Jumat, 28 Oktober 2011

App. Tumbang: ASI vs Susu Formula


Dalam hidup memang diharuskan menentukan sebuah pilihan, tentunya yang paling baik untuk diri kita diantara pilihan yang ada. Namun ada kalanya segala sesuatu yang kita pilih belum tentu yang terbaik. Untuk itulah kita saling berbagi dalam berbagai hal termasuk pengalaman hidup dengan tujuan supaya bisa menentukan mana yang paling baik untuk diri sendiri, keluarga dan juga sahabat.
Demikian juga ketika kita lebih memilih tidak mempunyai anak atau mempunyai anak. Ketika memilih melahirkan dengan cara normal atau secara operasi caesar. Ketika lebih memilih menyusui bayi atau memberikan susu formula sejak dilahirkan. Kecuali kita dihadapkan pada suatu kenyataan dimana tidak bisa memlilih dan harus dilakukan karena alasan kesehatan, keselamatan jiwa atau medis.
Tulisan ini berdasar pengalaman keponakan saya yang lebih memilih memberikan susu formula pada anaknya dan pengalaman saya yang kekeh untuk tetap memberikan ASI ekslusif yaitu hanya memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman yg lain. Lalu dilanjutkan dengan tetap menyusui sampai si kakak dan si adik berumur 2 tahun bahkan lebih beberapa bulan karena sulitnya proses menyapih.

Memang menyusui bukan hal yang mudah namun juga tak sulit ketika kita punya kemauan dan tentunya dukungan lingkungan sekitar terutama suami dan keluarga. Menyusui si kakak tentu berbeda dengan ketika menyusui si adik, karena kakak yang notabene anak pertama dimana belum punya pengalaman dalam mengurus bayi juga dalam hal menyusui. Butuh perjuangan yang ekstra untuk tetap bisa memberikan ASI ekslusif bagi si kakak. Pengalaman pertama, posisi yang tidak tepat ditambah puting yang lecet dan kadang luka, stres karena takut si kakak masih lapar dll. Justru hal inilah yang membuat produksi ASI jadi terhambat. Ini juga pernah saya alami. Namun saya tak pernah putus asa dan tetap berjuang untuk bisa memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan. Dengan tambahan obat perangsang yang berbahan dasar sari daun katuk juga dengan mengkomsumsi berbagai sayuran segar yang dikenal sebagai perangsang untuk memperlancar produksi ASI seperti daun katuk, pepaya muda, kedelai, kacang hijau, daun pepaya dll. Alhamdulillah 6 bulan bisa memberikan ASI, malahan diteruskan sampai 2 tahun.

Beberapa kali kadang ada saudara atau teman yang menyarankan untuk menambahkan susu formula, dengan alasan supaya anak kelihatan montok. Memang si kakak berat lahirnya hanya 2,7 kg jadi tampak mungil dibanding si adik yang lahir dengan berat 3,4 kg. Dan tentu saja, anak dengan susu ASI tidak semontok yang mengkonsumsi susu formula. Susah memang ketika dihadapkan pada mitos bahwa anak yang gemuk dan montok adalah anak yang sehat. Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Beruntung saya tidak tergoda dengan anjuran tersebut juga iklan produk susu formula yang banyak berseliweran di televisi. Berbekal dengan beberapa pengetahuan tentang pentingnya ASI yang saya baca dari beberapa tabloit atau majalah khusus ibu dan anak baik selama masa kehamilan atau setelah melahirkan.  Alhamdulillah anak anak walaupun tidak gemuk tapi cukup kuat daya tahan tubuhnya. Terkadang ketika kami orang dewasa dirumah terserang flu berat, mereka tetap sehat.
Dan, apa yang saya lakukan berbeda dengan apa yang keponakan saya lakukan. Anak semata wayangnya yang bernama Aldo sudah diberikan susu formula sejak dilahirkan. Bahkan sudah dipersiapkan sejak masih dalam kandungan, yang katanya susu formula paling bagus dan impor karena harganya yang mahal. Akhirnya Aldo lebih asyik minum dengan botol daripada menyusu pada ibunya. Tentu, karena mengisap dari botol tidak memerlukan perjuangan seperti ketika harus menyusu. Aldo menjadi malas menyusu, dan akhirnya si ibu kelimpungan sendiri karena mengeluh sakit pada payudara yang bengkak. Sementara saking asyiknya, kadang susu dalam botol besar habis dalam hitungan menit saja.

Berkali-kali saya anjurkan untuk tetap memberikan ASI dan dicoba dengan sabar. Namun sayangnya si ibu sudah patah semangat dan lebih suka memberikan susu formula dengan alasan tidak repot apabila harus ditinggal kemana-mana dan lebih santai tentunya karena bisa dihandle oleh orang lain, dan si ibu bisa istirahat. OK, kalau itu alasannya bagaimanapun itu sebuah pilihan.
Nah, minggu lalu Aldo yang genap berumur 2 tahun tepat di hari lahir Indonesia itu harus dirawat di rumah sakit. Karena panas tinggi sampai kaki seperti lumpuh dan pandangan kosong. Ini adalah puncak dari sakit yang beberapa bulan terakhir ini karena badannya selalu panas turun tidak menentu. Awalnya, dokter mengira terkena tipus namun hasil test darah negatif dan baik. Lalu dilakukan test urine. Ternyata Aldo mengalami gangguan pada pencernaannya akibat terlalu banyak mengkonsumsi susu formula secara berlebihan dan mungkin percernaannya tidak kuat. Memang,  keponakan saya bercerita kalau dalam sebulan dikeluarkan 1-1.5 juta hanya untuk membeli susu formula. Apalagi Aldo malas makan dan lebih senang menyusu. Pada umur lebih 6 bulanpun tetap mengkonsumsi 80% susu formula dibanding makanan tambahan. Badannya gemuk sekali, bisa dibilang obesitas. Pada umur 1.5 tahun lebih belum juga bisa bicara lancar, malas merangkat, duduk harus disangga apalagi belajar jalan. Sangat berbeda dengan si kakak yang sudah berlari umur 11 bulan juga lancar bicara. Dan si adik umur 13 bulan sudah bisa berjalan dan bicara sepatah kata (si adik lebih lambat dari si kakak).
Gencarnya iklan dari produsen susu formula dengan iming-iming penambahan asam lemak  AA dan DHA, yang konon katanya menambah kecerdasan menjadi sebuah dilema bagi orang tua. Padahal ASI mengandung zat yang paling tepat untuk bayi, lebih aman dan mengandung antibodi juga mengandung asam lemak dengan ukuran yang pas untuk meningkatkan kecerdasan anak. Apalagi ketika beberapa hari setelah melahirkan adalah masa emas dimana masih mengandung kolostrum yang kaya akan zat antibodi.

Beberapa rumah sakit khusus ibu dan anak sudah mencanangkan program inisiasi dini menyusui. Saya juga sempat mengalami ketika melahirkan si adik pada tahun 2007. Dimana begitu si adik lahir dengan keadaan badan belum dimandikan, hanya sekedar dilap kering saja lalu diletakkan di dada. Dengan perlakuan alami ini dengan harapan si adik akan mencari puting susu dan mengisapnya. Dan menurut dokter, bayi yang usai dilahirkan bisa bertahan tidak menyusu selama 10 jam jadi tidak usah terlalu risau ketika ASI belum keluar sehabis melahirkan.

Masih segar dalam ingatan pada tahun 2006 heboh dengan berita beberapa susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter Sakazakii yang sangat berbahaya. Dapat mengakibatkan peradangan saluran pencernaan, infeksi peredaraan darah dan infeksi pada lapisan urat syaraf tulang belakang dan orak.  Belum lagi dalam status facebook banyak teman yang mengeluh harga susu formula yang melonjak naik akhir-akhir ini. Padahal sebenarnya kita diberikan pilihan untuk bisa memberikan ASI yang gratis tanpa biaya apapun. So, kembali kepada pilihan masing-masing atau memang susu formula sudah menjadi gaya hidup?

Iya memang, terkadang banyak teman yang bercerita kalau anaknya minum susu produk A , B atau C dengan harga yang cukup mahal, sekaleng kecil 400 gram saja sekitar 150rb. Namun apakah harga mahal sebuah jaminan? Atau pemberian susu formula adalah sebuah gaya hidup modern dan menyusui adalah sebuah hal yang kuno? Dengan menyusui kita akan merasa semakin sempurna menjadi seorang ibu dengan ikatan psikologis yang lebih kuat ketimbang dengan botol. Kecuali memang kita diharuskan memberikan itu karena sebuah keterpaksaan dengan alasan medis misalnya untuk bayi prematur atau alasan lainnya.

Tidak ada komentar: