Setengah bulan yang lalu genap
usiaku menjadi 21. Entah sudah bisa apakan diriku?. Setidaknya bisa membedakan
mana yang baik dan mana yang kurang baik. Sempat terfikir di benak ini, ucapan
do’a dan permohonan suci agar ‘dikembalikan’ citra yang sempat pudar.
Manusia sebagai makhluk Tuhan
yang paling seksi, begitu kata orang. Mempunyai simbol-simbol kemulyaan
dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Ya, manusia memiliki rasa dan dan
pengertian. Oleh karena itu manusia bisa membuat robot, bisa menangis, bahkan
bisa mencintai.
Menengok ke belakang beberapa
tahun terakhir, nampaknya diri ini memiliki suatu garis jalan layaknya asap
kabutnya pesawat-pesawat megah di atas sana. Jika kita amati, asap putih itu tak akan terlihat
ketika pesawat mulai mengibaskan sayapnya. Namun dapat terlihat jelas, jika ia
mulai melewati jalur-jalur dan lintasan yang nakal. Begitu pun diri ini, tak
akan terlihat dan terasakan jika hidup itu tanpa ujian, dan itu adalah hal yang
mustahil. Memang benar dikatakan banyak orang, bahwa kehidupan itu merupakan
story berupa kenikmatan, uci coba, godaan, dan job (kholifah). Dengan mengecualikan
manusia sebagai hamba Tuhan.
Hidup itu mempunyai kunci berkah
didalamnya. Yaitu, usaha (ikhtiar), do’a, dan tawakkal. Jika ketiganya sudah
mampu dioptimalkan Insya Allah kesuksesan lagi keberkahan ada pada diri kita. Seseorang
berusaha keras terus menerus tanpa adanya do’a dan permohonan kepada Allah, ia
adalah orang yang sombong. Lalu, orang yang terus-terusan bermunajat dan berdo’a
kepada Tuhan tanpa adanya usaha yang optimal, ia adalah orang yang malas. Bagaimana
dengan tawakkal?. Tawakal berupa penyerahan diri dan pasarah diri kepada Allah
dengan diiringi mendukung suatu usaha yang positif, bukan berdiam menunggu
kepastian Allah. Itulah sebuah kehidupan . . .
Mungkin saya pernah merasakan
ladzatnya suatu kenikamatan juga pahitnya suatu cobaan dan hukuman yang
diberikan Tuhan. Apapun itu tugas hamba hanya bersyukur dan berbaik sangka
bukan protes ataupun mencela. Dalam kehidupan sehari-hari sering cobaan datang
layaknya meriam yang datang tiba-tiba dan amat tidak enak sekali. Juga tidk
jarang suatu kenikmatan datang tanpa ada yang menduga. Jelas sekali keduanya
tidak serta merta difahami dengan sekilas, tetapi butuh sifat manusia berupa
pengertian. Tuhan memberikan cobaan dengan tujuan supaya sadar dan mampu
mengoreksi intropeksi diri dengan sesama. Nah, kenikmatan ini jika ditinjau
dari pengertiannya, kenikmatan itu juga bisa dikatakan sebagai cobaan. Karena ketika
seseorang terlena oleh kenikmatan, bisa menimbulkan suatu kedzholiman oleh
nikmat itu sendiri.
Banyak respon seseorang jika menemui jalan berupa ‘anggapan’ sebuah hukuman ataupun ketidakenakakan, sehingga menimbulkan frustasi dan kegalauan kronik yang sangat sulit hilangnya. Lantas, nagaimana seherusnya menyikapai ini? Tentu kita serahkan dan mengambil refrensi dari Allah. Allah pernah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 216 :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar