Kamis, 10 Januari 2019

ANGIN DUDUK, PEMBUNUH NOMOR 1 DI INDONESIA


Angin duduk begitu orang awam menyebutnya, familiar di sekitar kita menjadi sebuah kepanikan tersendiri bagi orang di sekitarnya apabila seseorang mengalkami gejala tersebut, sehingga bukan pertolongan gawat darurat melainkan pasrah dg keadaan disebabkan ketidaktahuan.
Dalam istilah kedokteran angin duduk disebut Angina Pectoris, gangguan gawat darutat jantung bagian dari Sindrom koroner akut/ Pengakit Jantung Koroner.  Namun dalam praktiknya bukan hanya angian pectoris, tapi bisa STEMI atau NSTEMI. Penyakit ini memang menjadi ancaman bagi setiap orang yang mengalaminya. Apabial pertolongan tidak segera dilakukan, ketepatan diagnosis, hingga ketepatan terapi menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingkat survival pasien, tanpa melihat masalah faktor pencetus dll.
Berikut ulasan pengalaman mendapatkan pasien seperti di atas;
Tn. X, 65 th laki laki, datang ke unit gawat darurat RS diantar oleh keluarga pasien, merupakan rujukan dari Klinik setelah dirawat 1 hari dg diagnosis Sindrom Dispepsia. Pasien datang dg keluhan utama Nyeri dada sepeti tertindih beban yang hilang timbul sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dada disertai nyeri ulu hati, nyeri menjalar ke lengan kanan hingga ke punggung, leher dan rahang, disertai keluar keringan dingin. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan Kolesterol.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
-          Keadaan Umum: Sadar Penuh (Compos Mentis)
-          Tanda Vital
TD 150/100 mmHg, Nadi 70 kali/menit, Res 20 kali/menit, Suhu 36.7 oC
-          Status Generalis
o   Kepala :  Normochephal, tdk deformitas
o   Mata :  Conjungtiva tidak pucat, sklera tdk ikterik
o   THT : tdk ada Pernapasan cuping hidung
o   Leher:  tidak ada peningkatan tekanan JPV
o   Thorax : Paru Suara Nafas vesikular, Rhonki -/- WheezinG -/-
Jantung Bj I, II reguler tdk ada tambahan banyi jantung
o   Abdomen : Supel, datar, nyeri tekan epigastrium (+), BU (+) normal
o   Ektremitas : akral hangat, edema -/-

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang:
EKG










Laboratorium
Darah rutin; Hb: 13.2, Leukosit 8900, Trombosit 238.000, Ht 36 %

Kolesterol 250, Trigliserida 190
CK 75, CKMB 1121


Assesment
Diagnosis STEMI Anterior ekstensif dg killip II
Hipertensi gr II
Tatalaksana
-          Bed Rest
-          O2 3-4 lpm Nasal Kanul
-          ISDN 5mg
-          Aspilet 80 mg
-          Clopidogrel 75 mg
-          Captorpil 12.5 mg
-          Rujuk ke RS tipe lebih atas  untuk dilakukan trobolitik atau PCI

Setelah di terapi emergensi dan dilakukan pemeriksaan lab, tiba-tiba pasien kejang dan penurunan kesadaran. Henti napas, nadi tidak teraba, dan tekanan darah tidak terukur.

Dilakukan EKG, Hasilnya VF.
Selanjutnya dilakukan defibrilator/ kejut listrik, tiba-tiba irama EKG asistol. Dilanjutkan dilakukan kompresi jantung paru (CPR) dg 5 siklus, setelah optimal CPR tidak berhasil dan pasien dinyatakan meninggal.
Dari cerita di atas, tentu kita bisa ambil pelajaran, bahwa penyakit jantung kooner amat sangat mengancam jiwa, butuh ketelitian tersendiri mulai dari diagnosis, terapi, dan timing hingga pasien dapat berhasil survive.
Acute Coronary Syndrome, sindrom koroner akut, atau penyakit jantung koroner merupakan kelainan pembuluh darah jantung yang disebabkan adanya penyempitan lumen pembulh darah jantung oleh sumbatan plak, sehingga pasokan oksigen yang dihantarkan menuju otot jantung tidak memenuhi, sehingga timbul iskemik, hingga nekrosis. Dan pada pemeriksaan enzim jantung meningkat sebagai pertanda kerusakan otot jantung. Dalam diagnosa medis bisa disebut Acute Miocard Infark (infark miokard akut).

Infark miokard sebagai gangguan jantung yng tidak stabil terbagi menjadi tiga, Pemeriksaan EKG dan lab. Enzim jantung sebagai patokannya,
  • STEMI ditandai dg adanya Segmen ST elevasi pada EKG dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I. STEMI (ST Elevasi Miokard Infark)
  • NSTEMI ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan peningkatan enzim jantung, CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
  • UAP (unstable Angina Pectoris), ditandai tidak adanya Segmen ST elevasi dan tidak adanya peningkatan enzim jantung, seperti CK, CKMB, dan troponim T atau Troponim I.
Sehingga apabila mengalami gejala jantung koroner seperti di atas sebaiknya segera meminta bantuan pertolongan pertama di unit kesehatan, baik UGD atau prakter dokter lainnya. Acap kali gejala jantung koroner memang mirip dengan gejala maag, dan apabila di biarkan hingga hitungan jam dan hari tidak menutup kemungkinan menjadi ancaman jiwa. Semakin lama terapi emergensi yang diberikan semakin luas pula keparahan dari penyakit tersebut.