Selasa, 08 November 2011

“Never Leave History”


Bung Tomo merupakan tokoh pemuda yang terkenal karena heroismenya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA (Inggris dan sekutu). Heroisme Bung Tomo  tidak bisa dipisah dari pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Atas jasa-jasa perjuangannya, Bung Tomo didaulat sebagai Pahlawan  Indonesia pada 10 November 2008.
Sebagai seorang jurnalis, pada Oktober dan November 1945, Bung Tomo berusaha membangkitkan semangat rakyat Surabaya melalui radio-radio untuk memperjuangkan darah kemerdekaan. 
Puluhan ribu bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia tewas karena melakukan perjuangan maupun disiksa oleh penjahat-penjahat Belanda, Inggris cs dan Jepang selama menjajah nusantara. Teruntuk bagi para pejuang kemerdekaan, mereka rela meninggalkan istri, anak, orang tua, harta untuk merebut kemerdekaan. Hal terbesar adalah mereka mengorban keringat, darah bahkan nyawa untuk membela, memperjuangkan rakyat Indonesia bebas dari belenggu penjajahan, penindasan.
Seberapa pentingkah kemerdekaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu?  Hanya satu kalimat “Merdeka atau Mati!”. Merdeka dalam artian merdeka secara politik, berdirikari dalam bidang ekonomi, dan terbebasnya belenggu penindasan dan kemiskinan. Untuk mencapai itu semua, segenap rakyat Indonesia dari sabang ampai marauke yang terjajah oleh Belanda selama 350 tahun terus berjuang dan bertempur. Semua suku melakukan usaha yang sama untuk mengusir penjajahan (Belanda, Jepang, NICA). Atas darah, nyawa dan harta, maka berdirilah NKRI yang merupakan hasil perjuangan segenap bangsa Indonesia. Berdirinya NKRI merupakan hasil akumulasi perjuangan atas segenap suku, agama dan kelompok di Indonesia.
Pahlawan Masa Kini
Sudah 66 tahun Indonesia merdeka, sudah 13 tahun pula reformasi bergulir, namun masih berjuta-juta rakyat Indonesia belum layak disebut merdeka. Mereka hidup dibawah kerangkengan nasib hidup yang tidak menentu. Tiada rumah seindah istana, yang ada hanyalah gubuk reyok atau dinding-dinding karton di bawah jembatan. Ditengah puluhan juta angka kemiskinan dan pengangguran serta utang negara yang membengkak, korupsi merasuk di setiap lini kehidupan. Distorsi penegakan hukum terjadi, yang kaya dan berkuasa dapat bebas dari dakwaan, sementara yang miskin dan tiada kuasa tidak berdaya menghadapi penguasa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”
—Bung Karno – Pidato Hari Pahlawan 10 Nop. 1961—
Berbagai aduan kasus pidana yang melanda penguasa tidak tersentuh  oleh penegak hukum (Dana Pilpres 2004 dan Dana Pilpres 2009). Kuncuran dana bailout Century yang membengkak hingga Rp 6.7 triliun menjadi salah satu kasus yang belum terkuak. Bagaimana pula dengan dugaan kriminilasi para pimpinan KPK? Jika demikian, apakah masih perlu kita repot-repot mengadakan peringatan Hari Pahlawan 10 November? Bukankah lebih baik kalau perhatian kita dicurahkan kepada pemberantasan korupsi, yang sudah jelas-jelas mendatangkan kerusakan parah di bidang moral, dan menyebabkan kerugian begitu besar kepada negara dan rakyat? Apakah peringatan Hari Pahlawan masih ada artinya, ketika persatuan dan kesatuan bangsa kita sedang dikoyak-koyak oleh berbagai sentimen negatif kesukuan dan dikotori pertentangan agama?

Degradasi moral, perilaku diskriminatif serta koruptif  merupakan masalah tersendiri. Namun, peringatan Hari Pahlawan merupakan momen yang sama pentingnya selama seluruh rakyat Indonesia mendapat esensi peringatan tersebut. Apa itu? Semangat revolusioner, semangat berjuang, semangat berkorban dan berkarya bagi bangsa dan negara. Itulah esensi. Itulah nilai moral yang harus ditanamkan pada rakyat, terutama para pemimpin. Janganlah mencari ‘makan’, ‘intan permata’, ‘prestise’ di kursi kekuasaan.
Karena situasi negara dan bangsa sudah begini bobrok, maka kita semua perlu mengangkat tinggi-tinggi jiwa agung dan revolusioner yang terkandung dalam Hari Pahlawan. Salah satu tokoh nasional yang paling menonjol dalam mengangkat arti para pahlawan dalam perjuangan pembebasan bangsa adalah Bung Karno. Dalam pidato Hari Pahlawan 10 November 1961, Presiden Soekarno berpesan Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya“.
Pahlawan seperti apa? Pahlawan disini adalah orang yang berjuang dengan keringat, darah bahkan nyawa tanpa pamrih demi kepentingan yang lebih besar, kepentingan bangsa dan negara. Dalam berbagai kesempatan Bung Karno menjadikan Hari Pahlawan sebagai sarana untuk mengingatkan kepada seluruh bangsa (terutama angkatan muda) bahwa sudah banyak pejuang-pejuang telah gugur, atau mengorbankan harta-benda dan tenaga mereka, untuk mendirikan negara RI. Mereka rela berkorban, supaya kehidupan rakyat banyak bisa menjadi lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Mereka telah berjuang  jauh sebelum selama revolusi kemerdekaan 1945, untuk menjadikan negara ini milik bersama, guna menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Melalui peringatan Hari Pahlawan 10 November, mari kita tekad bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Ganyang koruptor! Ganyang Kemalasan! Ganyang pejabat publik busuk!
Selamat Hari Pahlawan. Bangkitlah Indonesiaku!


Kamis, 03 November 2011

Doctor is easy


Tersirat sebuah hadits nan indah dari baginda agung Muhammad SAW ; “al ajru biqodri atta’ab”, yang artinya suatu pahala/ganjaran (hasil) tergantung usaha/ kerja keras.  Mengingat hal itu, tentu mengaraha beberapa sudut masa kehidupan, dari urusan kualitas agama, pekerjaan, hubungan denga orang lain, dan juga yang palng menarik adalah urusan belajar. Saya seorang maha siswa yang saat ini menjalani hal itu. “masa pagi” adalah saat-saat mencari sosok kepribadian. Yaitu masa dimana kita menggali selurh potensi yang ada dalam diri.
Belajar dari pengalaman, sejak itulah saya mulai berfikir, saya kuliyah hanya memegang amanah dari negara, tentu tanggung jawab amatlah menjadi suatu keharusan yang mutlak. Menjadi dokter adalah impian yang sekarang aku wajibkan, sehingga sekarang saya punya nama Calon Dokter. “Jadi dokter bukanlah mudah”, cetus salah satu dosen ku. Namun terdengar itu, rasa loyo mulai menguasai sebagian dari jasad ku. “Oww tidak bisa”, pikirku menantang. Tentu semua sesuatu di muka bumi ini tidak ada yang susah, semuanya mudah bukan?  
Kesimpulannya adalah “Menjadi dokter itu mudah”. Dengan memaksimalkan kemampuan dan tetap istiqomah dan sabar, pasti bisa semngat buat dr. Rico.  

Rabu, 02 November 2011

Memanusiakan diri

Di atas segala nafsu, ambisi, kompetisi, kepentingan, keyakinan, dan ego diri; setiap orang sesungguhnya selalu berharap untuk bisa hidup dalam bahagia dan damai. Mendapatkan damai dan bahagia bukanlah persoalan instan; tapi memerlukan upaya untuk menyadarkan diri sendiri secara terus-menerus untuk bisa bersahabat dengan keragaman, perbedaan, pergumulan, dan kompetisi kehidupan. 

Salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup adalah dengan menyeimbangkan pola kehidupan melalui jalan holistik. Hidup dalam jalan holistik berarti hidup secara autentik dalam suatu himpunan nilai-nilai kemanusiaan untuk diri sendiri dan orang lain. Hidup secara autentik berarti bertindak, berpikir, melibatkan diri, mewujudkan diri, dan mempartisipasikan diri melalui kemurnian, ketulusan, dan keikhlasan diri sendiri tanpa pengaruh oleh hal-hal perbedaan untuk mencintai kemanusiaan dan kehidupan.
Di butuhkan pengisian nilai-nilai kemanusiaan dalam tiga pilar diri sejati, yaitu: pilar raga, pilar jiwa, dan pilar pikiran. Pilar raga membutuhkan nilai, olah raga, aktivitas kehidupan, dan nutrisi yang secara alamiah dan sederhana mampu melakukan pengobatan kepada diri sendiri agar diri selalu terkendali dalam pengaruh hidup sehat. Pilar jiwa membutuhkan nilai-nilai syukur, ikhlas, mencintai, melayani, tulus, peduli, hati nurani, dan aktivitas kehidupan dalam jalan Tuhan untuk kebahagiaan dan kedamaian di dalam keragaman dan perbedaan. Pilar pikiran membutuhkan pengetahuan, pemecahan masalah, keterampilan, akal sehat, logika, wawasan, dan kemauan untuk terus menjadi pembelajar seumur hidup.

Menjadi pribadi yang holistik berarti cerdas mengelola tiga pilar diri sejati dengan nilai-nilai kehidupan yang memanusiakan diri sendiri dan orang lain. Saat Anda mampu memanusiakan diri Anda untuk mendapatkan energi bahagia dan damai dalam semua aspek kehidupan Anda, maka saat itu Anda akan memiliki kehidupan yang holistik. Kehidupan yang holistik diperlukan agar diri sejati bisa bersahabat dengan fisik yang sehat, emosi yang terkendali, dan pikiran positif dengan berbagai kecerdasan kreatif untuk kebaikan semua orang.

Kepribadian yang holistik pasti mampu menghindarkan perilaku dari sifat dendam yang muncul oleh nilai-nilai negatif yang tersimpan lama di dalam pikiran bawah sadar, serta yang menimbulkan ketidakseimbangan fisik dan emosi. Menyeimbangkan fisik, emosi, dan pikiran dalam satu integritas diri sejati yang autentik akan menghindarkan diri dari segala jenis penyakit fisik, emosi, dan pikiran