Sabtu, 23 Mei 2015

Isra Mi'raj: Misi Reformasi Peradaban Umat

Isra Mi'raj adalah salah satu bukti Kerasulan Muhammada SAW. Bukti otentik ini sebagai landasan bahwa Agama tidak hanya dipandang sebagi suatu yang eksperimen, namun suatu yang realita terjadi. Warga sarungan tentu tidak akan aneh ketika membaca sejarah Isra Mi’raj, karena di Pesantren diajarkan khusus kitab isra wal miraj Nabi Muhmmad SAW dalam kitab Dardir (fii Qishratul Mi’raj). Cerita singkatnya bisa dibaca di tweet @rico_IR.  Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab 621 M, 3 tahun sebelum Hijrah, tahun 11 kenabian. Artinya 11 tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.
Dalam Al Quran dijelaskan secara gamblang dalam surat Al-Isra ayat 1.
Artinya: "Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui". (Q.S. Al-Isra: 1).

Isra Mi’raj juga memiliki makna penting dalam perjalanan umat Islam. Makna penting itu jika diurai tentu akan memanjang. Isra Mi’raj, bisa dimaknai dari sudut pergolakan dakwah Nabi, kebenaran doktrin Islam, perjumpaan dengan para Nabi dan komunikasi pad Tuhan, dan lain sebagainya. Tapi yang jelas, kisah-kisah serupa itu mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan narasi besar yang memperkokoh dinamika umat untuk menyaksikan kehadiran Allah SWT.
Nabi melihat tentang kebesaran-kebesaran Allah, juga diperlihatkannya surga beserta panoramanya dan peristiwa-peristiwa yang lain yang menakjubkan. Berbagai fenomena yang ditemui oleh Nabi saat melakukan wisata religius begitu banyak yang amat mengerikan, seperti bibir dan lidah yang terus tergunting yang mencerminkan hukuman bagi orang-orang yang selalu menyebarkan fitnah. Wajah dan dada yang terus tercakar sebagai gambaran bagi mereka yang suka menindas. Orang-orang terus berenang di kolam nanah dan darah lalu terus dilempari batu, sebagai gambaran siksaan bagi orang-orang yang korupsi dan makan harta riba. Semua amatlah penting untuk dijadikan sebagai referensi renungan di tengah gelombang kehidupan yang semakin runyam dan begitu dahsyat. 
Di samping itu juga agar manusia tidak melakukan tindakan-tindakan yang sewenang-wenang. Juga agar manusia tidak melangsungkan hidupnya di dunia yang hanya mengikuti zaman yang carut-marut, akan tetapi manusia diharapkan hidup dan beraktivitas dengan bahasa langit seperti orang-orang suci, para Nabi, sahabat dan ulama bahkan menyatu dengan Tuhan. Dengan hidup yang dihiasi dengan kesempurnaan bahasa langit dan bumi akan mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. 
Di samping itu Isra juga merupakan simbol perjalanan hidup Manusia, isra adalah perjalanan mendatar (Horizontal) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina. Hal ini mengisyaratkan proses pertumbuhan yang bersifat kuantitatif. Mi'raj adalah perjalanan naik (Vertikal) dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha mengisyaratkan adanya proses kualitatif. Manusia makhluk Allah yang paling sempurna, memahami hidup ini untuk menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan.
Proses perkembangan lebih menekankan pada mental yang bersifat nilai bukan materi. Proses ini lebih berbicara tentang kualitas hidup  manusia misalnya, bodoh menjadi pandai, dari hina menjadi mulia, dari terlaknat menjadi terhormat, dari maksiat menjadi taat. Kemudian proses yang bersifat kuantitatif, dari mulai kecil kemudian besar, sedikit menjadi banyak.
Dalam proses perjalanan Mi'raj kita diingatkan pada tiga titik, atau tiga tempat yang paling penting yaitu, Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Sidratul Muntaha. Hal ini mengingatkan juga pada tiga peristiwa penting dalam perjalanan hidup manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Dengan kata lain, bahwa hidup bagi manusia adalah proses dinamis, proses ke masa depan, maka perjuangan Isra Mi'raj adalah isyarat bagaimana manusia menatap masa depan dan mengabdikan diri pada Allah.

Dalam peristiwa ini yang termuat dalam hikmah-hikmah Isra Mi’raj yang dapat dipetik dari momen-momen simbolik peristiwa itu adalah:
1.   Kita menemukan, bahwa sejarah mencatat prosesi pembedahan dada Nabi sewaktu Isra Mi’raj. Dari peristiwa itu, kita menangkap simbol pelapangan dada, penyucian hati, penajaman nurani. Lebih spesifik lagi, pembedahan itu beresensi persiapan untuk bermunajat dengan yang Maha Tinggi dan Maha Suci.
2.   Kelapangan dada, kerendahan hati dan ketajaman nurani sebagaimana yang dipraktekkan Nabi, terlihat sangat penting dalam misi-misi profetik dan sosial demi mereformasi tatanan yang tidak ideal. Fungsinya, sebagaimana yang ditegaskan Al-Qur'an, dapat meringankan beban (psikis), mengangkat citra, dan menumbuhkan optimisme, bahwa di balik kesengsaraan ada jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 1-6). 
3.  Isra Mi’raj juga mengandaikan adanya dorongan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Perjumpaan dan dialog antara Nabi Muhammad dengan Nabi-Nabi seniornya, soal-jawabnya kepada Jibril, menandakan bahwa reformasi menuntut kerendahan hati untuk belajar dari banyak kisah gagal dan sukses orang lain.
4.   Sebatas yang kita amati, spiritualitas atau perasaan bahwa adanya kontrol yang Maha Tahu atas aktivitas kita, menjadi penting tatkala sistim-sistim yang kita reformasi tidak berjalan dengan ruh yang kita idealkan. Wisata spiritual Nabi dalam Isra Mi’raj, menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting untuk menuntaskan misi dan visi reformasi.
Sebuah falsafah moralitas mengingatkan kita, bahwa “Innama al-umam al-akhlaq ma baqiyat, fain hum dzahabat akhlaquhum dzahaba” (suatu komunitas akan kekal bersama moralitas; bila moralitasnya hancur, raiblah mereka bersamanya).


Wallahu a`lam bi as-showab


Gudik (Scabies), Primadona Pesantren

Penyakit scabies, yang dalam bahasa awam disebut penyakit kudis (dalam bahasa Jawa disebut gudik), merupakan salah satu ”komoditas” yang menarik untuk ditelaah di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Setiap santri yang mengenyam pendidikan di suatu pesantren, kemudian dia mampu bertahan cukup lama di sana, sedikit banyak akan bersinggungan dengan penyakit kulit, terutama scabies ini.

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang menginfeksi permukaan kulit seseorang, kemudian membuat lubang yang bersifat mikroskopis dan menimbulkan rasa gatal sampai timbul lesi atau luka. Penyakit ini termasuk penyakit yang jamak terjadi di Indonesia, terutama tempat yang ditengarai memiliki kualitas sanitasi dan lingkungan yang rendah. Kutu ini lebih sering menyerang secara aktif di malam hari, sehingga ketika malam menjelang tentu akan mengganggu tidur seorang penderita. Penularan penyakit ini tak jauh berbeda dengan macam penyakit kulit lainnya, yakni lewat penggunaan pakaian dan handuk bersama, kontak kulit dengan penderita dan bak mandi yang dimanfaatkan secara masal.

Sebagaimana mitos-mitos yang muncul di kalangan pesantren, terutama pesantren besar, bahwa kudis merupakan “stempel resmi” seorang santri, bahwa ia telah siap untuk menempuh tingkatan yang lebih tinggi dalam pembelajaran holistik yang ada di pesantren. Banyak kalangan kiai menyebutkan, “Kalau kamu sudah gatal-gatal di pesantren, tandanya kamu sudah betah dan ilmu akan lebih mudah masuk,”. Walaupun argumen ini belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman penulis, dhawuh para kiai ini banyak benarnya. Beliau menganggap bahwa penyakit kudis yang diderita santri adalah tanda awal turunnya berkah.

Berkah, Santri, dan Kudis

Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.

Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini.  Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?

Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi.

Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.

Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai.

Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu?

Sebagai seorang santri penulis merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.

Diadaptasi dari Islam Nusantara