 kali/menit, Suhu 36.7 oC
-
Status Generalis
o
Kepala : Normochephal,
tdk deformitas
o
Mata : Conjungtiva
tidak pucat, sklera tdk ikterik
o
THT : tdk ada Pernapasan cuping hidung
o
Leher: tidak
ada peningkatan tekanan JPV
o
Thorax : Paru Suara Nafas vesikular, Rhonki -/-
WheezinG -/-
Jantung Bj I, II reguler tdk ada
tambahan banyi jantung
o
Abdomen : Supel, datar, nyeri tekan epigastrium (+),
BU (+) normal
o
Ektremitas : akral hangat, edema -/-
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang:
EKG
Laboratorium
Darah rutin; Hb: 13.2, Leukosit
8900, Trombosit 238.000, Ht 36 %
Kolesterol 250,
Trigliserida 190
CK 75, CKMB 1121
Assesment
Diagnosis STEMI
Anterior ekstensif dg killip II
Hipertensi
gr II
Tatalaksana
-
Bed Rest
-
O2 3-4 lpm Nasal Kanul
-
ISDN 5mg
-
Aspilet 80 mg
-
Clopidogrel 75 mg
-
Captorpil 12.5 mg
-
Rujuk ke RS tipe lebih atas untuk dilakukan trobolitik atau PCI
Setelah di terapi emergensi dan dilakukan pemeriksaan lab,
tiba-tiba pasien kejang dan penurunan kesadaran. Henti napas, nadi tidak
teraba, dan tekanan darah tidak terukur.
Dilakukan EKG, Hasilnya VF.
Selanjutnya dilakukan defibrilator/ kejut listrik, tiba-tiba
irama EKG asistol. Dilanjutkan dilakukan kompresi jantung paru (CPR) dg 5
siklus, setelah optimal CPR tidak berhasil dan pasien dinyatakan meninggal.
Dari cerita di atas, tentu kita bisa ambil pelajaran, bahwa
penyakit jantung kooner amat sangat mengancam jiwa, butuh ketelitian tersendiri
mulai dari diagnosis, terapi, dan timing hingga pasien dapat berhasil survive.
Acute Coronary Syndrome, sindrom koroner akut, atau penyakit jantung koroner
merupakan kelainan pembuluh darah jantung yang disebabkan adanya penyempitan
lumen pembulh darah jantung oleh sumbatan plak, sehingga pasokan oksigen yang
dihantarkan menuju otot jantung tidak memenuhi, sehingga timbul iskemik, hingga
nekrosis. Dan pada pemeriksaan enzim jantung meningkat sebagai pertanda
kerusakan otot jantung. Dalam diagnosa medis bisa disebut Acute Miocard Infark
(infark miokard akut).
Infark miokard sebagai
gangguan jantung yng tidak stabil terbagi menjadi tiga, Pemeriksaan EKG dan
lab. Enzim jantung sebagai patokannya,
- STEMI ditandai dg adanya Segmen ST elevasi pada EKG dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I. STEMI (ST Elevasi Miokard Infark)
- NSTEMI ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
- UAP (unstable Angina Pectoris), ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan tidak adanya peningkatan enzim jantung, seperti CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
