Rabu, 28 Desember 2011

keajaiban itu milikmu

Teruntuk segala kejadian yang unik,  dan kadang tak masuk di akal..
Teruntuk segala hadiah,  walau hamba terlampau salah..
Teruntuk kasih sayang, walau hamba tersering bernoda..
Teruntuk berlarinya Engkau,  saatnya hamba berjalan..
Teruntuk hujan, hutan, dan  titik air mata dalam doa..
Terimakasih Allah.
Tiba-tiba saya terbangun dari tidur yang seharusnya tidak boleh. Ketiduran itu memang nggak baik, terlebih ba’da ashar. Mendapat sms, yang entah harus di maknai musibah dalam hadiah, atau hadiah dalam musibah. Ya. Ini tentang ajaibnya sesuatu.. tentang indahnya segala sesuatu yang menjadi rencanaNya..
Kapan sesuatu itu di sebut ‘keajaiban’? menurut opini saya pribadi, sesuatu di sebut keajaiban saat ia memenuhi dua syarat pokok. Syarat pertama; aneh. Kenapa harus aneh? Sebab segala sesuatu yang aneh, biasanya berada di luar akal. Berada di luar wilayah pikiran. Maka muncullah kalimat ‘aneh tapi nyata’. Kenapa harus ‘aneh’..? kalau nggak ‘aneh’ maka ia masuk dalam kategori kejadian yang biasa saja. Dan kejadian yang biasa saja, tentu bukanlah suatu keajaiban.
Memakna ‘aneh’ yang nyata kadang manusia tergelincir. Melupakan bahwa sebenarnya ada Dzat yang Maha Menghendaki. Jikalau Ia berkata ‘jadilah’, maka akan terjadilah apapun yang ia kehendaki. Sebetapapun anehnya kejadian, sebetapapun tidak masuk akalnya peristiwa tersebut. Kita sering lupa betapa Allah sangatlah sering menunjukkan kebesaranNya lewat keajaiban kisah para Nabi. Bagaimana Nabi Yunus bertahan di dalam perut ikan Paus, bagaimana Nabi Sulaiman menjadi pemimpin seluruh makhluk, dan lain sebagainya. Ternyata, kita sering lupa.
Kita lebih sering menganggap itu hanyalah kebetulan belaka. Padahal, dunia sudah menyepakati, “There is no coincidence..”. selalu ada Tangan Ghaib yang menjadikannya terjadi. Ada keterlibatan sesuatu yang Ghaib hingga peristiwa aneh itu terjadi. Buat saya, dan tentu seluruh muslim, itulah Allah. Dzat yang jiwa kita ada di genggamanNya. Yang seluruh malaikat bertasbih kepadaNya. Dzat yang telah Mencipta dan Mengatur alam semesta.
Syarat kedua sesuatu itu di sebut keajaiban adalah; Terjadi. Sesuatu yang aneh namun tidak pernah terjadi, agaknya itu hanyalah fantasi. Impian yang indah tapi nggak pernah terjadi. Utopis. Hanya angan-angan. Maka, keajaiban haruslah berwujud nyata di dunia. Pernah atau sedang terjadi. Kalau baru ‘akan terjadi’, sulit menyebut itu keajaiban. Cerita masa lalu yang bermuatan penuh keajaiban namun masih di pertanyakan kenyataannya, bukankah kita menyebutnya legenda..? Sesuatu yang tidak masuk di akal itu harus terjadi untuk bisa di sebut dengan keajaiban. Agar ia bukan sekedar angan, bukan sekedar harapan.
Nah, agaknya kita juga sering lupa. Bahwa yang bisa menjadikan segala sesuatu itu terjadi. Ya, lagi dan lagi, Dialah Allah.
Salah satu keajaiban yang mungkin nggak terlalu muluk adalah, terkabulnya doa yang sangat kita harap-harapkan, yang doa itu seperti agak mustahil untuk terwujudkan. Ya, sesuatu yang unik seandainya terjadi, namun Allah kabulkan. Pernah mengalami..?
Tentang ini, saya pernah nonton film yang di dialognya menyebut (translatenya), “Kalau engkau ingin melihat keajaiban, maka jadilah keajaiban itu sendiri..”. bayangkan, seandainya Allah jadikan diri kita perwujudan keajaiban, apalagi keajaiban yang selama ini kita impi-impikan. Saat itulah Allah sedang berbincang., “Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan..?”. saat itulah titik keimanan semestinya melonjak tinggi.
Di film itu juga, di sebut kejadian yang sebenarnya adalah keajaiban.. “Musa membelah lautan itu magic, anak sekolah yang mengatakan anti mencontek, itu baru keajaiban..”. seiring kalimat ini, rupanya Rasulullah sudah lebih dulu mengabarkan keajaiban pemuda, 14 abad silam. Rasulullah mengabarkan bahwa satu golongan yang akan selamat di padang Mahsyar nanti adalah pemuda yang rajin ke masjid. Hari ini, bisa kita lihat tingkah polah mereka yang masuk golongan ‘pemuda’. aurat terbuka itu biasa. Adzan kumandang cuek saja, dan lain sebagainya. Maka nggak berlebihan kalau hari ini kita sebut, pemuda yang rajin ke masjid, gemar baca buku, senang ngaji, itu keajaiban. Nah, sudahkah kita menjadi bagian dari keajaiban itu..?
Ada sebuah kalimat indah, “Allah akan mengabulkan doa hambaNya yang merintih..”, ah, saya lupa lengkapnya.. intinya, Allah akan kabulkan doa kita, di saat titik kritis. Saat titik dimana kita nggak mampu lagi menahan pedihnya kegagalan, saat kita sudah nggak paham harus ikhtiar seperti apalagi. Nah, buat saya.. di situlah saat keajaiban itu terjadi. Di situlah saat Allah mulai dialog dengan kita. Di situlah saat kebingungan melambung tinggi lewat kalimat, “kok bisa ya..”. di situlah kebahagiaan membuncah luas. Ya, saat keajaiban itu mewujud lewat diri kita, lewat impian kita, lewat jawaban Allah atas doa-doa kita.