Kamis, 10 Januari 2019

ANGIN DUDUK, PEMBUNUH NOMOR 1 DI INDONESIA


Angin duduk begitu orang awam menyebutnya, familiar di sekitar kita menjadi sebuah kepanikan tersendiri bagi orang di sekitarnya apabila seseorang mengalkami gejala tersebut, sehingga bukan pertolongan gawat darurat melainkan pasrah dg keadaan disebabkan ketidaktahuan.
Dalam istilah kedokteran angin duduk disebut Angina Pectoris, gangguan gawat darutat jantung bagian dari Sindrom koroner akut/ Pengakit Jantung Koroner.  Namun dalam praktiknya bukan hanya angian pectoris, tapi bisa STEMI atau NSTEMI. Penyakit ini memang menjadi ancaman bagi setiap orang yang mengalaminya. Apabial pertolongan tidak segera dilakukan, ketepatan diagnosis, hingga ketepatan terapi menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingkat survival pasien, tanpa melihat masalah faktor pencetus dll.
Berikut ulasan pengalaman mendapatkan pasien seperti di atas;
Tn. X, 65 th laki laki, datang ke unit gawat darurat RS diantar oleh keluarga pasien, merupakan rujukan dari Klinik setelah dirawat 1 hari dg diagnosis Sindrom Dispepsia. Pasien datang dg keluhan utama Nyeri dada sepeti tertindih beban yang hilang timbul sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dada disertai nyeri ulu hati, nyeri menjalar ke lengan kanan hingga ke punggung, leher dan rahang, disertai keluar keringan dingin. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan Kolesterol.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
-          Keadaan Umum: Sadar Penuh (Compos Mentis)
-          Tanda Vital
TD 150/100 mmHg, Nadi 70 kali/menit, Res 20 kali/menit, Suhu 36.7 oC
-          Status Generalis
o   Kepala :  Normochephal, tdk deformitas
o   Mata :  Conjungtiva tidak pucat, sklera tdk ikterik
o   THT : tdk ada Pernapasan cuping hidung
o   Leher:  tidak ada peningkatan tekanan JPV
o   Thorax : Paru Suara Nafas vesikular, Rhonki -/- WheezinG -/-
Jantung Bj I, II reguler tdk ada tambahan banyi jantung
o   Abdomen : Supel, datar, nyeri tekan epigastrium (+), BU (+) normal
o   Ektremitas : akral hangat, edema -/-

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang:
EKG










Laboratorium
Darah rutin; Hb: 13.2, Leukosit 8900, Trombosit 238.000, Ht 36 %

Kolesterol 250, Trigliserida 190
CK 75, CKMB 1121


Assesment
Diagnosis STEMI Anterior ekstensif dg killip II
Hipertensi gr II
Tatalaksana
-          Bed Rest
-          O2 3-4 lpm Nasal Kanul
-          ISDN 5mg
-          Aspilet 80 mg
-          Clopidogrel 75 mg
-          Captorpil 12.5 mg
-          Rujuk ke RS tipe lebih atas  untuk dilakukan trobolitik atau PCI

Setelah di terapi emergensi dan dilakukan pemeriksaan lab, tiba-tiba pasien kejang dan penurunan kesadaran. Henti napas, nadi tidak teraba, dan tekanan darah tidak terukur.

Dilakukan EKG, Hasilnya VF.
Selanjutnya dilakukan defibrilator/ kejut listrik, tiba-tiba irama EKG asistol. Dilanjutkan dilakukan kompresi jantung paru (CPR) dg 5 siklus, setelah optimal CPR tidak berhasil dan pasien dinyatakan meninggal.
Dari cerita di atas, tentu kita bisa ambil pelajaran, bahwa penyakit jantung kooner amat sangat mengancam jiwa, butuh ketelitian tersendiri mulai dari diagnosis, terapi, dan timing hingga pasien dapat berhasil survive.
Acute Coronary Syndrome, sindrom koroner akut, atau penyakit jantung koroner merupakan kelainan pembuluh darah jantung yang disebabkan adanya penyempitan lumen pembulh darah jantung oleh sumbatan plak, sehingga pasokan oksigen yang dihantarkan menuju otot jantung tidak memenuhi, sehingga timbul iskemik, hingga nekrosis. Dan pada pemeriksaan enzim jantung meningkat sebagai pertanda kerusakan otot jantung. Dalam diagnosa medis bisa disebut Acute Miocard Infark (infark miokard akut).

Infark miokard sebagai gangguan jantung yng tidak stabil terbagi menjadi tiga, Pemeriksaan EKG dan lab. Enzim jantung sebagai patokannya,
  • STEMI ditandai dg adanya Segmen ST elevasi pada EKG dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I. STEMI (ST Elevasi Miokard Infark)
  • NSTEMI ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
  • UAP (unstable Angina Pectoris), ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan tidak adanya peningkatan enzim jantung, seperti CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
Sehingga apabila mengalami gejala jantung koroner seperti di atas sebaiknya segera meminta bantuan pertolongan pertama di unit kesehatan, baik UGD atau prakter dokter lainnya. Acap kali gejala jantung koroner memang mirip dengan gejala maag, dan apabila di biarkan hingga hitungan jam dan hari tidak menutup kemungkinan menjadi ancaman jiwa. Semakin lama terapi emergensi yang diberikan semakin luas pula keparahan dari penyakit tersebut.

Sabtu, 21 Januari 2017

Lebarkan Senyummu Mak, Pak !

“Bagaimana pun caranya anakku kudu sekolah, biarlah orang tua nya bodoh ndak sekolah, asalkan ankku sekolah”. Sepenggal kalimat ini yang sering terlontar di mulut mamak bapak ku, begitu aku menyapanya. Persisnya ketika sowan ke ndalem Kyai saat aku nyobain nyantri. Ya begitulah beliau, hanya tamat SD, namun aku bangga pada mereka. Kebanggaanku tak tertandingi dengan mereka yang mempunyai orang tua sarjana hingga profesor. Sejak kecil kami hidup sederhana dan pas-pasan. Namun beliau mampu membuat senyum setiap waktu. Aku dididik dengan modal nekat, begitu kasarnya.













Mamak mengajarkanku sebuah kesungguhan dan perjuangan untuk menggapai mimpi yang tinggi, beliau menjadi ‘Madrasatul Ula’ bagi kedua anaknya, aku dan adekku. Mamak mengajarkan ku tentang arti perjuangan yang sesungguhnya. Harus berusaha menjadi nomor satu tentu dalam kebaikan.

Bapak juga demikan, belia mengajari kami apa arti ketulusan dan keikhlasan sesungguhnya, beliau tidak menuntut macam-macam. Bagi selalu berpesan gapailah perangai ikhlas, sabar lan nerimo.

Habib Luthfi berkata, “walaupun seluruh gunung di Indonesia kau jadikan emas dan intan permata untuk membalas jasa kedua orang tua mu, tidak ada apa-apanya.” Aku hanya bisa doa tiap waktu memohonkan ampun dosa-dosanya, dan menganugerahkan rahman dan rahim Nya kepada kedua Nya. Mak, pak, anakmu sekarang memulai tahapan interaksi dengan masyarakat sesungguhnya, tanpa restu dan doa mu aku tidak bisa apa-apa. Selanjutnya kami selelu berusaha membuat bahagia kalian berdua, tebarkan senyum mu dan lebarkan senyum mu.

Selasa, 16 Agustus 2016

MERDEKA MU MERDEKA KU JUGA

Benarkah kita benar-benar merdeka?
Merdeka dari mana?
Masihkah kita dijajah oleh Belanda dan Jepang? Tidak . . . .!
Kita tidak pernah dijajah, melainkan dijajah oleh diri sendiri

Merdeka bukanlah bebas dari penjajah,
merdeka bukanlah tentang kemenangan
merdeka bukanlah foya-foya di atas perjuangan orang lain, orang lain.
Merdeka berarti membangun,
Membanguan mental,
membangun pondasi-pondasi yang telah dirangkai oleh para pendahulu,
bukan para darah biru

Merdeka yang kau punya belum tentu mereka juga punya
Aku tidak benar-benar merdeka
Merdekaku hanya semu, palsu, sekedar pura-pura
Mereka menyaksikan secara de facto juga de juro\
Mereka juga menyaksikan atas nama rasa adil
Dari orang-orang yang beruntung, orang-orang yang bergelimangan kemewahan

Kami ora popo . . .
Utusan orang kere, titisan orang yang kurang beruntung
Tidak sepertimu wahai titisan darah biru
Menikmati lezatnya hidup atas nama perjuangan

Apakah merdeka itu masih ada orang-orang bodoh
karena tak mampu bayar spp sekolah,
Sedangkan semboyan sekolah gratis bergema di mana-mana
Apakah merdeka itu membiarkan gembel-gembel berkeliaran,
lalu kau angkut seenaknya dengan mobilmu, kasihan
apakah merdeka itu memusuhi orang tang tak sama denganmu
apakah merdeka itu menusuk orang-orang kecil melalui katanya negara hukum
mungkin merdeka itu senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang
mungkin merdeka bagimu seperti panen raya di kampung-kampung,
yang menganggap mereka ikut bermusim
Atau merdeka yang sesungguhnya adalah
membiarkan orang lain, sesamamu kelaparan,
Sedangkan kau menikmati hidangan didepan matanya
dan kau buat ia hanya menelan ludah dengan aroma sedapnya, tanpa berucap mari
ya, seharusnya merdekamu merdekaku juga



Sabtu, 23 Mei 2015

Isra Mi'raj: Misi Reformasi Peradaban Umat

Isra Mi'raj adalah salah satu bukti Kerasulan Muhammada SAW. Bukti otentik ini sebagai landasan bahwa Agama tidak hanya dipandang sebagi suatu yang eksperimen, namun suatu yang realita terjadi. Warga sarungan tentu tidak akan aneh ketika membaca sejarah Isra Mi’raj, karena di Pesantren diajarkan khusus kitab isra wal miraj Nabi Muhmmad SAW dalam kitab Dardir (fii Qishratul Mi’raj). Cerita singkatnya bisa dibaca di tweet @rico_IR.  Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab 621 M, 3 tahun sebelum Hijrah, tahun 11 kenabian. Artinya 11 tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.
Dalam Al Quran dijelaskan secara gamblang dalam surat Al-Isra ayat 1.
Artinya: "Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui". (Q.S. Al-Isra: 1).

Isra Mi’raj juga memiliki makna penting dalam perjalanan umat Islam. Makna penting itu jika diurai tentu akan memanjang. Isra Mi’raj, bisa dimaknai dari sudut pergolakan dakwah Nabi, kebenaran doktrin Islam, perjumpaan dengan para Nabi dan komunikasi pad Tuhan, dan lain sebagainya. Tapi yang jelas, kisah-kisah serupa itu mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan narasi besar yang memperkokoh dinamika umat untuk menyaksikan kehadiran Allah SWT.
Nabi melihat tentang kebesaran-kebesaran Allah, juga diperlihatkannya surga beserta panoramanya dan peristiwa-peristiwa yang lain yang menakjubkan. Berbagai fenomena yang ditemui oleh Nabi saat melakukan wisata religius begitu banyak yang amat mengerikan, seperti bibir dan lidah yang terus tergunting yang mencerminkan hukuman bagi orang-orang yang selalu menyebarkan fitnah. Wajah dan dada yang terus tercakar sebagai gambaran bagi mereka yang suka menindas. Orang-orang terus berenang di kolam nanah dan darah lalu terus dilempari batu, sebagai gambaran siksaan bagi orang-orang yang korupsi dan makan harta riba. Semua amatlah penting untuk dijadikan sebagai referensi renungan di tengah gelombang kehidupan yang semakin runyam dan begitu dahsyat. 
Di samping itu juga agar manusia tidak melakukan tindakan-tindakan yang sewenang-wenang. Juga agar manusia tidak melangsungkan hidupnya di dunia yang hanya mengikuti zaman yang carut-marut, akan tetapi manusia diharapkan hidup dan beraktivitas dengan bahasa langit seperti orang-orang suci, para Nabi, sahabat dan ulama bahkan menyatu dengan Tuhan. Dengan hidup yang dihiasi dengan kesempurnaan bahasa langit dan bumi akan mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. 
Di samping itu Isra juga merupakan simbol perjalanan hidup Manusia, isra adalah perjalanan mendatar (Horizontal) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina. Hal ini mengisyaratkan proses pertumbuhan yang bersifat kuantitatif. Mi'raj adalah perjalanan naik (Vertikal) dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha mengisyaratkan adanya proses kualitatif. Manusia makhluk Allah yang paling sempurna, memahami hidup ini untuk menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan.
Proses perkembangan lebih menekankan pada mental yang bersifat nilai bukan materi. Proses ini lebih berbicara tentang kualitas hidup  manusia misalnya, bodoh menjadi pandai, dari hina menjadi mulia, dari terlaknat menjadi terhormat, dari maksiat menjadi taat. Kemudian proses yang bersifat kuantitatif, dari mulai kecil kemudian besar, sedikit menjadi banyak.
Dalam proses perjalanan Mi'raj kita diingatkan pada tiga titik, atau tiga tempat yang paling penting yaitu, Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Sidratul Muntaha. Hal ini mengingatkan juga pada tiga peristiwa penting dalam perjalanan hidup manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Dengan kata lain, bahwa hidup bagi manusia adalah proses dinamis, proses ke masa depan, maka perjuangan Isra Mi'raj adalah isyarat bagaimana manusia menatap masa depan dan mengabdikan diri pada Allah.

Dalam peristiwa ini yang termuat dalam hikmah-hikmah Isra Mi’raj yang dapat dipetik dari momen-momen simbolik peristiwa itu adalah:
1.   Kita menemukan, bahwa sejarah mencatat prosesi pembedahan dada Nabi sewaktu Isra Mi’raj. Dari peristiwa itu, kita menangkap simbol pelapangan dada, penyucian hati, penajaman nurani. Lebih spesifik lagi, pembedahan itu beresensi persiapan untuk bermunajat dengan yang Maha Tinggi dan Maha Suci.
2.   Kelapangan dada, kerendahan hati dan ketajaman nurani sebagaimana yang dipraktekkan Nabi, terlihat sangat penting dalam misi-misi profetik dan sosial demi mereformasi tatanan yang tidak ideal. Fungsinya, sebagaimana yang ditegaskan Al-Qur'an, dapat meringankan beban (psikis), mengangkat citra, dan menumbuhkan optimisme, bahwa di balik kesengsaraan ada jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 1-6). 
3.  Isra Mi’raj juga mengandaikan adanya dorongan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Perjumpaan dan dialog antara Nabi Muhammad dengan Nabi-Nabi seniornya, soal-jawabnya kepada Jibril, menandakan bahwa reformasi menuntut kerendahan hati untuk belajar dari banyak kisah gagal dan sukses orang lain.
4.   Sebatas yang kita amati, spiritualitas atau perasaan bahwa adanya kontrol yang Maha Tahu atas aktivitas kita, menjadi penting tatkala sistim-sistim yang kita reformasi tidak berjalan dengan ruh yang kita idealkan. Wisata spiritual Nabi dalam Isra Mi’raj, menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting untuk menuntaskan misi dan visi reformasi.
Sebuah falsafah moralitas mengingatkan kita, bahwa “Innama al-umam al-akhlaq ma baqiyat, fain hum dzahabat akhlaquhum dzahaba” (suatu komunitas akan kekal bersama moralitas; bila moralitasnya hancur, raiblah mereka bersamanya).


Wallahu a`lam bi as-showab


Gudik (Scabies), Primadona Pesantren

Penyakit scabies, yang dalam bahasa awam disebut penyakit kudis (dalam bahasa Jawa disebut gudik), merupakan salah satu ”komoditas” yang menarik untuk ditelaah di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Setiap santri yang mengenyam pendidikan di suatu pesantren, kemudian dia mampu bertahan cukup lama di sana, sedikit banyak akan bersinggungan dengan penyakit kulit, terutama scabies ini.

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang menginfeksi permukaan kulit seseorang, kemudian membuat lubang yang bersifat mikroskopis dan menimbulkan rasa gatal sampai timbul lesi atau luka. Penyakit ini termasuk penyakit yang jamak terjadi di Indonesia, terutama tempat yang ditengarai memiliki kualitas sanitasi dan lingkungan yang rendah. Kutu ini lebih sering menyerang secara aktif di malam hari, sehingga ketika malam menjelang tentu akan mengganggu tidur seorang penderita. Penularan penyakit ini tak jauh berbeda dengan macam penyakit kulit lainnya, yakni lewat penggunaan pakaian dan handuk bersama, kontak kulit dengan penderita dan bak mandi yang dimanfaatkan secara masal.

Sebagaimana mitos-mitos yang muncul di kalangan pesantren, terutama pesantren besar, bahwa kudis merupakan “stempel resmi” seorang santri, bahwa ia telah siap untuk menempuh tingkatan yang lebih tinggi dalam pembelajaran holistik yang ada di pesantren. Banyak kalangan kiai menyebutkan, “Kalau kamu sudah gatal-gatal di pesantren, tandanya kamu sudah betah dan ilmu akan lebih mudah masuk,”. Walaupun argumen ini belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman penulis, dhawuh para kiai ini banyak benarnya. Beliau menganggap bahwa penyakit kudis yang diderita santri adalah tanda awal turunnya berkah.

Berkah, Santri, dan Kudis

Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.

Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini.  Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?

Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi.

Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.

Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai.

Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu?

Sebagai seorang santri penulis merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.

Diadaptasi dari Islam Nusantara


Kamis, 26 Februari 2015

PASMINA BIRU

Saat angin mengabarkan luka
Tentang arah tanpa tujuan,
tentang mimpi tanpa realita,
tentang mendung tanpa hujan,
tentang hujan tanpa pelangi,

Namun bintang di angkasa sana selalu tersenyum
dengan cercahan cahayanya
“Kapan ini akan berakhir?” tanyanya

Tak seorang pun mampu mengetahui, prediksi
Kapan tujuan terkejar
Mungkin nanti, besok, lusa, atau kemarin
Mungkin setelah langit runtuh,
gunung tercabut dari bumi,
atau bahkan setelah mentari tak lagi singgah di senja hari.

Ia memejam, barangkali ia berdoa:
“Semoga di depan dapat ku temui Tuhan”
Akan ada masa, di mana setiap tekad senantiasa membentuk harapan dan mimpi yang amat tinggi,
namun begitu indah
Disana, di angka 26-27 ditemukannya, indah perangainya, santun pekertinya
ia adalah ‘Pasmina biru’

Ciputat, 15 Februari 2015
@rico_IR

Rabu, 11 Februari 2015

Titip Kangen untuk Ibu

Terbesit bisikan ‘ibu ibu ibu...’ dalam jiwa ini, terbayang ibu yang di seberang sana. Tak dirasa air mata ini menetes perlahan tanpa tersadar. - Titip Kangan untuk Ibu -
Apapun yang ku lakukan, bahkan semua keinginan yang ibu pinta dariku, dan aku berhasil memenuhinya, pasti itu semua sangat tidak sebanding dengan apa yang telah kau beri. Sangat tidak bisa menandingi atas apa yang telah engkau berikan padaku. Tak akan pernah bisa mengganti segala bentuk perjuanganmu.
Saat masih didalam kandungan selama berbulan-bulan, awal dan untuk pertama kalinya aku sudah mulai merepotkan Ibu. Kemanapun ibu saat itu, aku membuat gerakmu terhambat. Aku membuatmu tak bernafsu untuk memakan makan-makanan yang engkau sukai, itu karena diriku, ibu berusaha untuk berhenti memakan apa yang menjadi kesukaanmu.
Saat benar-benar aku terlahir dengan tubuh yang masih sangat mungil, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sepanjang hari dan seringkali juga malam hari. Disaat Ibu sudah mulai bisa tertidur, akhirnya usahamu untuk memejamkan mata, mendadak batal.
Suara tangisanku menjadi ulah semuanya dan memecah kesunyian malam pada waktu itu. Aku hanya bisa menangis. Lagi-lagi, Ibu rela menungguku sampai aku benar-benar nyaman dan diam tanpa bersuara lagi, pertanda Ibu sudah menjawab segala pintaku dengan suara tangisan. Berkat komunikasi yang Tuhan ajarkan padamu, engkau mengerti bahasa tangisanku. Engkau tahu semua makna tangisanku.
Semakin hari, badanku mulai tumbuh besar. Aku bisa merangkak, berjalan dan akhirnya aku bisa berlari-lari, bermain petak umpet. Tidak jarang aku akhirnya main petak umpet denganmu.
Sampai usiaku kini sudah tidak anak-anak lagi. Baru saja masuk dan menjadi pendatang baru di pintu dewasa. Aku besar dan bisa melakukan ini-itu. Aku hidup jauh darimu. Timbullah rasa mengacuhkan dirimu. Aku mulai tidak mendengarkan segala pintamu. Aku seringkali terlihat cuek, tanpa mengindahkan apa yang kau inginkan dariku.
Tapi itu semua hanya perasaan yang tampak dari luar saja. Sebenarnya aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Dalam waktu dan jarak yang terpisah aku menangis dan sedih jika mengingat, lagi apa ibu sekarang. Makan apa engkau sekarang? Sudah lama, aku tak pernah lagi satu rumah dengan ibu. Hampir satu dekade lebih, aku hanya sesekali datang dan menginap satu atap denganmu. Karena aku harus menemukan jalan kemandirianku agar tak membebanimu terus-menerus, dan mampu melihat engkau tersenyum.
Segala bentuk mondar-mandirku selama ini, datang dan pergi dari suatu tempat, menunggu dan menanti, melakukan sesuatu, hampir semuanya caraku, mencari serta menemukan kepingan demi kepingan puzzle dimana ujungnya akan aku persembahkan untukmu wahai Ibu.
Aku belum seperti kebanyakan orang, yang sudah membelikan apapun yang ibu inginkan. Aku juga belum bisa mengiyakan semua perintah yang terlontar dari mulut ibu. Aku ingin melihat ibu selalu tersenyum melihat anak yang sudah dibesarkan ini bisa berhasil. Bisa melakukan apa yang sesuai dengan cita-citaku
Kehidupan memang menyibukkan. Kadang aku tak pernah punya waktu untuk memperhatikan dirimu. Hanya untuk sekedar menanyakan kabarmu, seringkali aku lupa.
Pagi, siang, sore, dan malam hampir semuanya urusan pribadi. Urusan apapun, sehingga aku benar-benar melupakanmu. Padahal, ada engkau orang yang paling aku cintai duduk sepi di kejauhan sana, selalu mengingat diriku. Aku jauh berbeda denganmu. Saat aku belum bisa apa-apa dulu, engkau selalu ada buatku.
Aku tak ingin menjadi anak seperti dalam satu kisah. Dimana saat itu, seorang anak dan ibunya, sedang duduk di sebuah bangku yang ada di sebuah taman, lalu sang ibu bertanya pada anaknya, tentang apa yang dilihatnya di atas danau tersebut. Lalu sang anak menjawabnya dengan jawaban yang benar. Kemudian,sang ibu kembali bertanya pada anaknya tentang hal yang sama.
Anaknya pun kembali menjawab dengan hal yang sama. Tak puas, ibunya kembali bertanya dengan hal yang sama, itu apa? Lalu dengan nada tinggi sang anak menjawabnya. Dan kembali sang ibu menjawab, tidakkah engkau ingat, dulu waktu engkau masih belum bisa apa-apa, engkau banyak bertanya dan aku menjawab semuanya, tanpa ada rasa kesal dalam diriku, ujar sang ibu.
Aku tak ingin seperti itu memperlakukan dirimu. Sesibuk apapun diriku, aku bertekad tak ingin membuat hatimu terluka. Aku tak ingin melupakan dirimu, apalagi karena urusan pekerjaanku, atau apapun itu. Seperti kebanyakan anak yang merasa dirinya tak punya waktu untu merawat ibunya. Ada yang sampai tega mengantarkan ibunya ke panti jompo. Aku tak ingin seperti itu. Seandainya aku jadi orang dikemudian hari, aku bertekad tidak melupakannmu. Sehebat apapun diriku kelak, aku tetap bukanlah siapa-siapa di hadapanmu. Aku tetaplah anak yang cengeng.
Ibu. Aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu. Aku selalu terbayang, waktu terus berjalan dan berputar mengejar matahari terbenam dan akan berhenti pada masa tugasnya habis. Begitupun dengan kondisimu, wahai ibu.
Siang malam dengan parasmu cantikmu berubah. Semakin hari semakin menampakan garis-garismembelah permukaan wajahmu. Rambutmu yang sudah tidak satu warna lagi. Warna kebanyakan orang Indonesia. Tidak lagi semuanya hitam. Namun sedikit-sedikit berganti menjadi putih. Suaramu yang sedikit kehilangan volumenya, dan matamu yang semakin lama,semakin sayu.
Aku masih ingat saat aku masih kecil, banyak hal yang membuat ibu harus mengeluarkan air mata atas kenakalanku sebagaimana anak-anak superaktif lainnya. Suaramu yang memanggil saat aku sedang asyik bermain dengan teman-temanku. Seringkali tak ku sadari bahwa aku harus kembali pulang. Aku mengacuhkanmu. Sampai-sampai kesabaranmu tak tertahankan, engkau datang ditempatku bermain, lalu memegang tanganku untuk pulang ke rumah, hanya untuk sekedar aku makan siang dulu.Atau saat engkau membangunkan diriku yang terlelap pulas di waktu pagi, aku seringkali menggerutu.
Itu dulu. Sekarang aku sudah jarang satu atap lagi denganmu. Aku rindu. Aku kangen masa-masa itu. Aku ingin masa-masa itu berulang. Mengisi hari-harinya dengan penuh kepatuhan dan berbuat apa yang ibu inginkan dariku. Mendengarkan dan melakukannya dengan penuh semangat sebagaimana aku bersemangat dalam bermain bersama teman-temanku.
Berbuat banyak dan yang dapat menyenangkan hati ibu. Aku ingin buat engkau bangga melahirkanku dari rahimmu.
Andai suatu saat nanti aku memang ditakdirkan menjadi orang yang berhasil, atau belum berhasil sepenuhnya, aku akan membalas semuanya dengan apa yang aku bisa. Aku tak ingin ibu merasa kesepian karena berjauhan dengan anak-anaknya. Aku ingin menemani masa-masa senjamu.
Meskipun selama ini, sepengetahuanku, ibu tak pernah meminta apapun dari diriku. Jarang sekali melihat engkau mengeluh ini-itu. Hampir dipastikan ibu selalu berhasil memendam sendiri segala kepiluanmu. Sampai-sampai aku tak pernah melihatmu bersedih. Kalaupun engkau sedang ada masalah, jalan satu-satunya hanya diam, dan duduk lama di atas sejadah. Melakukan apa yang bisa dilakukan. Membaca dan bermunajat pada Tuhan.
Ibu, tanpa aku meminta doa darimu, pasti engkau sudah lama, diam-diam mendoakan diriku agar selalu mendapatkan semua apa yang aku inginkan. Tanpa aku ingatkan setiap harinya, engkau sudah mendoakanku. Tapi ibu, sebagai anak yang tahu diri, aku harus meminta doa darimu, agar jalan yang aku tempuh dapat berhasil.
Bagiku, ibu adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Sepertinya ibu tak berharap apapun dariku tentang materi. Hanya satu yang engkau harapkan. Setiap kali aku pergi melanglangbuana kemanapun diriku berada, hanya satu pinta spesifik dari mulutmu, yaitu Jangan melupakan Tuhan. Ya, hanya itu ucapan yang selalu diucapkannya berulang-ulang. Hampir tak pernah bosan ia mengingatkanku.
Semoga ibuku selalu sehat di seberang sana. Tetap semangat menjalani hari-hari. Dan yang terpenting mendapatkan lindungan dari yang maha kuasa. Amin

Ciputat, 16 November 2013                                             
Salam Rindu dari Sulungmu,

Jumat, 18 Oktober 2013

Path--Fath ; Buka-bukaan

Pada beberapa waktu terakhir muncul medsos-medsos baru yang saya kiranya belum pantas untuk memilikinya, karena butuh aat elektronik anggih/touchscreen seperti aplikasi chat whats up, Line, serta khusus untuk kirim photo atau picture berupa Instagram  dan Path.
Yang unik, memaknai Path perlu diketahui berasal dari bahasa arab, yaitu al-Fath, artinya adalah buka atau buka-bukaan. Dan kali ini akan mencoba menshare poto di Fath (secara buka-bukaan).



ndak usah takabbur
Ied Qurban, 1434 H, Isriqlal Mosque.

Rico Irawan

Add caption

Toleran saja

Nah sedikit tadi sudah membuka, semoga dapat mengisi inovasi lagi. 











Jumat, 20 September 2013

perangai indah dari Abi ku



Salam!!!
Puji syukur atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, hingga kita dapat melangkak telapak demi telapak untuk arungi sebuah misi kehidupan. Kehidupan dalam sebuah planing jangka panjang, amat panjang. Semoga misi ini senantiasa diberikan rekomendasi dan ridho oleh Allah ‘Azza Wa Jalla.
Juga tanpa khilaf kupersembahkan sebuah pinta berupa rahmat ta’dzim untuk bagindaku yang agung diantara makhluk yang agung, Muhammad SAW, atas jerih payah mewujudkan suatu kesepakatan yang haq dan sebenar-benarnya hukum untuk menuju-Nya.
Sudah hampir 4 bulan, tak menyapa dan meneteskan pikir dalam blog ini, karena sebuah kesibukan yang perkosai jiwa. Dalam kesempatan ini kita akan sedikit berfikir tentang bentuk perangai yang indah; yaitu Sabar, Ikhlas, dan Syukur. Selain menjadi kunci seseorang untuk menjalani sebuah misi di atas, My Fath selalu pesan dengan tiga perangai itu. Sehingga aku belajar dari semua itu. Betapa sebuah misi kehidupan hakiki amat mudah di planing, namun usaha tidak hanya dengan lidah-lidah kotor, dan pita suara cempreng, namun butuh kesungguhan dan keyakinan berupa iman, islam, dan ihsan.
Aku belajar. Betapa hidup itu tidak selamanya berbuah manis dan indah, terkadang Ia memberikan peta jalan untuk sebuah najah, namun Dia mengizinkan aku memlalu sebuah ujian dan coba. Tapi aku tahu bahwa ia tidak akan pernah meninggalkanku. Dan kurasa patut untuk dinikmati, bersyukur adalah cara untuk menikmati anugerah yang amat indah.
Aku Belajar, Bahwa tidak semua yang aku harapakan akan menjadi kenyataan. Terkadang Ia membelokkan rencanaku, tetapi aku tahu, bahwa itu lebih baik dari apa yang aku rencanakan. Sebab itu aku berusaha belajar untuk menerima semua itu dengan subuah Keikhlasan.
Aku Belajar, Bahwa Cobaan itu pasti datang dalam hidupku. Aku tidak mungkin berkata,”tidak…Ya ALLAH..” Karena aku tahu bahwa semua itu tidak melampaui kekuatanku. Sebab itu aku berusaha belajar untuk mengahadapinya dengan kesabaran. Aku Belajar, bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, Karena semua rancanganNYA indah bagiku, Karena itu aku berusaha belajar, belajar dan belajar.