Teruntuk segala kejadian yang unik, dan kadang tak masuk di akal..
Teruntuk segala hadiah, walau hamba terlampau salah..
Teruntuk kasih sayang, walau hamba tersering
bernoda..
Teruntuk berlarinya Engkau, saatnya hamba berjalan..
Teruntuk hujan, hutan, dan titik air mata dalam doa..
Terimakasih Allah.
Tiba-tiba saya terbangun dari
tidur yang seharusnya tidak boleh. Ketiduran itu memang nggak baik, terlebih
ba’da ashar. Mendapat sms, yang entah harus di maknai musibah dalam hadiah,
atau hadiah dalam musibah. Ya. Ini tentang ajaibnya sesuatu.. tentang indahnya
segala sesuatu yang menjadi rencanaNya..
Kapan sesuatu itu di sebut
‘keajaiban’? menurut opini saya pribadi, sesuatu di sebut keajaiban saat ia
memenuhi dua syarat pokok. Syarat pertama; aneh. Kenapa harus aneh? Sebab
segala sesuatu yang aneh, biasanya berada di luar akal. Berada di luar wilayah
pikiran. Maka muncullah kalimat ‘aneh tapi nyata’. Kenapa harus ‘aneh’..? kalau
nggak ‘aneh’ maka ia masuk dalam kategori kejadian yang biasa saja. Dan
kejadian yang biasa saja, tentu bukanlah suatu keajaiban.
Memakna ‘aneh’ yang nyata
kadang manusia tergelincir. Melupakan bahwa sebenarnya ada Dzat yang Maha
Menghendaki. Jikalau Ia berkata ‘jadilah’, maka akan terjadilah apapun yang ia
kehendaki. Sebetapapun anehnya kejadian, sebetapapun tidak masuk akalnya
peristiwa tersebut. Kita sering lupa betapa Allah sangatlah sering menunjukkan
kebesaranNya lewat keajaiban kisah para Nabi. Bagaimana Nabi Yunus bertahan di
dalam perut ikan Paus, bagaimana Nabi Sulaiman menjadi pemimpin seluruh
makhluk, dan lain sebagainya. Ternyata, kita sering lupa.
Kita lebih sering menganggap
itu hanyalah kebetulan belaka. Padahal, dunia sudah menyepakati, “There is no coincidence..”. selalu ada
Tangan Ghaib yang menjadikannya terjadi. Ada keterlibatan sesuatu yang Ghaib
hingga peristiwa aneh itu terjadi. Buat saya, dan tentu seluruh muslim, itulah
Allah. Dzat yang jiwa kita ada di genggamanNya. Yang seluruh malaikat bertasbih
kepadaNya. Dzat yang telah Mencipta dan Mengatur alam semesta.
Syarat kedua sesuatu itu di
sebut keajaiban adalah; Terjadi. Sesuatu yang aneh namun tidak pernah terjadi,
agaknya itu hanyalah fantasi. Impian yang indah tapi nggak pernah terjadi.
Utopis. Hanya angan-angan. Maka, keajaiban haruslah berwujud nyata di dunia.
Pernah atau sedang terjadi. Kalau baru ‘akan terjadi’, sulit menyebut itu
keajaiban. Cerita masa lalu yang bermuatan penuh keajaiban namun masih di
pertanyakan kenyataannya, bukankah kita menyebutnya legenda..? Sesuatu yang
tidak masuk di akal itu harus terjadi untuk bisa di sebut dengan keajaiban.
Agar ia bukan sekedar angan, bukan sekedar harapan.
Nah, agaknya kita juga sering
lupa. Bahwa yang bisa menjadikan segala sesuatu itu terjadi. Ya, lagi dan lagi,
Dialah Allah.
Salah satu keajaiban yang mungkin nggak terlalu
muluk adalah, terkabulnya doa yang sangat kita harap-harapkan, yang doa itu
seperti agak mustahil untuk terwujudkan. Ya, sesuatu yang unik seandainya
terjadi, namun Allah kabulkan. Pernah mengalami..?
Tentang ini, saya pernah
nonton film yang di dialognya menyebut (translatenya), “Kalau engkau ingin
melihat keajaiban, maka jadilah keajaiban itu sendiri..”. bayangkan, seandainya
Allah jadikan diri kita perwujudan keajaiban, apalagi keajaiban yang selama ini
kita impi-impikan. Saat itulah Allah sedang berbincang., “Maka Nikmat Tuhanmu
yang manakah yang akan kamu dustakan..?”. saat itulah titik keimanan semestinya
melonjak tinggi.
Di film itu juga, di sebut
kejadian yang sebenarnya adalah keajaiban.. “Musa membelah lautan itu magic,
anak sekolah yang mengatakan anti mencontek, itu baru keajaiban..”. seiring
kalimat ini, rupanya Rasulullah sudah lebih dulu mengabarkan keajaiban pemuda,
14 abad silam. Rasulullah mengabarkan bahwa satu golongan yang akan selamat di
padang Mahsyar nanti adalah pemuda yang rajin ke masjid. Hari ini, bisa kita
lihat tingkah polah mereka yang masuk golongan ‘pemuda’. aurat terbuka itu
biasa. Adzan kumandang cuek saja, dan lain sebagainya. Maka nggak berlebihan
kalau hari ini kita sebut, pemuda yang rajin ke masjid, gemar baca buku, senang
ngaji, itu keajaiban. Nah, sudahkah kita menjadi bagian dari keajaiban itu..?
Ada sebuah kalimat indah,
“Allah akan mengabulkan doa hambaNya yang merintih..”, ah, saya lupa
lengkapnya.. intinya, Allah akan kabulkan doa kita, di saat titik kritis. Saat
titik dimana kita nggak mampu lagi menahan pedihnya kegagalan, saat kita sudah
nggak paham harus ikhtiar seperti apalagi. Nah, buat saya.. di situlah saat
keajaiban itu terjadi. Di situlah saat Allah mulai dialog dengan kita. Di
situlah saat kebingungan melambung tinggi lewat kalimat, “kok bisa ya..”. di
situlah kebahagiaan membuncah luas. Ya, saat keajaiban itu mewujud lewat diri
kita, lewat impian kita, lewat jawaban Allah atas doa-doa kita.