Isra Mi'raj adalah salah satu bukti Kerasulan
Muhammada SAW. Bukti otentik ini sebagai landasan bahwa Agama tidak hanya
dipandang sebagi suatu yang eksperimen, namun suatu yang realita terjadi. Warga
sarungan tentu tidak akan aneh ketika membaca sejarah Isra Mi’raj, karena di
Pesantren diajarkan khusus kitab isra wal miraj Nabi Muhmmad SAW dalam kitab Dardir (fii Qishratul
Mi’raj). Cerita singkatnya bisa dibaca di tweet @rico_IR. Isra
Mi'raj terjadi pada tanggal 27
Rajab 621 M, 3 tahun sebelum Hijrah, tahun 11 kenabian. Artinya 11 tahun
setelah Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.
Dalam Al Quran dijelaskan secara gamblang dalam surat Al-Isra ayat 1.
Artinya: "Maha suci Allah yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar
lagi maha mengetahui". (Q.S. Al-Isra: 1).
Isra Mi’raj juga memiliki makna penting dalam perjalanan umat Islam. Makna penting itu jika diurai tentu akan memanjang. Isra Mi’raj, bisa dimaknai dari sudut pergolakan dakwah Nabi, kebenaran doktrin Islam, perjumpaan dengan para Nabi dan komunikasi pad Tuhan, dan lain sebagainya. Tapi yang jelas, kisah-kisah serupa itu mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan narasi besar yang memperkokoh dinamika umat untuk menyaksikan kehadiran Allah SWT.
Nabi
melihat tentang kebesaran-kebesaran Allah, juga diperlihatkannya surga beserta
panoramanya dan peristiwa-peristiwa yang lain yang menakjubkan. Berbagai
fenomena yang ditemui oleh Nabi saat melakukan wisata religius begitu banyak
yang amat mengerikan, seperti bibir dan lidah yang terus tergunting yang
mencerminkan hukuman bagi orang-orang yang selalu menyebarkan fitnah. Wajah dan
dada yang terus tercakar sebagai gambaran bagi mereka yang suka menindas.
Orang-orang terus berenang di kolam nanah dan darah lalu terus dilempari batu,
sebagai gambaran siksaan bagi orang-orang yang korupsi dan makan harta riba.
Semua amatlah penting untuk dijadikan sebagai referensi renungan di tengah
gelombang kehidupan yang semakin runyam dan begitu dahsyat.
Di
samping itu juga agar manusia tidak melakukan tindakan-tindakan yang
sewenang-wenang. Juga agar manusia tidak melangsungkan hidupnya di dunia yang
hanya mengikuti zaman yang carut-marut, akan tetapi manusia diharapkan hidup
dan beraktivitas dengan bahasa langit seperti orang-orang suci, para Nabi,
sahabat dan ulama bahkan menyatu dengan Tuhan. Dengan hidup yang dihiasi dengan
kesempurnaan bahasa langit dan bumi akan mendapatkan kesempurnaan dalam
hidupnya.
Di
samping itu Isra juga merupakan simbol perjalanan hidup Manusia, isra adalah
perjalanan mendatar (Horizontal) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di
Palestina. Hal ini mengisyaratkan proses pertumbuhan yang bersifat kuantitatif.
Mi'raj adalah perjalanan naik (Vertikal) dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha
mengisyaratkan adanya proses kualitatif. Manusia makhluk Allah yang paling
sempurna, memahami hidup ini untuk menjalani proses pertumbuhan dan
perkembangan.
Proses
perkembangan lebih menekankan pada mental yang bersifat nilai bukan materi.
Proses ini lebih berbicara tentang kualitas hidup manusia misalnya, bodoh
menjadi pandai, dari hina menjadi mulia, dari terlaknat menjadi terhormat, dari
maksiat menjadi taat. Kemudian proses yang bersifat kuantitatif, dari mulai
kecil kemudian besar, sedikit menjadi banyak.
Dalam
proses perjalanan Mi'raj kita diingatkan pada tiga titik, atau tiga tempat yang
paling penting yaitu, Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Sidratul Muntaha. Hal
ini mengingatkan juga pada tiga peristiwa penting dalam perjalanan hidup
manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Dengan kata lain, bahwa
hidup bagi manusia adalah proses dinamis, proses ke masa depan, maka perjuangan
Isra Mi'raj adalah isyarat bagaimana manusia menatap masa depan dan mengabdikan
diri pada Allah.
Dalam
peristiwa ini yang termuat dalam hikmah-hikmah Isra Mi’raj yang dapat dipetik
dari momen-momen simbolik peristiwa itu adalah:
1. Kita menemukan, bahwa sejarah mencatat prosesi
pembedahan dada Nabi sewaktu Isra Mi’raj. Dari peristiwa itu, kita menangkap
simbol pelapangan dada, penyucian hati, penajaman nurani. Lebih spesifik lagi,
pembedahan itu beresensi persiapan untuk bermunajat dengan yang Maha Tinggi dan
Maha Suci.
2. Kelapangan dada, kerendahan hati dan ketajaman nurani
sebagaimana yang dipraktekkan Nabi, terlihat sangat penting dalam misi-misi
profetik dan sosial demi mereformasi tatanan yang tidak ideal. Fungsinya,
sebagaimana yang ditegaskan Al-Qur'an, dapat meringankan beban (psikis),
mengangkat citra, dan menumbuhkan optimisme, bahwa di balik kesengsaraan ada
jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 1-6).
3. Isra Mi’raj juga mengandaikan adanya dorongan untuk
belajar dari pengalaman orang lain. Perjumpaan dan dialog antara Nabi Muhammad
dengan Nabi-Nabi seniornya, soal-jawabnya kepada Jibril, menandakan bahwa
reformasi menuntut kerendahan hati untuk belajar dari banyak kisah gagal dan
sukses orang lain.
4. Sebatas yang kita amati, spiritualitas atau perasaan
bahwa adanya kontrol yang Maha Tahu atas aktivitas kita, menjadi penting
tatkala sistim-sistim yang kita reformasi tidak berjalan dengan ruh yang kita
idealkan. Wisata spiritual Nabi dalam Isra Mi’raj, menunjukkan bahwa
spiritualitas sangat penting untuk menuntaskan misi dan visi reformasi.
Sebuah
falsafah moralitas mengingatkan kita, bahwa “Innama al-umam al-akhlaq
ma baqiyat, fain hum dzahabat akhlaquhum dzahaba” (suatu komunitas akan kekal
bersama moralitas; bila moralitasnya hancur, raiblah mereka bersamanya).
Wallahu a`lam bi as-showab