Rabu, 03 Agustus 2011

merajut kasih di bualan ramadhan

Impian semua orang di dunia ini adalah mendapat kasih sayang dari sang Khalik maupun makhluk. Ketika usia adalah menjadi ukuran hidup manusia di dunia. Banyak manusia-manusia menganggap mati adalah datang ketika usia tua. Hal ini tentu tidak di benarakn, mati adalah takdir yang Allah berikan tabnpa sepengetahuan manusia atau siapapun.
Jalan-jalan di suatu tempat memberikan banyak sekali pelajaran untuki mnggapai kasih Nya Ilahi. Suatu ketika saya mengenali tempat dimana banyak sekali orang-orang tua yang butuh kasih sayang mereka yang pernah ia sayangi yaitu anaknya. Dari berbagai latar belakang mereka datang, dari berbagai suku ia dibiasakan, bahkan dari berbagi agama ia dibesarkan. Itulah panti werdha budi mulya margaguna di daerah radio dalam jaksel.
Rabu 3 ramadhan aku menyambangi mereka di sana. Rasanay tetesan air mata ini jatuh namun tertahan kan oleh lincahnya dan lucunya para kakeh dan nenek tak ubahnya anak-anak kecil yang baru belajar berjalan. Perjalanan manusia amatlah singkat, ketika manusia berawal dari tetesan air hina yang nerkembang menjadi kandungan di perut orang tua, dan lahir tanpa sehelai kain pun, tidak tahu akan kehidupan dunia ini. Di ajarkan dan dirawatlah oleh orang tua dengan penuh kasih sayang. Agar kelak menjadi orang yang berguna di duina maupaun akhirat.
Dalam istilah, belajarlah di waktu pagi, bekerjalah di waktu siang, makanlah di waktu sore, dan tidurlah di waktu malam. Ungkapan ini jelas menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari yang menjadi ungkapan untuk cerita hidup manusia. Kita belajar ketika usia kita masih mudah, masih semngat yakni di waktu pagi hari. Dan setelah mengetahui banyak hal kita bekerja dari bekal ilmu yang telah kita pekajari di waktu muda untuk urusan dunia dan akhirat. Kemudian setelah bekerja tentu kita harus enuai hasil di waktu senja yakni sore hari, ketika usia kita sudah tak produktif tentu kita hanya menikamati hasil jerih payah selama ini. Dan akhirnya kita istirahat dan tidur untuk selamanya dengan tenag.
Jika hal ini dlakuakan tentu merajut kasih dan sayang dari Nya amatlah mudah. Namun jika siklus ini tidak terjadi dalan hidup tentu tidak bisa membayangkan jika di waktu senja hnaya diam dan berkumpul di panti-panti werdha. Semua ini tentu tidak hanya di pengaruhi diatas, pengamatan yang bisa saya ambil dari mereka adalah kejanggalan terpada siklus pagi yang berakibat fataluntuk selanjutnaya. Banyak mereka berusia 60 keatas, tentu mereka lahir di waktu pendidikan tidak semodern saat ini. Kekurangan edukasi serta hal lain mengakibatkan masa siang tidak bisa bekerja dengan efektif dan hasil pun tiak bisa diraih, apa yang di nikmati jiak tidak bekerja?. Demikian mengakibatkan apapun itu, ia jalani demi mendapat kan sesuap nasi, salah satunya adalah menjadi pembantu rumah tangga, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang jawa yang datang ke jakarta. Tidak sedikit mereka juga yang di ambila dari jalanan, sehingga ketidaj normalan, ketidaj warasan dan kestresan nmapka pada mereka.
Tapi ada yang berkata “yah.nenek disisni enak, makan enak , sakit di obati. Dari pada di sana kita di terlantarkano leh orang karena udah tidak punay sapa-siapa.” Ujar nek M (87 th). Ada juga yang pasrah sekarang hanya menunggu jemputan malaikat. Ada juga yang nasrani dan tidak mau pulang karena saudaranya merupakan muslim. Naudzubillah min dzalik.
“Kasihilah mereka yang adala di bumu, maka engkau akan di kasihi merekan yang ada di langit (Kholik)”. Demikan sabda Nabi
.Apalah daya jika melihatkenyataan ini, anak-anak mereka tidak menetahui keadaan oarang tuanya. Hnya dia yang bisa ku panjatkan untuknya semoga senentiasa di berikan yang terbaik oleh Sang Kuasa. Duh jakarta betapa kejamnya dikau.. semoga hidupku di jakarta yang tujuannya adalah tholabul ilmi ini senantiasa di bimbing oeleh Nya.

Tidak ada komentar: