Minggu, 02 Desember 2012

Janga Bersedih, Berserah Diri


Setengah bulan yang lalu genap usiaku menjadi 21. Entah sudah bisa apakan diriku?. Setidaknya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Sempat terfikir di benak ini, ucapan do’a dan permohonan suci agar ‘dikembalikan’ citra yang sempat pudar.

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, begitu kata orang. Mempunyai simbol-simbol kemulyaan dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Ya, manusia memiliki rasa dan dan pengertian. Oleh karena itu manusia bisa membuat robot, bisa menangis, bahkan bisa mencintai.

Menengok ke belakang beberapa tahun terakhir, nampaknya diri ini memiliki suatu garis jalan layaknya asap kabutnya pesawat-pesawat megah di atas sana.  Jika kita amati, asap putih itu tak akan terlihat ketika pesawat mulai mengibaskan sayapnya. Namun dapat terlihat jelas, jika ia mulai melewati jalur-jalur dan lintasan yang nakal. Begitu pun diri ini, tak akan terlihat dan terasakan jika hidup itu tanpa ujian, dan itu adalah hal yang mustahil. Memang benar dikatakan banyak orang, bahwa kehidupan itu merupakan story berupa kenikmatan, uci coba, godaan, dan job (kholifah). Dengan mengecualikan manusia sebagai hamba Tuhan.

Hidup itu mempunyai kunci berkah didalamnya. Yaitu, usaha (ikhtiar), do’a, dan tawakkal. Jika ketiganya sudah mampu dioptimalkan Insya Allah kesuksesan lagi keberkahan ada pada diri kita. Seseorang berusaha keras terus menerus tanpa adanya do’a dan permohonan kepada Allah, ia adalah orang yang sombong. Lalu, orang yang terus-terusan bermunajat dan berdo’a kepada Tuhan tanpa adanya usaha yang optimal, ia adalah orang yang malas. Bagaimana dengan tawakkal?. Tawakal berupa penyerahan diri dan pasarah diri kepada Allah dengan diiringi mendukung suatu usaha yang positif, bukan berdiam menunggu kepastian Allah. Itulah sebuah kehidupan . . .

Mungkin saya pernah merasakan ladzatnya suatu kenikamatan juga pahitnya suatu cobaan dan hukuman yang diberikan Tuhan. Apapun itu tugas hamba hanya bersyukur dan berbaik sangka bukan protes ataupun mencela. Dalam kehidupan sehari-hari sering cobaan datang layaknya meriam yang datang tiba-tiba dan amat tidak enak sekali. Juga tidk jarang suatu kenikmatan datang tanpa ada yang menduga. Jelas sekali keduanya tidak serta merta difahami dengan sekilas, tetapi butuh sifat manusia berupa pengertian. Tuhan memberikan cobaan dengan tujuan supaya sadar dan mampu mengoreksi intropeksi diri dengan sesama. Nah, kenikmatan ini jika ditinjau dari pengertiannya, kenikmatan itu juga bisa dikatakan sebagai cobaan. Karena ketika seseorang terlena oleh kenikmatan, bisa menimbulkan suatu kedzholiman oleh nikmat itu sendiri.

Banyak respon seseorang jika menemui jalan berupa ‘anggapan’ sebuah hukuman ataupun ketidakenakakan, sehingga menimbulkan frustasi dan kegalauan kronik yang sangat sulit hilangnya. Lantas, nagaimana seherusnya menyikapai ini? Tentu kita serahkan dan mengambil refrensi dari Allah. Allah pernah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 216 : 


Tidak ada komentar: